Current Issues

Dokter Reisa Ajak Masyarakat Jadikan 2022 Tahun Terakhir Pandemi di Indonesia

Dwiwa

Posted on November 20th 2021


Ilustrasi virus Corona. Pixabay/aalmeidah

Kasus Covid-19 di Indonesia telah membaik dalam beberapa bulan terakhir. Duta Adaptasi Kebiasaan Baru dan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 dr. Reisa Broto Asmoro pun mengajak masyarakat untuk menjadikan 2022 sebagai tahun terakhir pandemi di Indonesia.

Agar upaya ini bisa terwujud, masyarakat diharapkan mendukung percepatan vaksinasi dan turut menekan potensi munculnya gelombang ketiga pada momen libur panjang akhir tahun 2021 mendatang.

Saat ini, salah satu fokus utama pemerintah dalam penanganan Covid-19 adalah percepatan dan pemerataan vaksinasi. Tidak hanya memastikan pasokan vaksin aman, pemerintah juga mendorong masyarakat membantu tercapainya target 70 persen penduduk tervaksinasi pada akhir 2021.

Dalam Keterangan Pers di Istana Kepresidenan yang ditayangkan oleh Media Center Forum Meredeka Barat 9 (FMB 9) – KCPEN secara virtual, Reisa mengungkap tingginya antusiasme masyarakat akan vaksinasi Covid-19 membuat penyuntikan mencapai rata-rata 2 juta dosis per hari.

“Hari ini bahkan sudah lebih dari 220 juta suntikan diberikan kepada masyarakat. Target WHO (Badan Kesehatan Dunia) bahwa 40 persen warga divaksin lengkap di akhir tahun pun sudah dilewati,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (19/11).

Meski begitu, Reisa menekankan bahwa Indonesia masih harus mengejar pemerataan cakupan vaksinasi untuk menjangkau orang yang paling membutuhkan, seperti kelompok lansia, penderita komorbid, penyandang disabilitas, populasi ibu hamil, juga anak-anak.

Dia pun mengajak agar 88 juta orang yang sudah divaksin lengkap memastikan 45 juta orang lainnya yang baru mendapatkan satu dosis vaksin untuk melengkapi vaksinasinya. Selain itu, kedua kelompok yang sudah divaksin juga diharapkan ikut memastikan sekitar 74 juta orang lain yang masuk dalam sasaran tetapi belum divaksin agar segera mendapatkan hak mereka.

“Cuma dengan bersama-sama kita bisa akhiri pandemi ini,” tegas Reisa. Dia menambahkan jika harusnya bukan suntikan booster yang dicari tetapi booster atau alat untuk meningkatkan kekebalan bersama.

Reisa mengatakan, sesuai pesan Menteri Kesehatan, apabila 70 persen dari sasaran vaksinasi sudah mendapat dosis lengkap, maka Indonesia akan mulai memvaksinasi anak 6 sampai dengan 11 tahun.

Selain itu, Reisa juga mengingatkan agar masyarakat hati-hati dalam menyikapi masa liburan Natal dan Tahun Baru. Sebab, periode tersebut berpotensi memicu gelombang ketiga. Dia menambahkan jika sudah terbukti setiap masa libur saat mobilitas masyarakat tidak dibatasi akan berujung pada kenaikan kasus.

Misalnya seperti peningkatan mobilitas dan interaksi yang terjadi pada libur Nataru tahun lalu dan usai lebaran. Dia pun menyebut jika akhir-akhir ini tren serupa juga mulai terlihat. Data Google Mobility Index 15 November menunjukkan kenaikan kegiatan rekreasi atau ke tempat wisata, juga peningkatan kunjungan ke kawasan perumahan.

“Dalam konteks PPKM Level 1, tentunya tidak ada yang salah dengan fakta ini. Namun dalam konteks bahwa virus masih tetap bermutasi, vaksinasi belum 100 persen, dan kemungkinan besar protokol kesehatan diturunkan kedisiplinannya, ini sangat berbahaya,” tegas Reisa.

Apalagi mengingat restoran, tempat wisata dan pemukiman terpantau sebagai lokasi yang paling rendah kepatuhan memakai maskernya. Kehadiran Satgas penegakan prokes dan kesadaran tinggi petugas  di tempat wisata sangat diperlukan untuk memastikan keamanan kegiatan masyarakat, seperti penggunaan aplikasi PeduliLindungi, menjaga agar tidak ada kerumunan, dan menyiapkan petugas untuk mengingatkan penegakan prokes di setiap wahana.

“Ingat adaptasi baru jangan ditinggalkan karena lengah terlena situasi yang membaik,” ujarnya.

Untuk menekan risiko munculnya gelombang ketiga, pemerintah juga berencana akan memberlakukan pengetatan mobilitas. Sejumlah kegiatan diusulkan dilarang pelaksanaannya, yakni acara pegantian tahun baik di luar maupun di dalam ruangan termasuk pesta petasan dan kembang api, pawai arak-arakan di tahun baru, even perayaan Nataru di mal, serta kegiatan  seni budaya dan olahraga

Selain itu, pengetatan dan pengawasan prokes djuga dilakukan di sejumlah destinasi, terutama di gereja pada saat perayaan Natal, tempat perbelanjaan, sekolah, restoran, dan destinasi wisata. Upaya-upaya tersebut diharapkan dapat menekan risiko penularan dan mengoptimalkan perlindungan kesehatan masyarakat sehingga situasi baik saat ini bisa berlanjut di tahun depan.

“2022 adalah tahun ketiga kita berada di masa pandemi. Mari bertekad untuk jadikan ini tahun terakhir kita berada dalam masa wabah raya. Tunjukkan lagi kerjasama yang solid dan gotong royong yang kuat, kekompakan tingkat tinggi, untuk mencegah gelombang ketiga,” ujar dokter Reisa.

“Dengan segenap kemampuan kita, dengan sukses menjadi Presidensi G20, dengan tetap menjadi salah satu tertinggi di dunia dalam memvaksinasi rakyatnya, dengan menjadi salah satu paling disiplin dalam prokes dan terbiasa dengan adaptasi kebiasaan baru, mari kita bersama pulihkan kesehatan dan bangkitkan ekonomi,” pungkasnya.(*)

Artikel Terkait
Current Issues
Ingin Natal dan Tahun Baru Produktif tapi Tetap Aman? Ini Panduan dari Satgas

Current Issues
Vaksin Covid-19 Akan Segera Tersedia untuk Anak di Bawah 12 Tahun

Current Issues
Bagaimana Cara Hidup Berdampingan dengan Virus Corona?