Current Issues

Apa Itu COP26 dan Mengapa Hal Tersebut Penting Bagi Seluruh Negara?

Jingga Irawan

Posted on October 25th 2021

Credit: CNET

Laporan terbaru milik Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim menunjukkan bahwa krisis iklim semakin memburuk.  Para ilmuwan menyimpulkan kalau suhu global bisa naik 1,5 derajat Celcius dalam beberapa dekade mendatang dan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan manusia jelas menjadi penyebabnya.

Peningkatan suhu bakal membuat peristiwa cuaca ekstrem, angin topan, banjir, kebakaran, kekeringan lebih sering terjadi. Kondisi itu juga bisa mengakibatkan sejumlah efek tak terduga yang mengancam ekosistem hingga mata pencaharian. Tapi, laporan itu menunjukkan masih ada harapan untuk berubah.

Jika negara-negara mengambil langkah serius untuk mengurangi bahan bakar fosil, mengatasi limbah, mengurangi kerusakan hutan dalam dekade mendatang, kemungkinan kita bisa menjaga suhu agar nggak melonjak.

Itulah sebabnya Konferensi Perubahan Iklim PBB bulan November, atau disebut COP26, dipuji sebagai kesempatan terakhir plus terbaik di dunia untuk mengendalikan kondisi darurat iklim. Tujuannya agar memastikan perubahan suhu tetap jauh di bawah 2 derajat Celcius, yang sebelumnya disepakati oleh Perjanjian Paris pada tahun 2015.

Nah, biar kalian nggak bingung, Mainmain jelaskan beberapa poin besar tentang konferensi tersebut:

Apa itu COP26?

Singkatnya, COP26 adalah konferensi iklim terbesar dan terpenting di planet ini. Sejak 1995, PBB telah mengadakan pertemuan yang dihadiri oleh perwakilan dari hampir semua negara di Bumi. Di situ, politisi dan pembuat kebijakan berkumpul untuk membahas target iklim dan kemajuan dalam pengurangan emisi.

Pertemuannya secara resmi dikenal sebagai "Conference of the Parties,” atau pertemuan banyak pihak. Pertemuan ini mendatangkan 190 lebih negara PBB yang telah menandatangani Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) pada tahun 1992.

Pada 1997, sebelum ada Perjanjian Paris, ada perjanjian pertama di dunia yang bertujuan mengurangi emisi gas rumah kaca, disebut Protokol Kyoto. Tetapi AS nggak menandatanganinya, karena protokol itu juga nggak mencakup negara-negara seperti Tiongkok dan India. Padahal, mereka juga berkontribusi besar dalam menyumbang emisi gas rumah kaca. Tebak apa? Yap! Protokol Kyoto gagal menurunkan emisi gas rumah kaca.

So, perjanjian perubahan iklim yang paling penting saat ini adalah Perjanjian Paris. Ini menjadi pijakan pembahasan di COP26.

Kapan COP26?

COP26 awalnya dijadwalkan pada November 2020 tetapi Pandemi Covid-19 memaksa penjadwalan ulang. Sekarang, pertemuan itu bakal diadakan mulai dari 31 Oktober hingga 12 November 2021, di Glasgow, Skotlandia.

Inggris bermitra dengan Italia untuk memimpin COP kali ini dan berkesempatan untuk menjadi tuan rumah. Sementara COP26 akan berlangsung seluruhnya di Glasgow, Pra-COP sudah digelar di Milan, Italia, dari 30 September hingga 2 Oktober lalu.

Pra-COP adalah pertemuan sebelum semua negara berkumpul di bulan November dan menampilkan perwakilan dari banyak negara, biasanya menteri iklim, lingkungan atau energi. Pada pertemuan tersebut, para delegasi terlibat dalam diskusi untuk membantu menyempurnakan dan menetapkan agenda COP26. Greta Thunberg, aktivis muda yang melawan perubahan iklim, juga hadir lho di pertemuan ini.

Dari tadi disebut-sebut Perjanjian Paris, Apa sih Itu?

Perjanjian Paris akan menjadi dasar diskusi di COP26. Untuk memahaminya, kita perlu flashback ke COP21 yang digelar Desember 2015.

COP ke-21, berlangsung di ibu kota Prancis, dihadiri oleh 196 negara yang menandatangani Kesepakatan Iklim Paris, atau sederhananya Perjanjian Paris. Perjanjian ini mengikat secara hukum untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5 atau "jauh di bawah 2 derajat Celcius" pada 2100.

Untuk mencapai tujuan itu, perjanjian meminta negara-negara menekan emisi gas rumah kaca mereka sesegera mungkin dan mencapai emisi "zero-emissions" pada paruh kedua abad ini. Negara-negara yang menandatangani perjanjian Paris menyetujui target pengurangan emisi yang dikenal sebagai "National Determined Contribution,” atau NDC.

Target-target ini nggak ditetapkan PBB lho gengs, tapi oleh negara-negara itu sendiri. Nah, mereka mendiskusikan ini di COP. Terkadang, ada negara-negara yang mengumumkan target mereka lebih ambisius.

"Setiap lima tahun, negara-negara diminta untuk memperbarui NDC ini dan tak hanya memperbaruinya, tetapi juga membuatnya semakin ambisius," kata Malte Meinshausen, ilmuwan lingkungan di University of Melbourne, Australia.

Tahun lalu adalah akhir dari siklus lima tahun pertama. Jadi, negara-negara diharapkan memperbarui NDC mereka sebagai persiapan untuk COP26. Pada dasarnya negara-negara akan mengajukan NDC baru untuk tahun 2025 dan 2030.

Kurang dari satu bulan COP26 digelar, Climate Action Tracker menunjukkan 89 negara telah memperbarui NDC mereka dan 71 belum. Dari 89, Australia, Rusia dan Selandia Baru, NDC-nya masih belum ambisius.

Intinya, Perjanjian Paris mendorong megara mengurangi perubahan iklim. Namun dalam lima tahun terakhir, seiring semakin banyaknya ilmu dan penelitian terkait perubahan iklim, NDC dan target yang ditetapkan sebagian besar negara untuk tahun 2030 nggak mencukupi target kita untuk menjaga peningkatan pemanasan "jauh di bawah 2 derajat Celcius."

Mengapa 1,5 dan 2 derajat?

Gagasan untuk membatasi pemanasan hingga 1,5 derajat Celcius dilontarkan pada COP16, yang berlangsung di Cancun, Meksiko pada 2010. Itu bukan angka yang dipilih sembarangan ya gengs.

"Satu setengah derajat dipilih untuk, alasan ilmiah dan alasan praktis," kata ilmuwan iklim perintis Michael Oppenheimer selama pengarahan baru-baru ini oleh Covering Climate Now.

Tetapi sejak Perjanjian Paris, angka-angka tersebut telah mencapai tingkat urgensi baru karena ilmu tentang perubahan iklim baru menguat dalam enam tahun terakhir.

Sebagian besar ilmu pengetahuan digabungkan dalam Laporan Khusus IPCC tentang Pemanasan Global 1,5 derajat Celcius yang dirilis pada 2018. Laporan ini membahas hal-hal kecil tentang bagaimana pemanasan 1,5 derajat dan 2 derajat Celcius akan mempengaruhi planet ini. Selain itu laporan ini juga menyatakan kalau pemanasan global kemungkinan akan mencapai 1,5 derajat Celcius antara tahun 2030 dan 2052.

Studi lebih lanjut juga menunjukkan situasi lebih serius. Dalam laporan terbaru yang disiapkan oleh IPCC, para ilmuwan menunjukkan bahwa Bumi telah menghangat sekitar 1,1 derajat Celcius dibandingkan dengan masa pra-industri (sekitar abad ke-18).

Laporan tersebut berpendapat kalau kita kemungkinan bisa mencapai 1,5 derajat Celcius sebelum 2100. Namun, dengan tindakan serius dan berkelanjutan untuk mengurangi emisi karbon, kita dapat menyeret suhu rata-rata global di bawah 1,5 pada akhir abad ini.

Dalam laporan IPCC baru-baru ini, penulis menyatakan kalau setiap kenaikan setengah derajat kemungkinan besar akan mengakibatkan naiknya gelombang panas, curah hujan, dan kekeringan. Sehingga, menghindari dampak terburuk dari krisis iklim mengharuskan semua negara yang terlibat Perjanjian Paris mengurangi emisi karbon dengan cepat dan diharapkan COP26 bisa memperkuat komitmennya.(*)

 

Related Articles
Current Issues
Greta Thunberg Kecam KTT Iklim COP26, Sebut Acara Itu Sia-Sia

Interest
Separuh Sampah Plastik Sekali Pakai di Dunia Berasal dari 20 Perusahaan

Current Issues
Perjanjian Atasi Krisis Iklim Tercapai di COP26, Tetapi Dinilai Kurang Tegas