Interest

Gaya Wisata Ini Bakal Diminati di 2022, Kalian Juga Tertarik?

Dwiwa

Posted on October 30th 2021

Kalau ada kesempatan untuk berpiknik di 2022. Kira-kira jenis wisata apa yang akan kalian kunjungi? Nah, kalau berdasar Survei Adventure Outlook 2022, sekitar 99 persen responden mengungkap keinginannya untuk melakukan perjalanan wisata alam atau petualangan.

Dilansir dari Antara, keinginan itu diikuti dengan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya penerapan CHSE alias clean (bersih), healthy (sehat), safety (aman) dan environtment sustainability (keberlanjutan lingkungan).

Hasil survei yang dilakukan oleh Indonesia Outdoor Festival bersama Kopisetara dan didukung oleh Bank BJB ini menemukan sebanyak 86,2 persen responden memiliki persepsi jika sangat penting untuk diterapkannya CHSE di masa pandemi.

Selain itu, 72,7 persen responden juga menganggap pentingnya operator memperhatikan penerapan bukti vaksin dan disiplin protokol kesehatan.

Menurut Kepala Litbang Arah Kita Media Group yang timnya melakukan survei Adventure Outlook 2022 Heru Prasetya, hasil survei ini dapat menjadi gambaran bagi pelaku industri pariwisata alam dan petualangan untuk lebih memperhatikan konsep-konsep dan kebijakan pemerintah terkait protokol kesehatan dan keamanan serta kenyamanan berwisata di new normal.

Dia menambahkan, sebanyak 58 persen responden menyatakan melakukan perjalanan wisata beberapa kali dalam setahun. Sementara 35 persen responden mengaku berwisata setidaknya sebulan sekali dan 7 persen mengatakan piknik setiap minggu.

Menurut Heru, hasil lain yang ditemukan oleh survei tersebut adalah digitalisasi sangat berperan. Ada 72 persen responden yang mengatur perjalanan sendiri, mulai dari menyusun rencara perjalanan, mencari informasi di mesin pencari, website, serta media sosial operator perjalanan atau aktivitas. Sementara hanya 24 persen yang menggunakan konsultan dan travel agent (campuran keduanya).

Hasil survei juga memperlihatkan jika jenis wisata paling diminati sebagian besar campuran wisata alam, wisata kota.desa, wisata budaya, wisata religi, dan lain-lain. Kemudian campuran wisata alam, wisata kota/desa dan wisata budaya.

Temuan survei ini membuat heru merekomendasikan beberapa hal termasuk agar pemerintah menyiapkan infrastruktur yang memadai mengantisipasi agar destinasi wisata alam misalnya Labuan Bajo tidak menjadi pariwisata masa (mass tourism)  yang berpotensi merusak kelestarian alam.

Pemerintah dan pelaku di sektor wisata juga harus segera berbenah guna mengantisipasi kenaikan arus wisata setelah sempat mati suri selama pandemi Covid-19.

Selain itu, CHSE, bukti vaksin hingga protokol kesehatan dan langkah antisipasi lain disarankan perlu dilakukan secara ketat oleh pengelola/operator wisata seperti yang diharapkan masyarakat agar terhindar dari gelombang ketiga Covid-19.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno sebelumnya menegaskan jika tren pariwisata yang diakibatkan pandemi lebih ke arah personalized yang terkait dengan pengalam dan kenangan, localized atau memberikan dampak positif bagi masyarakat lokal. Kemudian costumized atau wisata minat khusus, dan smaller size yang mengedepankan kualitas (wisatawan) bukan kuantitas.

Sandiaga menambahkan jika pemerintah sudah melakukan persiapan di beberapa bidang, termasuk dari tenaga kerja pariwisata baik dari skill maupun vaksinasi. Selain itu juga komitmen implementasi protokol kesehatan dengan sertifikat CHSE dan aplikasi PeduliLindungi, serta produk wisata berkualitas dengan penawaran aktivitas wisata yang personalized, costumized, localized, dan smaller in size.(*)

Related Articles
Interest
20 Destinasi Wisata Telah Dibuka untuk Uji Coba Protokol Kesehatan, Mana Saja?

Current Issues
Mungkinkah Era Backpacker Akan Berakhir Karena Pandemi Covid-19?

Interest
8 Aktivitas Seru di Chinatown, Kawasan Sejarah Singapura yang Ramah Muslim