Current Issues

Bagaimana Perkembangan Kekebalan Kelompok di Indonesia?

Dwiwa

Posted on August 27th 2021

Kekebalan kelompok alias herd immunity menjadi salah satu jalan keluar yang kini dikejar oleh berbagai negara untuk mengakhiri pandemi Covid-19. Selain itu, diyakini jika semakin banyak orang divaksinasi, kesempatan virus SARS-Cov-2 untuk bermutasi akan sangat berkurang.

Dilansir dari Antara, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin yakin jika kecepatan mutasi virus ditentukan oleh pergerakan manusia. Itu karena mutasi mungkin terjadi ketika ada penularan.

Dalam diskusi di Podcast Deddy Corbuzier Budi mengatakan jika vaksin merupakan satu cara paling efisien menangkal virus Corona bermutasi. Namun syaratnya, 70 persen populasi di Indonesia harus sudah terlindungi oleh vaksin atau disebut kekebalan kelompok.

Pemerintah sendiri telah berupaya untuk mempercepat program vaksinasi Covid-19 yang sudah dimulai sejak Januari. Setidaknya, ada enam jenis vaksin yang kini digunakan. Mulai dari vaksin berbasis inactivated virus dari Sinovac dan Sinopharm, vaksin berbasis mRNA dari Moderna dan Pfizer, serta AstraZeneca dan Sputnik-V yang berbasis Adenovirus.

Meski vaksin ini sudah terbukti efektif melindungi dari Covid-19, tetapi kemunculan varian virus baru membuat orang khawatir dengan kemanjurannya. Apalagi, sejumlah penelitian menunjukkan jika ada penurunan kemanjuran signifikan dari vaksin Covid-19 saat melawan varian Delta.

Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Kemenkes, dua negara yang memiliki laju vaksinasi tinggi, Amerika Serikat dan Israel, pun masih mengalami lonjakan kasus. Meski begitu, kedua negara yang menggunakan vaksin berbasis mRNA ini memiliki angka kematian relatif lebih rendah.

Budi menyebutkan jika hal berbeda terlihat di Inggris. Meski mengalami kenaikan, negara yang menggunakan vaksin berplatform Adenovirus ini cenderung memiliki jumlah kematian dan kasus rawat inap yang lebih landai.

Di sisi lain, sejumlah pakar juga tengah menyiapkan skenario kedua jika nantinya kekebalan kelompok yang diharapkan selama ini tidak bisa tercapai. Dalam kesempatan yang berbeda, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan pernah mengatakan jika varian Delta membuat kekebalan kelompok sulit tercapai.

Pasalnya, varian Delta dapat menular jauh lebih cepat hingga lima atau delapan kali dibanding varian aslinya. Selain itu, kemanjuran vaksin yang ada juga rata-rata di angka 60 persen saja.

Rekomendasi pemberian booster atau suntikan penguat pun mulai disuarakan oleh ahli. Dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI Rabu (25/8), Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB-IDI) Slamet Budiarto menyarankan pemberian dosis ketiga untuk masyarakat umum sebagai skenario kedua untuk mengejar target kekebalan kelompok.

Strateginya, peserta yang sudah divaksinasi lengkap Sinovac pada Januari, Februari, Maret, dan April akan mendapatkan vaksin penguat. Sebab, berdasar analisis PB IDI, efikasi vaksin Sinovac menurun dalam waktu 6 sampai 12 bulan. Ini tentu dapat memperlampat pencapaian kekebalan kelompok yang ditargetkan selesai di triwulan pertama 2022.

Menurut Slamet, jika kecepatan vaksinasi dosis kedua saat ini mencapai 594.774 per hari dari total sasaran 208 juta orang, butuh tujuh sampai delapan bulan agar terbentuk kekebalan kelompok.

Di sisi lain, perkembangan virus saat ini juga membuat target vaksinasi penduduk di Indonesia harus ditambah jika ingin mencapai kekebalan kelompok. Mengutip dari jurnal Australia yang disampaikan Slamet, dengan efikasi vaksin sekitar 60-70 persen, Indonesia harusnya menambah target vaksinasi menjadi 86 persen. Ini tentu juga menambah jumlah vaksin yang diperlukan.

Sejumlah industri farmasi swasta telah dilaporkan mentransfer teknologi pengembangan vaksin Covid-19 di Indonesia. Di antaranya adalah PT Baylor Medical College yang bekerja sama dengan Bio Farma mengembangkan vaksin berbasis rekombinan protein subunit.

Kemudian ada PT Etana Biotech bekerja sama denga Walfax Abogen akan memproduksi vaksin berbasis mRNA pertama di Indonesia. Lalu ada PT Biotis Pharmaceutical yang bekerja sama dengan Universitas Airlangga untuk mengembangkan vaksin Merah Putih. Serta Genexine Korea yang bekerja sama dengan PT Kalbe Farma untuk mengembangkan vaksin berplatform DNA pertama di Indonesia.

Selain mengejar kekebalan kelompok, pemerintah juga sudah menyiapkan skenario untuk hidup berdampingan dengan Covid-19. Ini untuk mengantisipasi kemungkinan jika Covid-19 akan menjadi endemik dan tidak benar-benar lenyap dari Indonesia.

Tetapi terlepas dari strategi apa pun yang dibuat pemerintah, masyarakat tetap memiliki andil besar dalam mengatasi pandemi Covid-19 saat ini. Kepatuhan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan serta kemauan untuk divaksin akan membantu mempercepat penanganan pandemi. (*)

 

Artikel Terkait
Current Issues
Mengenal Sputnik V, Vaksin Ke-7 yang Dapat Izin Penggunaan dari BPOM

Current Issues
Ini Alasan Mengapa Kamu Tak Perlu Pilih-Pilih Jenis Vaksin Covid-19

Current Issues
Varian Baru Covid-19 Bermunculan, Apakah Herd Immunity Masih Bisa Terbentuk?