Interest

Studi: Pembelajaran Jarak Jauh Dapat Mengubah Karakter Anak

Dwiwa

Posted on September 2nd 2021

Pandemi Covid-19 telah membuat sekolah ditutup selama berbulan-bulan. Proses pembelajaran memang masih dilakukan, tetapi melalui sistem daring bukan tatap muka. Kabar buruknya, sejumlah penelitian mengungkap jika sistem ini memiliki dampak kurang baik terhadap anak-anak.

Dilansir Antara, sebuah studi yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Jember (UNEJ), Jawa Timur mengungkap jika pembelajaran jarak jauh berdampak pada karakter anak didik. Terutama pada mereka yang duduk di bangku pendidikan dasar, baik di sekolah dasar maupun madrasah ibtidaiyah.

Studi yang dilakukan Firratus Saadah, mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknologi Informasi di Fakultas Ilmu Komputer UNEJ ini mencari tahu dampak pembelajaran jarak jauh pada siswa di era pandemi Covid-19.

Hasilnya, Firratus menemukan jika dari siswa yang diteliti gaya bicaranya jadi “kotor” setelah banyak berselancar di dunia maya. Menurutnya, hal ini terjadi karena ketika belajar jarak jauh, anak bukan hanya belajar materi pelajaran dari guru, namun juga berselancar di dunia maya.

Penelitian dengan metode observasi tersebut dilakukan pada siswa kelas III hingga VI MI Al-Hidayah di wilayah Sumenep, Madura, Jawa Timur. Penelitian dilakukan sebagai bagian dari program kerja KKN 15 Back to Village (BTV) III UNEJ 2021.

Temuan hasil studi ini sejalan dengan yang dilakukan oleh mahasiswat Universitas Yogyakarta Wening Sekar Kusuma. Studi yang dipublikasikan di Jurnal Obsesi di kampus itu melihat Dampak Pembelajaran Daring terhadap Prilaku Sosial Emosional Anak.

Melalui wawancara yang dilanjutkan dengan analisis tematik pada 10 ibu yang anaknya bersekolah TK di kabupaten Ngawi, Wening menemukan jika secara umum perilaku sosial emosional anak selama pembelajaran daring jadi cenderung kurang kooperatif.

Mereka juga kurang bisa bersikap toleransi, kurang bersosialisasi dengan teman karena belajar di rumah. Anak-anak juga kadang merasa bosan dan sedih, rindu teman dan guru, serta mendapatkan kekerasan verbal karena proses belajar tidak lazim.

Menurut Esa Arif AS, M.I.Kom, akademisi dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura, pembelajaran secara daring dengan tatap muka di sekolah memang akan berbeda secara psikologis. Terutama pada anak dan remaja.

Menurutnya, ketika tatap muka, terdapat sentuhan rasa yang bisa diberikan langsung dari guru ke murid. Ini yang tidak didapat saat pembelajaran daring dilakukan. Sejumlah penelitian dari beberapa perguruan tinggi juga menyimpulkan jika ada dampak negatif yang perlu diantisipasi saat belajar jarak jauh, terutama pada sikap dan emosi anak.

Selain itu, pembelajaran jarak jauh juga diketahui dapat meningkatkan risiko learning loss, dimana peserta didik tidak mendapatkan pembelajaran yang optimal sehingga terkadi kemunduran secara akademis dan non akademis. Kajian Kemendikbud Ristek menyebut jika perlu waktu 9 tahun untuk bisa memulihkannya. (*)

 

Related Articles
Current Issues
Kemendikbudristek Tetap Lanjutkan Sekolah Tatap Muka Terbatas Pada Juli

Current Issues
Hardiknas Kedua Saat Pandemi, Begini Potret Dunia Pendidikan Setahun Terakhir

Current Issues
Juli 2021 Sekolah Tatap Muka Diwajibkan, Berikut Panduan dari Kemendikbud