Current Issues

Virus Covid-19 Mempengaruhi Otak hingga Cara Kerjanya Melambat. Benarkah?

Dwiwa

Posted on October 15th 2021

Pandemi Covid-19 telah berlangsung selama hampir dua tahun. Selama itu pula, para peneliti terus mengumpulkan temuan-temuan baru tentang efek Covid-19 pada tubuh dan otak. Dan temuan terbaru meningkatkan kekhawatiran tentang dampak jangka panjang virus corona pada proses biologis seperti penuaan.

Dilansir dari Eat This, Not That!,  ahli saraf kognitif Jessica Bernard, profesor muda di Texas A&M University menjelaskan tentang kemungkinan pengaruh Covid-19 terhadap otak orang yang terinfeksi.

Dia mengungkap jika sebuah studi pendahuluan berskala besar yang menyelidiki perubahan otak pada penyintas Covid-19 yang dirilis Agustus 2021 menemukan adanya perbedaan mencolok dalam materi abu-abu otak – yang terdiri dari badan sel neuron yang memproses informasi di otak – antara mereka yang pernah terinfeksi Covid-19 dan yang tidak.

Secara khusus, ketebalan jariangan materi abu-abu di daerah otak yang dikenal sebagai lobus frontal dan temporal berkurang pada kelompok Covid-19. Itu berbeda dari pola khas yang terlihat pada kelompok yang tidak mengalami Covid-19.

Pada populasi umum, normal untuk melihat adanya perubahan volume atau ketebalan materi abu-abu dari waktu ke waktu seiring bertambahnya usia. Tetapi perubahan lebih besar dari normal terjadi pada mereka yang pernah terpapar Covid-19.

Menariknya, ketika para peneliti memisahkan individu yang memiliki penyakit parah sampai harus rawat inap, hasilnya sama dengan yang mengalami Covid-19 lebih ringan. Artinya, orang yang telah terinfeksi Covid-19 menunjukkan kehilangan volume otak bahkan ketika penyakitnya tidak cukup parah.

Kemudian saat para peneliti menyelidiki perubahan kinerja pada tugas-tugas kognitif, mereka menemukan bahwa individu yang pernah tertular Covid-19 lebih lambat dalam memproses informasi dibandingkan yang tidak.

“Temuan ini harus kita artikan dengan hati-hati sambil menunggu tinjauan formal rekan sejawat. Tetapi sampel besar, data sebelum dan seduah sakit pada orang yang sama dan pencocokan yang cermat dengan orang yang tidak terkena Covid-19 membuat studi awal ini sangat berharga,” tulis Bernard.

Sebuah studi lain yang dilakukan peneliti Inggris menemukan jika daerah otak yang terdampak Covid-19 semuanya terkait dengan bulbus olfaktorius, sebuah struktur di dekat bagian depan otak yang meneruskan sinyal tentang bau dari hidung ke daerah otak lainnya. Ini mungkin menjelaskan mengapa orang yang terpapar Covid-19 mengalami kehilangan indera penciuman dan perasa.

Bulbus olfaktorius memiliki koneksi ke daerah lobus temporal yang sering dikaitkan dengan penuaan dan penyakit Alzheimer karena merupakan tempat hipokampus. Hipokampus mungkin memiliki peran kunci dalam penuaan mengingat keterlibatannya dalam memori dan proses kognitif.

“Masih terlalu dini untuk menyimpulkan dampak jangka panjang dari perubahan terkaita Covid-19. Tetapi menyelidiki kemungkinan hubungan antara perubahan otak terkait Covid-19 dan memori sangat menarik – terutama mengingat daerah yang terlibat dan pentingnya mereka dalam memori dan penyakit Alzheimer,” tulis Bernard. (*)

 

Related Articles
Current Issues
Studi: Antibodi Covid-19 Bisa Bertahan 10 Bulan dalam Tubuh Usai Terinfeksi

Current Issues
Penyintas Covid-19 Alami Masalah Kognitif Berbulan-Bulan Setelah Sembuh

Current Issues
Studi: Suntikan Vaksin Covid-19 untuk Penyintas Hasilkan Kekebalan Tinggi