Current Issues

Studi: Disuntik Vaksin Covid-19 Jauh Lebih Aman Dibanding Terpapar Virus

Dwiwa

Posted on August 26th 2021

Bagi sebagian orang, alasan enggan untuk divaksin Covid-19 adalah adanya efek samping yang terjadi. Namun sebuah studi terbaru mengungkap jika efek samping yang didapat dari vaksin masih jauh lebih aman dibanding terinfeksi virus SARS-Cov-2.

Dilansir dari CNN sebuah studi yang melibatkan hampir 2 juta orang di Israel membandingkan risiko vaksinasi dengan infeksi. Hasilnya, vaksin Pfizer-BioNTech sedikit memunculkan risiko peradangan jantung, pembengkakan kelenjar getah bening dan herpes zoster.

Sedangkan pada orang yang terinfeksi Covid-19, risiko peradangan jantung meningkat lebih besar. Selain itu juga meningkatkan risiko gumpalan darah, serangan jantung, dan kejadian mematikan lainnya.

“Dalam penelitian yang dilakukan dalam pengaturan vaksinasi massal nasional ini, vaksin BNT162b2 tidak terkait dengan peningkatan risiko sebagian besar efek samping yang diperiksa,” jelas Dr Ran Balicer dari Institut Penelitian Clalit di Tel Avive dan rekan dalam laporan yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine tersebut.

Mereka menemukan kasus miokarditis, jenis peradangan jantung yang dikaitkan dengan kedua vaksin mRNA, yang dibuat oleh Moderna dan Pfizer. Itu menambah sekitar tiga kasus tambahan per 100 ribu orang divaksinasi, dan terlihat hampir seluruhnya di kalangan pria muda.

“Efek samping potensial utama yang diidentifikasi termasuk risiko berlebihan limfadenopati (pembengkakan kelenjar getah bening), infeksi herpes zoster (herpes zoster), radang usus buntu, dan miokarditis,” tulis mereka.

Sementara untuk infeksi SARS-Cov-2 tidak diperkirakan memiliki efek yang bermakna pada kejadian limfadenopati, infeksi herpes zoster, atau radang usus buntu. Tetapi itu diperkirakan meningkatkan risiko miokarditis yang substansial. Infeksi Covid-19 menaikkan risiko miokarditis lebih tinggi dibanding yang dilakukan vaksinasi, sekitar 11 kasus per 100 ribu orang divaksinasi.

“Beberapa efek yang awalnya tidak terduga terlihat dalam hasil penelitian saat ini. Vaksin BNT162B2 tampaknya melindungi terhadap kondisi tertentu seperti anemia dan perdarahan intrakranial. Efek samping yang sama ini juga diidentifikasi dalam penelitian ini sebagai komplikasi infeksi SARS-Cov-2. Sehingga muncul kemungkinan bahwa efek perlindungan dari vaksin dimediasi lewat perlindungan terhadap infeksi SARS-Cov-2 yang tidak terdiagnosis,” tulis para peneliti.

Sementara itu, Grace Lee, seorang dokter anak di Universitas Stanford yang tidak terlibat dalam penelitian ini mengapresiasi studi tersebut. Menurutnya, meskipun vaksin mRNA mungkin dikaitkan dengan miokarditis, tetapi ini juga mencegah kasus miokarditis, cedera ginjal akut, aritmia, dan penyakit tromboemboli.

“Kunci untuk membandingkan risiko ini tergantung pada risiko infeksi SARS-Cov-2 pada individu, dan bahwa risiko dapat bervariasi sesuai tempat dan seiring berjalannya waktu. Mengingat keadaan pandemi global saat ini, risiko paparan ke SARS-Cov-2 tampaknya tidak bisa dihindari,” komentarnya.(*)

Artikel Terkait
Current Issues
Kabar Baik! Setelah Pfizer, Vaksin Covid-19 dari Moderna Aman untuk Remaja

Current Issues
Studi: Mayoritas Orang Mungkin Tidak Perlu Dosis Vaksin Covid-19 Keempat

Current Issues
1,5 Juta Vaksin Pfizer Tiba, Bisa Digunakan untuk Warga Usia 12 Tahun ke Atas