Tech

Punya UKM? Hati-hati Serangan Siber Bisa Rugikan Secara Materi dan Reputasi

Dwiwa

Posted on October 25th 2021

Kemajuan teknologi membuat usaha kecil dan menengah (UKM) semakin menjamur. Banyak anak muda pun kini telah berani mencoba membuka usaha dan memanfaatkan teknologi untuk alat pemasaran. Tetapi perlu diingat, kemudahan teknologi ini juga memiliki ancaman serius berupa serangan siber.

Dilansir The Jakarta Post, sebuah studi baru dari perusahaan teknologi Cisco menunjukkan jika sepertiga UKM Indonesia mengalami serangan siber dalam 12 bulan terakhir. Serangan ini seringkali menyebabkan kerugian pada pendapatan atau bahkan menghancurkan reputasi mereka.

Di antara mereka yang mengalami serangan siber, 43 persen mengatakan mereka kehilangan setidaknya USD 500 ribu dalam pendapatan dan pengeluaran untuk pemulihan. Sementara 12 persen mengatakan mereka kehilangan lebih dari USD 1 juta.

Direktur Cisco Indonesia Marina Kacaribu mengatakan semakin lama waktu yang dibutuhkan sebuah bisnis untuk mendeteksi dan memulihkan serangan siber, semakin parah dampaknya terhadap kinerja operasional dan pendapatan.

Lebih dari 80 persen UKM di Indonesia mengatakan mereka perlu waktu lebih dari satu jam untuk mendeteksi dan mengatasi peretasan. “Untuk beberapa UKM, downtime lebih dari satu jam bisa berarti penutupan bisnis secara permanen,” ujar Marina.

Marina  mengatakan jika penjahat dunia maya biasanya bertujuan untuk mengakses data pelanggan, karyawan, atau keuangan dari bisnis menggunakan teknik malware, phising, dan penolakan layanan (DoS). Malware dan phising umumnya digunakan untuk mencuri data perusahaan, sementara serangan DoS digunakan untuk secara sengaja mengganggu layanan bisnis.

Dia menambahkan jika UKM harus memastikan karyawan mereka bekerja dari koneksi internet yang aman dan menghindari mengklik tautan mencurigakan di email, terutama karena perusahaan mengizinkan orang untuk bekerja dari mana saja.

Kita hidup di dunia yang terhubung secara digital, tidak terkecuali UKM. Semakin mereka terhubung ke internet, semakin tinggi risiko keamanan siber,” ujarnya.

Cisco mensurvei para pemimpin bisnis dan pimpinan IT pada lebih dari 3.700 UKM di 14 pasar di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia, dari April hingga Juli. Hasilnya, 69 persen UKM iNdonesia merasa terkena ancaman siber.

Meskipun angkanya lebih rendah dari 84 persen UKM di Asia Pasifik, hampir semua UKM Indonesia tidak memiliki “teknologi yang tepat” untuk memitigasi serangan siber.

Direktur keamanan siber Cisco ASEAN Juan Huat Koo mengatakan meningkatnya kekhawatiran UKM atas serangan online adalah karena meningkatnya digitalisasi dan fakta bahwa UKM dianggap sebagai target yang lebih lemah dalam keamanan siber dibanding organisasi yang lebih besar.

“Peretas sekarang banyak berfokus pada UKM, karena mereka dapat menggunakan UKM sebagai landasar untuk lingkungnan kritis lainnya,” ujar Ikhsan Ingrabun, ketua Asosiasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah Indonesia (Akumindo). Dia menambahkan jika sebagian besar UKM menganggap infrastruktur IT sebagai kebutuhan sekunder atau bahkan tersier, terutama dalam hal bisnis yang tidak berbasis teknologi.

“Penting bagi UKM dapat menangani ancaman siber, tetapi ini berarti kita perlu berinvestasi lebih banyak (dalam perlindungan IT),” kata Ikhsan. “Tetapi sebenarnya, UKM  lebih suka menyerahkannya pada pemerintah. Jika mereka bisa melindungi kita, itu akan lebih baik.”

Dia menambahkan pemerintah, khususnya Kementerian Komunikasi dan Informatika, harus mampu mengantisipasi serangan siber sebelum terjadi serta menetapkan aturan untuk menghukum pelaku kejahatan.

Namun, pemerintah sendiri telah mengalami serangan siber yang membuat banyak situs dan platform dilaporkan diretas. Hal yang sama berlaku untuk perusahaan besar, seperti platform e-commerce Tokopedia dan Bhinneka dan platform fintek Cermati, semuanya menunjukkan kegagalan dalam upaya negara untuk melindungi data pribadi.

Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat bahwa Indonesia telah melaporkan 888 juta serangan siber pada periode Januari-Agustus, meningkat eksponensial dari 189 juta upaya dibandingkan periode yang sama tahun lalu. (*)

 

Artikel Terkait
Tech
Mengapa Banyak Orang Terjerat Penipuan Online?

Interest
Serangan Ransomware Meningkat, Penyerang Makin Berani Minta Tebusan

Tech
Data 15 Juta Pengguna Tokopedia Diretas! Gak Perlu Panik, Lakukan 3 Hal Ini