Current Issues

Tiongkok Stop Sementara Pemberian Lisensi untuk Game Online Baru

Jingga Irawan

Posted on September 9th 2021

Credit: South China Morning Post

Agenda melawan kecanduan game untuk anak di bawah umur oleh Pemerintah Tiongkok terus berlanjut. Melansir South China Morning Post pada Kamis (9/9), regulator negara untuk sementara menangguhkan persetujuan semua game online baru. Cara ini sekaligus memberikan tekanan lebih dalam kepada raksasa bisnis video game, seperti Tencent Holdings dan NetEase.

Keputusan tersebut diisyaratkan dalam pertemuan yang membahas pembatasan game pada Rabu (8/9). Pertemuan itu dipimpin oleh departemen publisitas Partai Komunis Tiongkok bersama pengawas game, Administrasi Pers dan Publikasi Nasional (NPPA). Mereka juga mengundang perwakilan dari Tencent serta NetEase.

Seorang sumber yang menolak disebutkan namanya mengatakan persetujuan game baru akan ditunda "untuk sementara waktu" karena prioritasnya adalah "memangkas jumlah game baru" dan "mengurangi kecanduan game" di negara tersebut. Sebagaimana diketahui, Tiongkok merupakan pasar video game terbesar di dunia. Sumber juga menyebut persetujuan game baru pada paruh pertama tahun ini dinilai "agak terlalu agresif".

Sedangkan, sumber lain yang menghadiri pertemuan itu mengatakan tak ada penyebutan langsung tentang pembekuan persetujuan, tetapi mengisyaratkan penundaan dalam proses perizinan game online baru. Hal ini dilakukan untuk memastikan penyebaran langkah-langkah mengurangi kecanduan game pada anak di bawah umur sebelumnya berhasil terlebih dahulu.

Lembaga yang bertanggung jawab atas lisensi video game di Tiongkok, NPPA, belum menerbitkan daftar judul baru yang disetujui di bulan Agustus. Padahal biasanya, lembaga secara rutin mengumumkan game berlisensi baru baik di tengah atau akhir bulan sejak Mei 2019. Tak jelas berapa lama penangguhan persetujuan game baru ini akan berlangsung.

Flashback pada 2018, ada pembekuan selama sembilan bulan untuk persetujuan video game baru. Kebijakan itu berdampak negatif pada banyak pengembang kecil, di tengah perubahan yang dibuat dalam kerangka peraturan Tiongkok.

Menurut sebuah laporan oleh China Central Television, ketika Pemerintah Tiongkok terakhir membekukan persetujuan video game, lebih dari 28.000 perusahaan game menutup pintu perusahaannya pada 2018 dan 2019.

Sementara itu, ringkasan resmi pertemuan pada Rabu (8/9) yang diterbitkan  kantor berita pemerintah, Xinhua, tak menyebutkan informasi apa pun tentang penangguhan persetujuan lisensi video game baru.

Dalam pertemuan yang juga dihadiri oleh Administrasi Ruang Siber Tiongkok, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, perwakilan Tencent dan NetEase diminta untuk “menegakkan dengan tegas” aturan terbaru NPPA. Yakni, membatasi waktu bermain game untuk pemain di bawah usia 18 tahun. Pembatasan itu berlaku antara jam 8 malam dan jam 9 malam hanya pada hari Jumat, Sabtu, Minggu dan hari libur resmi.

Selain itu, kedua perusahaan diminta untuk membersihkan video game mereka dengan menghapus apa yang digambarkan pihak berwenang sebagai moral yang keliru, termasuk "menyembah uang" dan "cinta gay". Mereka juga diingatkan untuk tak mengambil banyak keuntungan dari video game dan memastikan anak muda tak kecanduan game.

Menurut analis, perintah keras yang diberikan kepada perusahaan video game menandakan tekad regulator Tiongkok untuk menjinakkan industri ini. Hal ini tentu berdampak besar pada industri game online.

Pendiri Asia-focused LightStream Research, Mio Kato, mengatakan terkejut dengan betapa kuatnya mereka menargetkan kecanduan video game dan monetisasi oleh perusahaan game.

"Apakah mereka akan benar-benar menghentikan perusahaan yang mencoba menghasilkan kecanduan, dalam hal ini freemium bisa mati?" kata Kato. Freemium sendiri mengacu pada model bisnis video game di mana game ditawarkan gratis untuk dimainkan, tetapi ada unsur pembelian dalam game.

“Atau apakah mereka hanya mencoba membuat perusahaan video game tak terlalu agresif? Dalam hal itu, mungkin masih signifikan, tetapi belum tentu berhasil,” katanya.

Tencent dan NetEase dengan cepat mematuhi pembatasan waktu bermain game baru di Beijing. Pada Kamis (9/9) Tencent mengumumkan bahwa mereka akan menunda peluncuran game seluler yang paling dinanti tahun ini, League of Legends: Wild Rift, mulai minggu depan hingga setelah liburan Hari Nasional untuk "putaran pengujian lain".

League of Legends: Wild Rift, versi modifikasi dari game komputer pribadi League of Legends, menerima lisensinya dari regulator Tiongkok pada Februari tahun ini.

NPPA biasanya menyetujui lusinan video game yang dikembangkan oleh studio Tiongkok setiap bulan. Lembaga tersebut melisensikan 592 game di paruh pertama tahun ini, lebih banyak dari 575 game yang disetujui pada paruh pertama tahun lalu, tetapi lebih sedikit dari 850 persetujuan pada periode yang sama di tahun 2019.

Pada 22 Juli, NPPA mengumumkan persetujuan 87 game untuk bulan tersebut, dari 86 game bulan sebelumnya. Pada 28 Juni, regulator mengatakan telah menyetujui 76 game impor sepanjang tahun ini.

Meskipun tak ada pemberitahuan resmi tentang penangguhan persetujuan game Tiongkok, pesan dari pertemuan Rabu lalu yang diadakan oleh pihak berwenang adalah untuk mengharapkan regulasi lebih lanjut dari industri video game.

Regulator telah meningkatkan pengawasan mereka terhadap industri video game Tiongkok sejak Agustus setelah adanya publikasi artikel Economic Information Daily, yang menggambarkan game sebagai "candu spiritual" yang merugikan remaja negara itu dan memilih Tencent sebagai sumber masalahnya.(*)

Related Articles
Tech
Tiongkok Batasi Anak di Bawah Umur Main Game Online, Maksimal Tiga Jam Seminggu

Current Issues
Pembatasan Waktu Bermain Game Bakal Pengaruhi Industri Esports Tiongkok

Tech
Tencent Optimistis Tiongkok Bakal Mendukung Metaverse