Current Issues

Sekolah di AS Lakukan Pendekatan Pengujian Covid-19 Baru untuk Siswa

Dwiwa

Posted on September 20th 2021

Banyak sekolah di Amerika Serikat yang terpaksa harus kembali ditutup setelah sebagian siswanya dinyatakan positif virus corona. Sementara ribuan lainnya ditandai sebagai kontak dekat dan harus menjalani karantina di rumah selama 7-10 hari.

Hal ini membuat sejumlah sekolah di Amerika Serikat mencoba mencari pendekatan berbeda agar siswanya bisa tetap bersekolah. Caranya adalah dengan melakukan pengujian Covid-19 setiap hari selama tujuh hari bagi kontak dekat yang tidak bergejala dan hasilnya harus negatif.

Dilansir dari The New York Times, pendekatan ini –yang kadang-kadang dikenal sebagai “tes untuk tinggal” atau memodifikasi karantina– memungkinkan siswa yang telah terpapar virus untuk tetap di sekolah selama mereka menjalani tes Covid, yang biasanya disediakan oleh sekolah, dan mematuhi tindakan pencegahan lain.

Para ahli sepakat bahwa anak-anak yang terinfeksi virus harus mengisolasi diri di rumah. Tetapi apa yang harus dilakukan oleh teman-teman sekelas mereka telah menimbulkan dilema.

Mengizinkan anak-anak yang telah terpapar virus untuk tetap di skeolah memang menimbulkan risiko transmisi potensial, dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengatakan bahwa itu tidak memiliki cukup bukti untuk mendukung pendekatan.

Sebaliknya, mereka merekomendasikan kontak dekat yang belum divaksinasi penuh untuk menjalani karantina selama 14 hari. Sedangkan kontak dekat yang divaksinasi dapat tetap di kelas selama mereka tidak bergejala. Dengan tetap menggunakan masker, sesuai dengan pedoman sekolah dari agensi.

“Pada saat ini, kami tidak merekomendasikan atau mendukung program uji untuk tinggal,” kata CDC dalam sebuah pernyataan ke New York Times. “Meski begitu, kami sedang bekerja bersama berbagai yuridiksi yang telah memilih menggunakan pendekatan ini untuk mengumpulkan lebih banyak informasi.”

Sebuah studi baru, yang diterbitkan minggu lalu di The Lancet, menunjukkan bahwa pendekatan tes untuk tinggal bisa aman. Uji coba terkontrol secara acak mencakup lebih dari 150 sekolah di Inggris. Hasilnya, tingkat kasus tidak lebih tinggi secara signifikan di sekolah yang mengizinkan kontak dekat dari siswa yang terinfeksi atau staf untuk tetap di kelas dengan pengujian harian dibanding yang melakukan karantina di rumah.

Para peneliti menemukan sekitar 2 persen dari kontak dekat berbasis sekolah pada akhirnya dinyatakan positif terpapar virus. Ini berarti bahwa sekolah menjauhkan 49 siswa yang tidak terinfeksi dari kelas setiap kali satu siswa dinyatakan positif.

“Ketika kita menerapkan itu dalam konteks yang lebih luas dari yang kita lakukan di masyarakat, aku kira itu memberikan hukuman cukup keras pada orang muda,” kata Dr. Bernadette Young, seorang ahli penyakit menular di Universitas Oxford dan penulis utama makalah.

Musim panas ini, Inggris mengumumkan bahwa anak-anak yang diidentifikasi sebagai kontak dekat tidak perlu dikarantina, meskipun itu mengharuskan mereka untuk dites virus. Ketika pejabat sekolah memulai tahun ajaran ketiga selama pandemi, banyak yang mengatakan waktunya telah tiba untuk pendekatan baru.

“Filosofinya adalah bagaimana kita bisa menjaga anak-anak yang sehat di sekolah dan anak-anak yang sakit di rumah?” kata Isaac Seevers, pengawas Sekolah Kota Lebanon di Ohio, yang sedang bersiap memulai program uji tinggal. “Saya pikir ada optimisme nyata bahwa ini adalah pengubah permainan untuk bagaimana kita belajar hidup dengan Covid.” (*)

Related Articles
Current Issues
PTM Terbatas di Daerah PPKM Level 1-3 Mulai Digelar, Vaksinasi Remaja Dikebut

Current Issues
CDC: Aktivitas di Sekolah Tetap Harus Memakai Masker

Current Issues
Di AS, Mahasiswa yang Tolak Vaksinasi Bakal Dapat Sanksi dari Kampus