Current Issues

Jelang Musim Liburan, Ada Kekhawatiran Terhadap Lonjakan Covid-19

Dwiwa

Posted on October 29th 2021

Kasus Covid-19 di Indonesia mulai mereda dalam beberapa minggu terakhir. Pelonggaran pembatasan pun semakin banyak dilakukan, termasuk di sektor pariwisata. Tetapi jelang musim liburan tampaknya sejumlah pihak khawatir akan terjadinya lonjakan.

Pemerintah sendiri cukup berhati-hati dalam rencana mengizinkan perjalanan dengan memberlakukan sejumlah batasan. Diperkirakan akan ada hampir 20 juta orang yang berlibur di Jawa dan Bali.

Dilansir dari AP, Indonesia telah mengalami peningkatan dramatis dalam mengatasi pandemi Covid-19, tetapi peluncuran vaksinasi tertinggal di belakang sebagian besar negara lain di Asia Tenggara. Para ahli juga mempertanyakan apakah angka resmi mencerminkan kenyataan.

Mereka mengatakan jika ada bukti banyak kasus Covid-19 tidak terdeteksi dan tidak dilaporkan. Ini menunjukkan dibukanya perjalanan secara luas dapat menyebabkan munculnya gelombang baru.

“Ada beberapa kemajuan dalam hal jumlah kasus dan, tentu saja, kematian, tetapi apa yang dilaporkan pemerintah tidak selalu mewakili atau mencerminkan situasi nyata di masyarakat,” ujar Dicky Budiman, ahli epidemiologi dan penasihat akademis untuk pemerintah.

Saat ini, Indonesia sedang dalam masa transisi menjadikan virus corona sebagai penyakit endemik dibanding penyakit yang bisa dihilangkan dari populasi. Penerapan protokol kesehatan menjadi upaya untuk bisa hidup berdampingan dengan Covid-19 agar meminimalkan risiko ledakan kasus lainnya.

Setelah semapt mengizinkan perjalanan akhir tahun, pada Rabu pemerintah membatalkan liburan Malam Natal – yang jatuh pada Jumat tahun ini – sebagai upaya untuk mengurangi liburan. Presiden Joko Widodo juga mendesak pejabat daerah untuk mengatur pengunjung guna meminimalkan kerumunan.

“Kami berharap bisa mengatur Natal dan Tahun Baru dengan baik, karena hampir semua ahli epidemiologi khawatir bahwa pemicu gelombang ketiga bisa terjadi saat Natal dan Tahun Baru,” ujar Jokowi dalam sebuah pernyataan.

Sejauh ini, Indonesia telah melaporkan hampir 4,25 juta kasus dan lebih dari 143 ribu kematian akibat Covid-19. Pada Juli, kasus Covid-19 di Indonesia meningkat tajam hingga membuat rumah sakit kehabisan tempat tidur dan kekurangan pasokan oksigen, rata-rata kematian selama 7 hari melonjak menjadi lebih dari 1.700 pada akhir bulan dan awal Agustus.

Saat keadaan mulai membaik, pemerintah pun mengumumkan pada  akhir Agustus jika beberapa pembatasan dilonggarkan. Pada awal bulan ini, pemerintah melanjutkan rencana untuk membuka kembali Bali bagi turis asing. Sejauh ini tidak ada laporan peningkatan signifikan dalam penyebaran Covid-19.

Tetapi tingkat vaksinasi di Indonesia tergolong rendah jika dibandingkan negara lain di kawasan Asia Tenggara. Ini meningkatkan kekhawatiran kasus baru bisa kembali menyebar dengan cepat dan membuat banyak orang memerlukan perawatan rumah sakit.

Sekitar 25 persen populasi Indonesia yang memenuhi syarat telah divaksinasi lengkap. Angka ini jauh lebih sedikit dibandingkan Malaysia yang sudah mencapai 73 persen, Singapura 80 persen, bahkan Thailand sudah mencapai 41 persen meski peluncuran vaksin sempat terganggu dengan penundaan awal.

Budiman mengatakan jika jumlah kasus sebenarnya juga bisa jauh lebih tinggi dari yang dilaporkan, karena pengujian dan penelusuran yang tidak memadai. Studi menunjukkan banyak kasus tanpa gejala tidak dilaporkan, dan di samping itu, banyak orang diperkirakan melakukan perawatan mandiri di rumah karena tidak ingin pergi ke rumah sakit atau karena penuh.

Sebuah studi tentang antibodi warga Jakarta yang dilakukan pertengahan tahun oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dan lainnya menemukan bahwa hampir setengah dari orang ayng diuji telah terinfeksi Covid-19.

Budiman mengatakan penelitian yang lebih luas menunjukkan bahwa sebanyak 15 persen – beberapa perkiraan lain sampai 29 persen – telah terinfeksi sejak awal pandemi.

“Sekitar 50 persen penduduk kita masih sangat rentan karena tidak memiliki kekebalan, dan kita memiliki masalah dengan vaksin itu sendiri,” ujarnya.

John Fleming, kepala kesehatan Palang Merah untuk Asia-Pasifik mengatakan situasi ini membuat pemerintah harus lebih tegas untuk menegakkan peraturan kesehatan dan keselamatan yang ada dalam upaya menyeimbangkan ekonomi dan mengelola pandemi.

“Sangat penting mempertahankan protokol kesehatan saat pembatasan dilonggarkan, termasuk pengujian tingkat tinggi, pemakaian masker, menjaga jarak fisik, dan tingkat vaksinasi Covid-19 yang lebih cepat untuk mencegah gelombang mematikan veirus ini di masa depan,” ujarnya.(*)

Related Articles
Current Issues
Masihkah Takut Divaksin Jika Seandainya Vaksin Covid-19 Berbentuk Pil?

Current Issues
Mengenal Flurona, Ketika Flu dan Covid-19 Datang Bersama

Current Issues
Kapan Kita Butuh Booster Vaksin Covid-19?