Current Issues

Studi: Kasus Long Covid-19 dengan Gejala Sesak Napas dan Depresi Meningkat

Dwiwa

Posted on August 29th 2021

Salah satu hal yang dikhawatirkan saat terpapar Covid-19 adalah adanya gejala berkepanjangan yang dirasakan meski sudah sembuh. Dan karena virus SARS-Cov-2 ini tergolong baru, dampak jangka panjang yang mungkin ditimbulkan pun masih belum diketahui.

Tetapi sebuah studi baru mengungkapkan sebuah temuan yang akan membuat kita semakin memperketat protokol kesehatan. Pasalnya, studi itu mengungkap jika gejala Covid-19 masih mungkin dirasakan sampai setahun kemudian.

Dilansir dari Bestlife, studi yang dipublikasikan di The Lancet ini melakukan penelitian terhadap 1.276 pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit di Wuhan, Tiongkok, pusat pandemi berawal. Mereka membandingkan gejala enam bulan setelah sakit dengan setahun kemudian.

Hasilnya, tidak banyak orang yang mengalami dampak Covid-19 setahun kemudian. Tetapi, ada dua gejala khas lebih umum dirasakan setahun kemudian, dibanding enam bulan setelah terkena virus SARS-Cov-2.

Studi tersebut menunjukkan jika 68 persen pasien yang dirawat di rumah sakit masih mengalami gejala setelah enam bulan. Angka itu kemudian turun menjadi hampir setengahnya (49 persen) setahun setelah infeksi. Ini artinya, separuh dari pasien Covid yang dirawat di rumah sakit pulih dari sebagian besar gejala mereka setelah 12 bulan kemudian.

Nah, pada kelompok yang masih memiliki efek Covid-19 setelah setahun, gejala paling umum adalah kelelahan dan kelemahan otot. Kasusnya dilaporkan ada 20 persen pasien. Angka itu turun 52 persen dibanding enam bulan setelah terinfeksi Covid-19.

Gejala lainnya pada pasien yang dirawat inap juga membaik dalam kurun waktu 6 dan 12 bulan pasca infeksi. Misalnya gejala kesulitan tidur. Para peneliti menemukan 17 persen masih merasakan kesulitan tidur yang turun meskipun telah sembuh dari Covid-19 setahun kemudian. Tapi angka itu turun dibanding enam bulan setelah terpapar Covid-19 (27 persen).

Ada juga 11 persen kasus kerontokan rambut yang dirasakan setahun pasca terkena Covid-19. Angka itu turun dari sebelumnya 22 persen (6 bulan setelah terkena Covid-19).

Sedangkan pasien yang mengeluhkan gangguan penciuman pasca Covid angkanya lebih sedikit. Yang masih merasakan setelah setahun terpapar Covid-19 ada 4 persen. Turun dari semula 11 persen kasus pada 6 bulan pertama setelah terpapar Covid-19.

Tetapi dua gejala memiliki anomali. Alih-alih menurun setelah 12 bulan, dua gejala yang tidak umum ini justru dilaporkan semakin banyak dilaporkan. Proporsi pasien yang mengalami sesak napas meningkat dari 26 persen menjadi 30 persen. Sementara depresi atau kecemasan meningkat dari 23 persen pada enam bulan menjadi 26 persen setelah setahun.

“Efek jangka panjang Covid pada kesehatan mental memerlukan penyelidikan lebih lanjut dan dalam waktu lama,” jelas para penulis dalam editorial yang menyertainya di The Lancet. ”Proporsi penyintas Covid-19 yang mengalami kecemasan atau depresi sedikit meningkat antara 6 bulan dan 12 bulan, dan proporsinya jauh lebih besar pada penyintas Covid-19 daripada kelompok kontrol.”

Co-author dokter Xiaoying Gu, dari Rumah Sakit Persahabatan Tiongkok-Jepang, mengatakan perlu penelitian lebih lanjut untuk memahami mengapa gejala kejiwaan lebih sering dilaporkan setelah setahun dibanding enam bulan.

“Ini bisa disebabkan adanya proses biologis terkait infeksi virus itu sendiri, atau respon imun tubuh terhadapnya,” jelas Gu dalam sebuah pernyataan di MedPage Today. “Atau mereka mungkin dikaitkan dengan berkurangnya kontak sosial, kesepian, pemulihan kesehatan fisik yang tidak sempurna atau kehilangan pekerjaan akibat penyakit.”

Meskipun butuh waktu untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, dalam catatan editorial mereka menerangkan jika long Covid  membuat individu harus terus berjuang selama berbulan-bulan setelah tubuh mereka membersihkan infeksi itu sendiri.

“Gejala-gejala seperti kelelahan terus-menerus, sesak napas, kabut otak, dan depresi dapat melemahkan jutaan orang di seluruh dunia. Tetapi sangat sedikit diketahui soal kondisi tersebut,” tulis para penulis.

Dalam editorialnya, mereka menekankan jika penyedia layanan kesehatan harus siap untuk menghadapi pasien dengan kondisi long Covid. Sistem kesehatan juga perlu dipersiapkan untuk menangani hal ini.

Para penulis pun mengingatkan jika long Covid bukan hanya masalah pasien, tetapi juga masalah yang dapat memengaruhi masyarakat secara luas. Sebab, ini bisa berdampak pada peningkatan beban perawatan kesehatan dan kerugian ekomoni serta penurunan produktivitas yang cukup besar.(*)

Related Articles
Current Issues
Gejala-Gejala Long Covid yang Mungkin Tak Disadari

Current Issues
Israel Temukan Sekitar 1 dari 10 Anak Miliki Gejala Covid Berkepanjangan

Current Issues
Studi: Banyak Penyintas Covid-19 Hadapi Masalah Kesehatan Baru Usai Terinfeksi