Current Issues

Apakah Tes Covid-19 Sebelum Terbang Efektif Kurangi Penyebaran Virus Corona?

Dwiwa

Posted on September 20th 2021

Semenjak pandemi Covid-19, melampirkan hasil negatif tes PCR atau antigen telah menjadi salah satu syarat untuk bepergian. Tetapi apakah itu memang memiliki dampak positif untuk mengurangi penyebaran?

Dilansir dari The Washington Post, sebuah studi terhadap penumpang Delta Air Lines yang menuju Italia menemukan bahwa syarat tes PCR Covid-19 yang dilakukan tiga hari sebelum terbang menyingkirkan sebagian besar pelancong yang terinfeksi Covid-19.

Studi tersebut memerika data dari program maskapai yang memungkinkan pelancong bisa menghindari karantina di Italia asal menunjukkan bukti tes molekuler negatif dalam kurun 72 jam, dan melakukan rapid tes di bandara di Atlanta atau New York sebelum berangkat. Penumpang juga harus menjalani tes cepat lagi setelah mendarat di Italia.

Penelitian yang dilakukan oleh Mayo Clinic, Delta Air Lines, dan Departemen Kesehatan Georgia ini menganalisis data penerbangan antara Desember 2020 dan Mei 2021. Hasilnya, dari 9.853 pelancong yang di tes negatif virus corona dalam kurun 72 jam sebelum keberangkatan, 0,05  persen – atau lima orang – ditemukan memiliki infeksi sesaat sebelum atau setelah penerbangan. Studi tersebut mengatakan tingkat prevalensi infeksi masyarakat diperkirakan sebesar 1,1 persen pada periode itu.

Empat dari lima penumpang itu ditemukan positif saat melakukan tes antigen yang kemudian dikonfirmasi dengan tes molekuler cepat, sebelum berangkat. Mereka kemudian tidak diizinkan terbang. Sementara satu penumpang tidak mendapatkan hasil tes positif sampai tiba di Italia.

“Data ini menunjukkan bahwa bahkan pada tingkat infeksi komunitas aktif yang lebih tinggi, tes molekuler tunggal yang dilakukan dalam kurun 72 jam sebelum keberangkatan dapat menurunkan tingkat infeksi aktif di dalam pesawat komersial ke tingkat yang lebih rendah dari infeksi komunitas aktif,” jelas studi tersebut.

Mereka menambahkan jika melakukan beberapa intervensi lain, seperti memakai masker di bandara dan pesawat komersial, meningkatkan frekuensi pertukaran udara dan pembersihan, menjaga jarak, peningkatkan tingkat vaksinasi dan tidak mengizinkan individu bergejala membuat keamanan semakin meningkat.

Dalam sebuah artikel di laman beritanya, Delta mengatakan hasilnya menunjukkan adanya kelayakan penerapan protokol pengujian terhadap dampak yang berarti.

“Kita akan hidup dengan varian Covid-19 untuk beberapa waktu,” ujar Henry Ting, kepala petugas kesehatan maskapai itu. “Data dunia nyata ini –bukan model simulasi– merupakan sesuatu yang bisa digunakan oleh pemerintah di seluruh dunia sebagai cetak biru untuk mewajibkan vaksinasi dan pengujian, alih-alih karantina untuk membuka kembali perbatasan untuk perjalanan internasional.”

Meski begitu, penulis utama penelitian Aaron Tande, yang juga seorang dokter penyakit menular di Mayo Clinic di Rochester mengatakan jika kalian berada di ruang terbatas selama enam jam lebih seperti saat melakukan penerbangan internasional, risikonya akan lebih besar dibanding penerbangan satu jam.

Ia menambahkan jika masih diperlukan diskusi besar untuk mengetahui apakah tes memang dibutuhkan untuk semua penerbangan atau hanya yang memiliki risiko tinggi saja.

Studi ini dilakukan sebelum varian Delta dominan di Amerika Serikat dan vaksin belum tersedia untuk populasi umum. Tande mengatakan jika angka absolut dalam penelitian mungkin berbeda jika dilakukan saat ini. Tetapi hasilnya menunjukkan jika pengujian akan mengurangi risiko infeksi di pesawat.

Dia menambahkan jika perjalanan udara perlu beberapa lapisan mitigasi. Sebagian besar kasus transmisi yang dilaporkan selama penerbangan terjadi saat mandat masker belum diberlakukan atau ketika ada penyimpangan saat memakai masker, termasuk makan dan minum.

“Bagi saya sangat jelas kalian semua harus memakai masker saat penerbangan. Dan kemudian pengujian adalah lapisan lain untuk mengurangi risiko,” ujarnya.

Meski begitu, penelitian ini juga memiliki beberapa kekurangan. Misalnya orang yang bepergian mungkin merasa memiliki risiko rendah terpapar virus dan yang terpapar memutuskan tinggal di rumah karena tahu akan diuji.

Selain itu tes cepat antigen juga kurang sensitif dibanding tes molekuler, dan dapat menimbulkan negatif palsu. Ini memungkinkan orang terinfeksi lolos dari skrining. Studi ini juga tidak mengikuti para responden untuk mengetahui jika ada di antara mereka yang terinfeksi.(*)

Artikel Terkait
Current Issues
PPLN Tak Lagi Perlu Karantina Asal Negatif Covid dan Vaksin Lengkap

Current Issues
Jadi Syarat Perjalanan, Ini Cara Mendapatkan Sertifikat Vaksin Covid-19

Current Issues
Hore! Kompetisi Olahraga Sudah Bisa Disaksikan Penonton, Ini Syaratnya...