Interest

Polusi Udara dan Perubahan Iklim Bikin Alergi Jadi Memburuk

Dwiwa

Posted on September 9th 2021

Polusi dan perubahan iklim telah diketahui memiliki dampak buruk bagi kesehatan, tidak terkecuali bagi para pemilik alergi. Dilansir dari Yahoo Life, sejumlah studi telah mengungkap jika polusi udara membuat alergi jadi lebih parah.

Studi menemukan jika polutan seperti ozon, nitrogen dioksida dan partikel halus yang dihasilkan oleh knalpot mobil dan pembangkit listrik industri dapat meningkatkan alergen yang beredar di udara. Dalam prosesnya, ini membuat kalian jadi lebih sakit.

“Ozon dan partikulat, terutama karbon hitam, jelaga, dan komponen terkait polusi udara PM 2.5 (partikel halus) merupakan iritasi kuat yang dapat dengan mudah memicu eksaserbasi (memburuknya penyakit) tidak hanya pada alergi, tetapi juga asma, sinusitis, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dan kondisi lain,” ujar Dr. David Corry, seorang profesor kedokteran di bagian imunologi, alergi, dan reumatologi di Baylor College of Medicine.

Menurut Dr. Ted Kelbel, kepala bagian untuk alergi dan imunologi di Spectrum Health, polusi juga membuat alergi terasa lebih buruk. Sebab, polusi udara dapat mengiritasi saluran napas mirip seperti yang dilakukan alergen. Jadi ketika kalian sudah teriritasi karena terpapar alergen, itu membuatnya jadi lebih buruk.

Tidak hanya itu saja, terpapar polusi secara terus menerus juga membuat kalian bisa mengembangkan alergi. “Peningkatan kadar ozon dan partikel sebenarnya meningkatkan peradangan di saluran udara kalian dan melemahkan atau membuat saluran udara jadi lebih sensitif untuk alergi,”ujar Dr Purvi Parikh, ahli alergi dari Allergy & Asthma Network.

Bukan hanya polusi, pemanasan global pun memperburuk alergi. Parikh mengatakan jika pemansan global telah membuat musim serbuk sari jadi sangat panjang dan lebih kuat. Tanaman menyerap karbondioksida dan dengan begitu menghasilkan lebih banyak serbuk sari.

Dan masalah ini tampaknya masih akan terus kita hadapi. Berdasarkan National Oceanic and Atmospheric Administration 2020 Annual Climate Report, suhu gabungan di darat dan laut telah meningkat pada tingkat rata-rata 0,13 derajat per dekade sejak 1880, dan itu semakin cepat. Tingkat kenaikan rata-rata sejak 1981 mencapai 0,32 derajat, lebih dari dua kali lipat tingkat sebelumnya.

“Seiring musim semi dan musim gugur semakin lama, itu menimbulkan gejala alergi,” ujar Kelbel.

Lalu bagaimana agar alergi kita tidak semakin memburuk di tengah polusi dan perubahan iklim? Parikh merekomendasikan agar kita berkonsultasi dengan ahli alergi untuk melakukan tes agar mengetahui dengan tepat apa pemicu alergi. Dengan begitu, kita lebih mudah menghindari pemicunya.

Selain itu, Corry menyarankan agar orang dengan alergi melacak tingkat polusi udara di daerah tempat tinggalnya dan berusaha sebanyak mungkin di rumah saat polusi tinggi. Usahakan juga menghindari berolahraga saat waktu polusi tinggi seperti pada jam sibuk. (*)

Related Articles
Interest
Pemanasan Global 1,5 Derajat Celcius Bisa Jadi “Bencana" Bagi Kesehatan

Interest
Separuh Sampah Plastik Sekali Pakai di Dunia Berasal dari 20 Perusahaan

Current Issues
Perubahan Iklim dan Covid-19: Apakah Global Warming Menyebabkan Pandemi?