Current Issues

Varian Baru Covid-19 Bermunculan, Apakah Herd Immunity Masih Bisa Terbentuk?

Dwiwa

Posted on August 15th 2021

Jauh sebelum vaksinasi mulai diberikan kepada masyarakat, para ahli telah menekankan pentingnya kekebalan kawanan untuk bisa mengakhiri pandemi. Konsep ini mengacu pada fase di mana cukup banyak orang dalam satu populasi terlinduri dari virus, baik dari infeksi alami atau vaksinasi, sehingga tidak dapat lagi menyebar.

Dilansir dari Bestlife, melihat kondisi saat ini tampaknya kekebalan kawanan akan sulit untuk dicapai karena varian Delta yang lebih menular menjadi lebih dominan di Amerika Serikat dan global. Namun menurut para ahli, keberadaan varian yang lebih menular belum tentu menjadi masalahnya.

Pada awal pandemi, Penasihat Covid Gedung Putih dr Anthony Fauci mengatakan jika ia yakin kekebalan kawanan akan dicapai ketika sekitar 70 persen populasi telah terinfeksi Covid atau divaksinasi. Namun angka presentase itu terus meningkat seiring berjalannya waktu.

Pada April, New York Times melaporkan bahwa Fauci menyebut jika sejikar 90 persen orang perlu terpapar Covid-19 atau divaksinasi agar terbentuk kekebalan kawanan. Pada Mei, saat tingkat vaksinasi melambat, prediksi kembali berubah.

“Orang-orang mulai kebingungan dan berpikir kalian tidak akan pernah mendapatkan penurunan infeksi sampai mencapai tingkat mistis dari kekebalan kawanan, berapapun angkanya,” jelas Fauci kepada The New York Times. “Itu sebabnya kami berhenti menggunakan kekebalan kawanan dalam mode klasik.”

Sir Andre Polland PhD, kepala kelompok vaksin Oxford mengatakan jika saat ini kita berada dalam situasi di mana kekebalan kawanan sesuatu yang tidak mudah dicapai. Sebab varian baru masih bisa menginfeksi individu yang divaksinasi. Ia menambahkan jika karena vaksin tidak menghentikan penyebaran virus sepenuhnya, gagasan untuk mencapai kekebalan kawanan adalah “mitos”.

Pollard menjelaskan bahwa Covid berbeda dari virus lain yang pernah kita lawan dengan vaksinasi. Ini membuat pencapaian kekebalan kawanan menjadi sangat menantang.

“Masalah dengan virus ini adalah itu bukan campak,” ujarnya. “Jika 95 persen orang divaksinasi terhadap campak, virus tidak dapat menularkan dalam populasi.”

Pollard mengatakan meskipun vaksin yang ada saat ini membantu menurunkan penyebaran virus, varian baru telah membuktikan jika mereka bisa menyebabkan peningkatan penularan.

“Dugaanku, virus berikutnya yang muncul adalah varian yang mungkin lebih baik dalam menularkan di antara populasi yang divaksinasi. Itu menjadi tambahan alasan untuk tidak membuat program vaksinasi di skeitar kekebalan kawanan,” katanya.

Pada 12 Agustus, dokter Andrew Freedman, ahli penyakit menular School Medical Cardiff mengatakan kepada CNBC bahwa dia berpikir kekebalan kawanan tidak mungkin. Menurutnya, varian Delta sangat menular yang artinya proporsi orang yang perlu divaksinasi penuh untuk kekebalan kawanan mungkin tidak dapat dicapai.

Hal ini tampaknya benar karena menurut data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), hanya 59 persen dari populasi yang memenuhi syarat untuk vaksinasi penuh.

“Vaksin memberikan perlindungan yang sangat efektif terhadap keparahan/rawat inap/kematian tetapi kurang efektif dalam mencegah infeksi, penyakit ringan, dan penularan, terutama untuk varian Delta,” tambah Freedman.

Related Articles
Current Issues
Warga AS yang Sudah Divaksin Kembali Disarankan Pakai Masker di Area Tertentu

Current Issues
Tenang! Jutaan Remaja AS yang Divaksin Terbukti Jarang Alami Efek Samping Serius

Current Issues
Melonjak Tajam, Kasus Covid-19 pada Anak Naik dari 2 Persen jadi 24 Persen