Current Issues

Begini Loh Cara Antibodi Covid-19 Kita Beradaptasi dari Waktu ke Waktu

Dwiwa

Posted on October 3rd 2021

Virus corona yang menyebabkan Covid-19 dapat bermutasi dan berubah. Begitu pula dengan antibodi kita. Dari waktu ke waktu, antibodi kita beradaptasi dan menciptakan “perlombaan senjata” antara sistem kekebalan dan varian virus.

Dilansir Business Insider, Profesor Paul Bieniasz, ahli virologi di Universitas Rockefeller, mengatakan bahwa antibodi yang diproduksi oleh tubuh setelah infeksi atau vaksin dapat beradaptasi dari waktu ke waktu, mengenali varian dan mengikat lebih kuat pada virus.

Dia menjelaskan antibodi ini dapat dimanipulasi oleh suntikan booster Covid-19. Fungsinya adalah untuk membantu tubuh kita melawan varian atau virus corona baru yang muncul.

“Entah itu infeksi maupun vaksinasi dalam bentuk dua suntikan saat ini belum memaksimalkan kapasitas sistem kekebalan untuk menangani varian," kata Bieniasz. "Ada banyak kapasitas tambahan di sana, yang dapat kita manfaatkan dengan menggunakan dosis booster atau dengan memodifikasi rejimen vaksin mRNA menjadi tiga dosis, seperti banyak vaksin virus lainnya."

Bieniasz mengatakan bahwa selama beberapa bulan, antibodi dapat berevolusi untuk mengenali varian yang seharusnya resisten. Antibodi yang ada beberapa bulan setelah infeksi atau vaksinasi juga mengikat lebih erat pada virus penyebab Covid-19 daripada satu bulan setelahnya. Dia mengutip penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Immunity and Nature dua bulan lalu.

Dia juga menjelaskan jika seiring waktu, jumlah total antibodi berkurang - tetapi kualitasnya menjadi lebih baik karena mereka beradaptasi.

Profesor John Wherry, direktur Institute for Immunology di University of Pennsylvania, mengatakan bahwa ada dua jenis antibodi. Pertama, antibodi "darurat" yang diproduksi dengan cepat, dan kedua, antibodi yang berkembang dalam jangka waktu yang lebih lama di kelenjar getah bening.

"Apa yang kita lihat dalam darah adalah campuran antibodi yang dibuat dengan cepat sebagai bagian dari rencana darurat awal tubuh dan 'yang lebih baik' yang keluar dari kelenjar getah bening," katanya kepada Insider.

Bienasz mengatakan bahwa jika dosis vaksin diberikan "beberapa bulan setelah" vaksinasi awal atau infeksi, itu dapat memperkuat antibodi "yang lebih baik" ini, memungkinkan mereka untuk menjadi "lebih bervariasi."

Hanya mengandalkan hasil uji klinis yang ada untuk memutuskan kebijakan tidak akan berhasil, katanya. Kita juga harus memperhitungkan bagaimana sistem kekebalan kita beradaptasi, dan mempersiapkannya untuk masa depan.

"Ini adalah perlombaan senjata evolusioner, sistem kekebalan kita melawan virus," katanya. "Kita harus mencoba berpikir selangkah lebih maju dari virus, bukan selangkah di belakang."

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) merekomendasikan pada Kamis bahwa orang Amerika yang divaksinasi penuh di atas 65 tahun, petugas kesehatan, atau mereka yang memiliki kondisi kesehatan yang mendasarinya harus mendapatkan suntikan penguat COVID-19 enam bulan setelah mereka sepenuhnya divaksinasi.

Wherry mengatakan bahwa kita belum mengetahui tingkat antibodi yang dibutuhkan untuk memberikan perlindungan. Menurutnya, enam bulan adalah waktu yang "hampir benar". Jika jarak awal vaksin dan booster lebih pendek dia justru merasa khawatir.

"Kalian dapat membayangkan respon imun sedikit seperti olahraga, sistem kekebalan perlu pulih di antara pemberian dosis" katanya. "Jika kalian berolahraga dan beristirahat di antaranya, kalian telah meningkatkan kemampuan dibanding berolahraga sangat keras setiap hari." (*)

 

Related Articles
Current Issues
Studi: Vaksin Covid-19 AstraZeneca dan Pfizer Aman Dikombinasikan

Current Issues
WHO Rekomendasikan Orang dengan Gangguan Imun Mendapat Booster Vaksin Covid-19

Current Issues
Kenapa Ada Orang yang Merasakan Efek Samping Vaksin, dan Ada yang Tidak?