Current Issues

‘Eco-anxiety’, Ketakutan Kerusakan Lingkungan yang Bebani Kaum Muda

Jingga Irawan

Posted on October 15th 2021


Gambar: Getty Images

Seberapa sering kalian mendengar teman dan orang terdekat menyalahkan pemanasan global dan perubahan iklim saat melihat peristiwa kebakaran hutan atau banjir bandang?

Karena menurut The Guardian, krisis iklim semakin besar menarget kesehatan mental anak-anak dan remaja. Para ahli juga memperingatkan naiknya tingkat Eco-anxiety —ketakutan kronis akan kehancuran lingkungan— yang kemungkinan akan semakin diremehkan dan merusak banyak orang dalam jangka panjang.

Studi yang ditulis oleh Mala Rao dan Richard Powell, dari Departemen Perawatan Primer dan Kesehatan Masyarakat Imperial College London, di British Medical Journal, menyebut bahwa kecemasan lingkungan berisiko memperburuk kesehatan dan ketidaksetaraan sosial antara mereka yang kurang lebih rentan terhadap dampak psikologis ini.

Meskipun belum dianggap sebagai kondisi yang dapat didiagnosis, pengakuan terhadap kecemasan lingkungan dan efek psikologis kompleksnya akan terus meningkat. Seperti halnya dampak "tidak proporsional" pada anak-anak dan remaja.

Dalam artikel tersebut, keduanya merujuk pada survei tahun 2020 terhadap psikiater anak di Inggris yang menunjukkan bahwa lebih dari setengah (57 persen) melihat anak-anak dan remaja tertekan terhadap krisis iklim dan keadaan lingkungan.

Sebuah survei internasional baru-baru ini tentang kecemasan iklim pada kaum muda berusia 16 hingga 25 tahun juga menunjukkan bahwa beban psikologis dari krisis iklim “sangat mempengaruhi sejumlah besar kaum muda ini di seluruh dunia.”

Rao dan Powell meminta para pemimpin global untuk, "mengakui tantangan di depan, kebutuhan untuk bertindak sekarang, dan komitmen yang diperlukan untuk menciptakan jalan menuju masa depan yang lebih bahagia dan lebih sehat, tanpa melupakan kalangan tertentu.”

Penelitian ini juga menjelaskan wawasan tentang bagaimana emosi anak muda dikaitkan dengan perasaan diabaikan oleh pemerintah dan orang dewasa. Pemerintah dipandang gagal untuk merespons secara memadai, meninggalkan kaum muda dengan kondisi masa depan yang tak pasti dan bayang-bayang kehancuran lingkungan.

Tulisan itu muncul seminggu setelah Greta Thunberg mengecam para pemimpin global, menolak janji mereka untuk mengatasi darurat iklim. Greta menyebut bahwa tindakan para pemimpin tak ada kemajuan sama sekali.

There is no planet B, there is no planet Blah, Blah, Blah, Blah, Blah, Net Zero by 2050 Blah, Blah, Blah, Net Zero, Bla, Blah, Blah, Climate Neutral Blah, Blah, Blah, ini lah yang kita dengar dari pemimpin kita. Hanya kata-kata, kata-kata yang kedengarannya keren tapi nggak ada aksi apa pun,” ucap Greta lantang di UN Climate Change Pre-Conference Italy 2021.

Menurut PBB, pada tahun 2030, emisi karbon diperkirakan akan meningkat sebesar 16 persen, daripada turun setengahnya, yang merupakan tujuan pengurangan untuk menjaga pemanasan global di bawah batas 1,5C yang telah disepakati secara internasional.

Sementara itu, Rao dan Powell juga mengatakan penting untuk mempertimbangkan apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi meningkatnya tingkat kecemasan iklim.

"Peluang terbaik untuk meningkatkan optimisme dan harapan di kalangan muda dan tua yang peduli lingkungan adalah memastikan mereka memiliki akses ke informasi terbaik dan paling dapat diandalkan tentang mitigasi dan adaptasi iklim," kata mereka.

"Yang paling penting adalah informasi tentang bagaimana mereka dapat terhubung lebih kuat dengan alam, berkontribusi pada pilihan yang lebih hijau di tingkat individu, dan bergabung dengan komunitas dan kelompok yang berpikiran sama.”

Secara terpisah, penelitian baru yang juga diterbitkan di BMJ menunjukkan bahwa mengubah perilaku tak sehat dapat menjadi kunci untuk mencapai pengurangan emisi gas rumah kaca pada tahun 2050.

Theresa Marteau, dari Universitas Cambridge, mengatakan inovasi teknologi saja tak akan cukup. Mengadopsi sebagian besar pola makan nabati dan melakukan sebagian besar perjalanan menggunakan kombinasi berjalan kaki, bersepeda, dan transportasi umum akan secara substansial mengurangi emisi gas rumah kaca dan meningkatkan kesehatan, menurutnya.(*)

Related Articles
Current Issues
Perubahan Iklim Sebabkan Dua Pulau Di Sumsel Tenggelam

Current Issues
Prancis Punya Kebijakan Transportasi Ramah Lingkungan Paling Kreatif, Apa Saja?

Tech
Google Rilis Rangkaian Fitur Baru, Ajak Pengguna Berperan Atasi Perubahan Iklim