Interest

Bagaimana Perubahan Iklim Merusak Kesehatan Kita?

Dwiwa

Posted on October 23rd 2021

Saat berbicara perubahan iklim, orang selalu membayangkan dampak jangka panjang terhadap generasi mendatang. Tetapi sebuah laporan terbaru menunjukkan jika perubahan iklim telah merusak kesehatan dasar dan kesejahteraan kita.

“Tidak ada kenaikan suhu global yang aman dari perspektif kesehatan, dan pemanasan tambahan akan memengaruhi setiap wilayah AS,” menurut laporan yang diterbitkan oleh jurnal medis The Lancet seperti dilansir dari CBS News. “... Kita semua pernah atau mungkin akan terpengaruh oleh perubahan iklim, dengan beberapa bahaya yang lebih mudah dikenali daripada yang lain.”

Kekeringan, panas ekstrim, dan kebakaran hutan adalah salah satu ancaman yang paling terlihat dan dibahas secara luas. Hal ini karena dapat menyebabkan kehancuran langsung dan memicu implikasi di masa depan, seperti naiknya permukaan laut.

“Perubahan iklim membuat masalah yang ada menjadi lebih buruk karena peristiwa terkait iklim berinteraksi dengan pemicu stres lain untuk mengancam kehidupan, merusak kesehatan populasi, dan menekan sistem kesehatan,” jelas laporan itu.

Efek langsung dari peristiwa cuaca ini sangat drastis dan berbahaya. Tetapi juga ada dampak yang lebih halus akibat peristiwa ini yang menyebabkan korban serius dan tidak proporsional pada kesehatan manusia.

 

Panas Ekstrem

Manusia telah menyebabkan bumi memanas rata-rata 1,1 derajat Celcius dibandingkan tingkat pra-industri. Jika pemanasan terus berlanjut, periode panas ekstrem hanya akan meluas. Tetapi jangan berpikir ini hanya tentang cuaca panas dan musim panas lebih lama. Ada efek kesehatan yang tidak kentara dari panas ekstrem yang mungkin memburuk.

Laporan tersebut menunjukkan paparan panas berkepanjangan dapat menyebabkan heat stroke dan berdampak pada paru-paru, ginjal, dan jantung. Ini juga menyebabkan menurunnya kualitas tidur dan kesehatan mental, bahkan meningkatkan tingkat bunuh diri dan kejahatan.

Sebuah laporan terpisah lain yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences awal bulan ini menemukan paparan panas lebih intens di area yang mengalami efek pulau panas perkotaan, situasi dimana kota memiliki sejumlah besar trotoar, bangunan, dan permukaan lain yang mempertahankan panas.

Di AS, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) melaporkan rata-rata 702 orang meninggal dan 9.235 orang dirawat di rumah sakit karena panas ekstrem. Orang yang hamil, memiliki kondisi jantung atau paru-paru, anak kecil, lansia, atlet, dan pekerja luar ruangan lebih rentan terhadap efek panas yang kestrim.

Sebuah penelitian yang dirilis awal tahun ini bahkan mengungkap jika lebih dari sepertia kematian akibat panas dunia setiap tahun disebabkan langsung oleh pemanasan global.

 

Kekeringan

Laporan yang dipublikasikan di The Lancet itu juga menjelaskan kekeringan telah membatasi ketersediaan air untuk bisnis dan pertanian,. Termasuk juga mengurangi ketinggian air di tempat-tempat alami, sumur, dan akuifer.

Tanpa curah hujan yang cukup, ganggang beracun berkembang biak di persediaan air dan udara jadi lebih berdebu karena tanah kering. Kekeringan juga memperburuk gelombang panas dan kebakaran hutan yang berdampak pada kesehatan manusia.

Laporan The Lancet mengatakan lingkungan yang seperti ini akan membuat orang yang tinggal di wilayah tersebut lebih berisiko terkena heat stroke dan komplikasi yang berkaitan dengan jantung, paru-paru, dan ginjal.

 

Kebakaran hutan

Dipicu oleh kekeringan dan panas ekstrem, yang diperburuk oleh perubahan iklim, kebakaran hutan menyebabkan kondisi berbahaya untuk orang di seluruh dunia. Tahun lalu, di AS terjadi rekor kebakaran hutan dan musim seperti itu diprediksi akan semakin panjang jika pemanasan global terus berlangsung.

Kebakaran hutan merusak pertanian dan memaksa orang meninggalkan rumah. Tetapi selain itu, asap yang ditimbulkan mungkin lebih berbahaya. Menurut laporan The Lancet, asap mengandung polutan berbahaya, yang menyebabkan peningkatan gangguan pernapasan, risiko jantung dan paru-paru, kematian dini dan kelahiran prematur serta memperburuk kesehatan mental. Dan efek dari asap ini bisa meluas keluar dari area dalam jalur kebakaran.

 

Banyaknya risiko kesehatan yang diakibatkan oleh perubahan iklum membuat dorongan untuk perubahan digaungkan banyak pihak. Sebab, krisis iklim yang memburuk berarti kesehatan juga menurun.

Laporan di The Lancet itu pun merekomendasikan agar pemerintah dengan cepat mengurangi emisi gas rumah kaca mereka pada 2030 untuk mencegah hasil kesehatan terburuk akibat perubahan iklim. Jurnal tersebut juga merekomendasikan agar pemerintah meningkatkan pendanaan untuk perlindungan kesehatan dan mempertimbangkan biaya kesehatan terkait bahan bakar fosil saat menimbang kebijakan.

Awal bulan ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah memperingatkan bahwa perubahan iklim adalah ancaman kesehatan terbesar yang dihadapi umat manusia.

“Pilihan tidak berkelanjutan yang sama yang membunuh planet kita juga membunuh manusia,” ujar Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. “WHO menyerukan kepada semua negara untuk berkomitmen pada tindakan tegas di COP26 untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat Celcius – bukan hanya karena itu hal yang benar untuk dilakukan, tetapi juga karena kepentingan kita sendiri," imbuh Adhanom.(*)

Artikel Terkait
Interest
Perubahan Iklim Bawa Ancaman Kesehatan yang Lebih Mengerikan dari Covid-19

Interest
Studi: Perubahan Iklim Bisa Perburuk Alergi

Current Issues
Studi Kaitkan Bahaya Iklim dengan 58 Persen Penyakit Menular Pada Manusia