Entertainment

Seperti Makan, Nikmatin Karya Musisi Juga Harus Bayar!

Nizar Fahmi

Posted on May 14th 2018

Miris. Begitulah kata yang sangat tepat untuk menggambarkan keadaan karya musisi yang selama ini menjadi korban bajak banyak orang. Udah capek-capek buat karya, tenaga terkuras habis, ide dipaksa mengalir terus, eksekusinya hampir nggak ada putus, eh ujung-ujungnya malah nggak dapat apresiasi lebih. Siapapun pasti nggak bakal mau ada diposisi ini.

Memang, menikmati sesuatu yang gratisan itu susah banget untuk ditolak. Rugi rasanya. Cuman agak ngenes nih kalau kita terlalu mementingkan ego pribadi. Maunya untung sendiri doang, nggak mau bagi-bagi dengan si empunya karya. Apalagi ketika kita mengecap diri sebagai penikmat karya seni orang lain, harusnya kita bisa jadi penikmat yang bukan abal-abal.

"Loh kok abal-abal?"

Iya. Ngakunya ngefans sama penyanyi A, atau musisi B, tapi waktu ditanya, "Udah punya CD yang mana?", eh malah dengan bangga menjawab, "buat apa beli CD, kalau bisa unduh GRATIS".

Sekali lagi, miris. Kalau unduhnya legal, it is okey, dude! Tapi ini ilegal. Parah banget sih.

Situs Malesbanget.com pernah melansir fakta bahwa per hari ada 6 juta lagu yang diunduh melalui situs ilegal. Kalau satu lagu dipatok dengan harga Rp.1.000,- berarti akan ada kerugian sebesar Rp 6 Miliar per hari. Itupun tahun 2013 guys. Bagaimana tahun 2018 ya?

Tren menjamurnya situs atau applikasi streaming musik legal yang belakangan ini muncul merupakan salah satu alternatif yang oke untuk mengurangi pembajakan. Setuju nggak?

Contohnya seperti iTunes, Spotify, Joox, Yonder, Guvera dan masih banyak lagi. Sederet situs tersebut berani memberikan balasan apresiasi kepada sang musisi berupa eksistensi hingga pundi-pundi rupiah.

Sebuah akun Instagram @infia_showbiz pernah memberikan postingan pada Insta Story, yang berisikan penjelasan mengenai berapa besar bayaran yang diberikan beberapa situs streaming kepada para musisi.

Untuk setiap satu kali klik lagu sang musisi didengarkan, maka mereka bisa mendapatkan royalti sebesar Rp 15,- hingga Rp 100,-. Terlihat kecil memang. Tapi, kalau lagu tersebut didengar berulang kali oleh banyak orang, lain ceritanya.

Walaupun pendapatan yang didapat para musisi dari situs streaming mungkin nggak sebanyak pendapatan dari penjualan melalui CD, seenggaknya lagu-lagu mereka udah “dibayar” dengan royalti yang bernilai jelas. Daripada diunduh secara illegal kan? Jelas malah rugi.

Sekarang permasalahannya adalah apakah kita mau menghabiskan kuota untuk streaming lagu-lagu dari situs tersebut? Guys, kalau dipikir-pikir lagi nih ya, kita cuma menghabiskan kuota yang nggak seberapa loh untuk menghargai karya mereka.

Lagi pula, layanan streaming legal biasanya memberikan fitur unduh agar kita bisa mendengarkan lagu favorit kita secara offline alias tanpa kuota. Sekali lagi, jenis unduh yang satu ini masuk dalam kategori legal. Itu juga bisa dibilang gratis kok, sama seperti yang disukai banyak orang, GRATIS. Yah, walaupun sebenarnya kita harus mengorbankan beberapa byte dari kuota internet terlebih dahulu.

But, please guys, itu nggak sebanding dengan kerugian yang didapat para musisi yang telah berkarya dengan susah payah.

Case-nya gini. Kalau mau makan, kita harus merogoh kocek. Entah ribuan sampai puluhan ribu rupiah. Bahkan terkadang lebih. Kalau nggak mau bayar, berarti kita rela mati menahan lapar. Atau habis kita makan, eh langsung ngacir nggak pakai bayar. Ya ampun. Maling dong namanya.

Nah, begitu juga halnya dengan menikmati karya seni orang.

Kita mau menikmati karya si A, rogoh kocek dong. Kalau nggak mau, jangan dinikmati. "Tapi kan bisa diunduh gratis….".

Duh, dasar maling.

Jadi, masih mau unduh lagu secara ilegal nih? (nzr/ash)

Related Articles
Entertainment
Single Baru "Bumi dan Bulan" dari Hivi! Cocok Buat Kamu yang Lagi Ambyar

Entertainment
Cobain Deh! Ini Dia 5 Lagu Hits di Tik Tok

Entertainment
Untuk Donasi: Avril Lavigne Muncul Dengan Remake Single "We Are Warrior"