Current Issues

Tiap Tahun, Ratusan Ribu Orang Mungkin Telah Terinfeksi Virus Corona Kelelawar

Dwiwa

Posted on September 16th 2021

Asal usul virus SARS-Cov-2 memang masih menjadi misteri. Tetapi sebuah analisis yang memetakan risiko paparan di seluruh Tiongkok selatan dan Asia Tenggara menemukan jika sekitar 400 ribu orang terinfeksi oleh virus corona yang dibawa kelelawar setiap tahun.

Dilansir The Telegraph, makalah yang diterbitkan secara pracetak minggu ini menjadi studi pertama yang memperkirakan warga di lokasi tersebut yang tanpa sadar telah tertular virus corona dari kelelawar. 

Penulis ternama yang terlibat dalam analisis ini adaah Prof Linfa Wang. Dia memainkan peran utama dalam pelacakan asal-usul Sars. Lalu ada Dr Peter Daszak, anggota tim Organisasi Kesheatan Dunia (WHO) yang menyelidiki asal-usul SARS-Cov-2.

Menurut para ahli, temuan ini menunjukkan bahaya nyata yang ditimbulkan oleh virus dari kelelawar dan risiko mereka bisa menjadi pandemi lain. Secara khusus, Tiongkok selatan, Myanmar timur laut, Laos, dan Vietnam utara dianggap sebagai “hotspot” berisiko tinggi bagi patogen baru untuk berpindah ke manusia.

“Ini adalah studi yang menarik dan bermanfaat,” ujar Dr Eddie Holmes, seorang ahli biologi evolulsioner dan ahli virus di University of Sydney, yang tidak terlibat dalam penelitian itu.

Dia menambahkan bahwa penelitian ini secara rapi menunjukkan bahaya yang jelas dan nyata yang ditimbulkan oleh perpindahan virus kelelawar ke manusia. Paparan ini terus terjadi dan sering. Bahkan terjadi lebih sering daripada paparan apa pun di laboratorium.

Dalam studi tersebut, para peneliti dari Duke-NUS Medical School di Singapura dan Eco-Health Alliance di Amerika Serikat melakukan pelacakan terkait berapa banyak orang di pedesaan Tiongkok yang memiliki antibodi terhadap virus corona kelelawar. Di beberapa tempat, angka ini mencapai tiga persen.

Tim kemudian menggabungkan data ekologi dan epidemiologi dengan permodelan penyebaran kelelawar untuk memetakan risiko paparan virus corona kelelawar di seluruh Tiongkok dan Asia Tenggara. Mereka juga memperkirakan tingkat kejadian perpindahan virus yang tidak dilaporkan.

Hasilnya, diperkirakan rata-rata 400 ribu orang terinfeksi virus corona seperti SARS setiap tahun. Menurut peneliti, sebagian besar dari orang-orang ini mungkin tidak menyadari mereka telah terinfeksi virus kelelawar baru dan menganggapnya sebagai pilek atau flu yang parah.

“Meskipun jumlah sebenarnya sulit diperkirakan dengan akurat, apa yang ditunjukkan penelitian ini adalah bahwa manusia terus terpapar virus corona kelelawar. Jika muncul lebih banyak wabah tidaklah mengejutkan,” ujar Holmes.

Para ahli yang terlibat dalam penelitian mengatakan peta hotspot dapat digunakan untuk membantu pengawasan sasaran di area berisiko tinggi untuk mencegah wabah baru menyebar.

Selain itu juga untuk menginformasikan upaya pencegahan kepada masyarakat dengan cara mengurangi perilaku berisiko tinggi seperti mengunjungi gua kelelawar atau berburu dan memakan satwa liar.

Di sisi lain, ini juga bisa membantu mencari jalan untuk menemukan asal-usul pandemi Covid-19. Temuan ini dapat digunakan sebagai peta untuk menyoroti tempat-tempat di mana SARS-Cov-2 kemungkinan besar telah melompat dari kelelawar ke manusia. (*)

Related Articles
Current Issues
Misteri Asal Usul Covid-19 Belum Terpecahkan, Ilmuwan Minta Investigasi Mendalam

Current Issues
Para Ahli di Tim WHO Sebut Pencarian Asal Usul Covid-19 Telah Terhenti

Current Issues
Tiongkok Uji Ribuan Sampel Darah di Wuhan untuk Penyelidikan Asal-Usul Covid-19