Current Issues

Di Tiongkok, Tak Boleh Ada Fans Fanatik Atau Peringkat Selebriti

Jingga Irawan

Posted on September 2nd 2021

Credit: NBC News

Deretan aturan yang dibuat Pemerintah Tiongkok untuk menarget masyarakat telah meluas ke dunia fandom artis. Meskipun “budaya” fandom telah menjadi hal wajar di dataran Asia, hal serupa tak berlaku di Tiongkok.

Melansir NBC News pada Kamis (2/9), lembaga pengawas internet mengatakan akan melarang penerbitan peringkat selebriti dan juga mengatur industri merchandise idola yang dianggap sebagai ladang menguntungkan.

Tindakan tersebut bertujuan untuk mengurangi pengaruh "buruk" industri hiburan setelah serangkaian kontroversi yang melibatkan artis.

Fandom artis online telah menjadi fenomena spektakuler di Tiongkok. Tetapi kehadirannya juga memancing kritik. Budaya fandom berpengaruh besar terhadap anak di bawah umur dan dianggap menyimpang dari tatanan sosial yang diinginkan Partai Komunis.

Sama seperti di belahan dunia mana pun, fandom artis di Tiongkok juga hobi gelut di media sosial. Perang fandom biasanya mempersoalkan daftar peringkat selebriti. Berebut siapa di antara idolanya yang paling “Oke.” Di Tiongkok, fans juga rela membelanjakan banyak uang untuk bersaing di acara kompetisi idolanya.

“Kebijakan ini merupakan upaya untuk mengatur pasar budaya pop daripada budaya itu sendiri,” kata Jin Vivian Zhan, Asisten Profesor Politik di Chinese University of Hong Kong.

“Banyak penyelenggara komunitas penggemar sebenarnya bukan penggemar tetapi pelaku ekonomi yang mencari peluang bisnis dalam mendukung/mengembangkan idola dan menghasilkan keuntungan darinya,” tambahnya.

Lembaga pengawas internet memulai gerakan aturan ketat fandom sejak bulan Juni dan telah membuat beberapa kemajuan. Hingga akhirnya, Pemerintah Tiongkok mengungkap pedoman baru untuk otoritas lokal di seluruh negeri pada Jum’at (27/8).

Platform tak lagi dapat mempublikasikan daftar individu selebriti populer dan fandom harus diatur. Pun melarang variety show tertentu hingga tindakan yang memikat fans anak-anak untuk membeli barang dagangan selebriti.

“Lembaga perlu meningkatkan rasa tanggung jawab, misi, dan urgensi mereka untuk menjaga keamanan politik dan ideologi online," kata Administrasi Ruang Siber Tiongkok dalam sebuah pernyataan.

Selebriti di Tiongkok sebetulnya memiliki akses yang luas ke dunia fandom,  tetapi juga tak luput dari reaksi publik atau pengawasan pemerintah.

Menurut Reuters, pada akhir Juli, sekitar 64 selebritas Tiongkok menghadiri kursus yang diselenggarakan pemerintah. Kursus berisi sejarah Partai Komunis dan tanggung jawab yang dimiliki tokoh masyarakat.

Secara terpisah, platform video di Negeri Bambu juga menurunkan film yang dibintangi atau disutradarai oleh Zhao Wei, salah satu bintang terbesar Tiongkok. Namanya juga dihapus dari daftar casting online. Namun belum jelas apa faktor yang membuat ia ditarget oleh pemerintah.

Sementara, salah satu aktris yang sangat populer, Zheng Shuang, diberi denda penghindaran pajak sebesar USD 46 juta oleh otoritas pajak Shanghai setelah penyelidikan kontroversi surrogacy yang melanda Shuang pada Januari lalu.

Pada tahun 2017 bintang wanita terbesar di Tiongkok, Fan bingbing, menghilang dari mata publik selama berbulan-bulan, kemudian muncul kembali untuk meminta maaf dan diminta melakukan pembayaran keterlambatan pajak serta denda sebesar USD 129 juta.(*)

 

Related Articles
Entertainment
Situs Media Sosial Tiongkok Bekukan Akun Penggemar K-Pop, BTS

Current Issues
Tiongkok Siapkan Hotline untuk Laporkan Komentar Negatif Soal Pemerintah

Current Issues
Tiongkok Stop Sementara Pemberian Lisensi untuk Game Online Baru