Current Issues

Studi: Waktu Remaja Menatap Layar Selama Pandemi Meningkat Dua Kali Lipat

Dwiwa

Posted on November 2nd 2021

Tidak bisa dipungkiri, teknologi menjadi andalan banyak orang selama pandemi Covid-19 untuk bekerja, sekolah, maupun terhubung dengan orang lain. Tetapi sebuah penelitian baru-baru ini juga menemukan jika waktu remaja bermain gadget meningkat drastis.

Dilansir dari USA Today penelitian yang diterbitkan Senin di JAMA Pediatrics mengungkap jika waktu layar di luar sekolah virtual di kalangan remaja berlipat ganda dari perkiraan pra-pandemi sebesar 3,8 jam per hari menjadi 7,7 jam.

Para peneliti menggunakan data dari studi perkembangan kognitif otak remaja, sebuah studi besar jangka panjang terhadap perkembangan otak yang didanai oleh National Institutes of Health untuk membandingkan 5.412 waktu layar peserta dari 2016 ke waktu layar mereka pada Mei 2020.

Penulis utama studi Dr. Jason Nagata, dokter spesialis anak di University of California, San Francisco mengatakan pada 2016, peserta berusia antara 9 dan 10 tahun. Kemudian selama pandemi, sebagian besar berusia 12 dan 13.

Penelitian yang dipimpin peneliti UCSF menemukan kegiatan rekreasi yang paling umum dilakukan termasuk menonton atau streaming video, film atau acara televizi, gaming multi-pemain atau game solo.

“Estimasi untuk media sosial lebih rendah daripada menonton TV dan film dan itu mungkin mencerminkan rentang usia,” ujar Nagata. “Ketika remaja bertambah umur, penggunaan media sosial (kemungkinan) meningkat.”

Para ahli kesehatan mengatakan waktu layar aktual mungkin lebih tinggi dari apa yang diperkirakan hasil studi. Sebab, peserta diminta untuk melaporkan sendiri dan mungkin telah melaporkan lebih sedikit penggunaan gadget mereka.

Studi ini juga menemukan anak-anak non kulit putih dan mereka yang berasal dari keluarga berpenghasilan rendah lebih banyak bermain gadget dibanding teman-temannya yang kulit putih atau yang kaya.

“Ini mungkin karena kurangnya sumber daya keuangan untuk melakukan kegiatan lain atau kurangnya akses ke luar ruangan yang aman,” kata Nagata.

Para peneliti juga melihat jumlah waktu layar dan kesehatan mental peserta. Mereka menemukan waktu layar yang lebih tinggi dikaitkan dengan kesehatan mental yang lebih buruk dan stres yang dipersepsikan lebih besar. Sementara lebih banyak dukungan sosial dan perilaku untuk menenangkan diri selama stres (coping behaviour) dikaitkan dengan penggunaan waktu layar yang lebih rendah.

“Saat waktu layar meningkat, begitu pula kekhawatiran dan stres remaja, sementara kemampuan menenangkan diri menurun,” ujarnya. “Meskipun sosial media dan panggilan video dapat menciptakan koneksi dan dukungan sosial, kami menemukan jika sebagian besar penggunaan layar remaja selama pandemi tidak dilakukan untuk tujuan ini.”

Waktu layar yang berlebihan tidak hanya dikaitkan dengan kesehatan mental yang buruk, tetapi juga kesehatan fisik yang buruk.

Sebuah studi pada 2020, yang juga dipimpin Nagata dan dipublikasikan di International Journal of Eating Disorders, menghitung rata-rata penggunaan layar sehari-hari dan menemukan setiap jam tambahan waktu layar perhari dikaitkan dengan 1,11 lebih tinggi mengalami gangguan makan yang disebut binge eating disorder.

Setiap jam tambahan untuk akses sosial media, SMS dan menonton atau streaming acara televisi atau film juga secara signifikan terkait dengan binge eating disorder (makan dalam jumlah banyak).

“Remaja yang menghabiskan banyak waktu kurang gerak di depan layar lebih cenderung makan berlebihan,” kata Nagata.

Dr. Paul Weigle, ketua komite media American Academy of Child & Adolescent Pasychiatry mengatakan terlalu lama menatap layar juga dapat berpengaruh pada tidur, waktu makan terstruktur, dan aktivitas fisik yang sangat penting untuk gaya hidup sehat.

Related Articles
Current Issues
Lockdown Berdampak Negatif Pada Kesehatan Mental Remaja, Ada yang Ngalamin?

Current Issues
Jangan cuma Rebahan, Gerak Yuk. Kata WHO, Segini Minimal Waktu Aktivitas Fisik

Current Issues
5 Cara Jitu Cegah Pandemic Fatigue