Entertainment

Nostalgia Alex Turner dalam Album Terbaru Arctic Monkeys

Fidya Citra

Posted on May 21st 2018

Saat merayakan ulang tahunnya yang ke-30 Alex Turner mendapatkan hadiah sebuah piano Steinway Vertegrand dari managernya. Kehadiran piano ini lah yang membukakan pintu ide album Tranquility Base Hotel & Casino.

Alex Turner memang sudah akrab dengan piano sejak kecil. Sosok dengan nama lengkap Alexander David Turner mengikuti les piano sebelum akhirnya berhenti karena di ulang tahunnya yang ke-9 orang tuanya menghadiahinya sebuah gitar. Album ini menjadi pembuktian bahwa ungkapan “Cinta pertama nggak akan kemana-mana” benar adanya, karena Turner akhirnya kembali ke instrumen pertama, cinta pertamanya pada musik, piano.

Memiliki seorang Ayah pemain saxophone, trumpet, dan piano dalam sebuah grup band jazz banyak mengilhaminya. Ketika pada tahun 2016 Turner mulai menyusun lagu demi lagu di album Tranquility Base Hotel & Casino, sosok Ayahnya, David Turner semakin sering mampir di kepala.

Alex Turner dalam wawancaranya dengan intro bahkan mengatakan, “Beberapa bagian dari suara piano mengingatkanku sewaktu kecil berada di ruangan sebelah saat ayahku memainkan (piano) nya,” ujarnya.

Berperan sebagai produser, Alex Turner memastikan bahwa album ini tidak akan seperti yang orang bayangkan. Rasanya pernyataan Turner tersebut tidak berlebihan karena memang sebelas lagu yang disajikan dalam Tranquility Base Hotel & Casino cukup berbeda dari kelima album sebelumnya. Apalagi, disandingkan dengan album terakhir mereka yang berhasil memenangkan Brit Award sebagai album of the year, AM (2013) yang terdengar begitu rock n’ roll. Sementara album ini terdengar seperti tribute kepada musik lounge modern dengan sedikit bumbu jazz.

Nama “Tranquility Base” dalam tajuk Tranquility Base Hotel & Casino berasal dari nama spot landing yang disematkan Armstrong saat pertama kali mendaratkan diri di bulan. Bisa dikatakan Arctic Monkeys ingin ber-statement sejak awal, bahwa album ini merupakan lompatan terbesar dalam kehidupan manusia. Atau mungkin juga Arctic Monkeys ingin kembali mengingat-ingat masa jaya manusia yang baru pertama kali mendaratkan diri di luar angkasa.

Album Tranquility Base Hotel & Casino kenyataannya tidak hanya mendongengkan nostalgia masa lalu lewat pilihan nama Tranquility yang digunakan, atau lewat instrumen yang Alex Turner pilih. Namun, keseluruhan lirik album seakan ingin membawa kita merindukan kembali ke masa-masa indah sebelum teknologi menguasai.

Lewat lirik-liriknya seperti dalam lagu berjudul Batphone “Have I told you all about the time that I got sucked into a hole / through a hand held device?”, atau dalam lagu Science Fiction “The rise of the machines / I’ve got the world on a wire in my little mirror mirror on the wall / In the pocket of my raincoat”, Alex Turner ingin menunjukkan seberapa dalam teknologi telah menghisap kita.

Memang album ini tidak akan memberikan kesan mendalam bagi para penggemar Arctic yang lahir bersama album AM (2013). Tetapi, sudah pasti album ini akan betah berlama-lama singgah di hati para penikmat karya Alex Turner, yang sebelumnya sudah larut dalam projectnya seperti The Last Shadow Puppet, dan soundtrack film Submarine. Egois memang, ketika membahas sebuah band dengan nama perseorangan saja, tapi bukannya album ini memang nostalgia Alex Turner? (*)

Related Articles
Entertainment
Lady Gaga Bocorkan Tracklist 'Chromatica’. Ada Duet Bareng BLACKPINK

Entertainment
Bersama The Aubreys, Finn Wolfhard 'Stranger Things' Rilis EP Baru 'Soda & Pie'

Entertainment
Kolaborasi dengan Erix Soekamti, Pee Wee Gaskins Rilis Album 'Mixed Feeling'