Interest

5 Dampak Perubahan Iklim Paling Mengkhawatirkan dari Laporan Terbaru PBB

Dwiwa

Posted on August 10th 2021

Sebuah laporan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dirilis pada Senin memperlihatkan gambaran mengerikan bagi masa depan Bumi.

Dilansir USA Today laporan dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) PBB menyebut jika perubahan iklim telah menyebabkan perubahan yang tidak dapat diperbaiki selama ratusan hingga ribuan tahun ke depan.

Dampak dari cuaca yang lebih ekstrem dirasakan di seluruh dunia. Peningkatan suhu global rata-rata yang dapat berdampak buruk mungkin terjadi lebih cepat dari yang diperkirakan. Dijuluki “kode merah untuk kemanusiaan” oleh PBB, laporan itu dengan tegas mengatakan manusia telah menyebabkan perubahan iklim, mendorong esmisi gas rumah kaca, dan menyebabkan cuaya yang lebih hangat.

Berikut lima temuan paling mengkhawatirkan dalam laporan tersebut. 

 

1. Kita mungkin mencapai pemanasan 1,5 derajat Celcius lebih cepat

“Salah satu kesimpulan yang paling mencolok adalah bahwa kita mungkin mencapai pemanasan 1,5 derajat Celcius satu dekade lebih awal dari yang ditemukan IPCC sebelumnya,” ujar Helen Mountford dari World Resource Institute.

Laporan tersebut mengatakan jika pemanasan 1,5 derahat Celcius akan meningkatkan gelombang panas, memperpanjang musim hangat dan memperpendek musim dingin. Jika suhu 2 derajat lebih hangat, panas ekstrim akan lebih sering mencapai ambang batas toleransi kritis untuk pertanian dan kesehatan.

Dalam lima skenario tingkat emisi gas rumah kaca yang diperkirakan dalam laporan, setidaknya 1,5 derajat adalah perkiraan terbaik untuk peningkatan suhu dari 2021 sampai 2040. Bahkan pemanasan 1,5 derajat lebih mungkin terjadi dalam 20 tahun ke depan. Skenario emisi gas rumah kaca terendah juga menunjukkan ksiaran kenaikan suhu pada 2100 kemungkinan besar 1 hingga 1,8 derajat Celcius.

 

2. Perubahan iklim yang disebabkan manusia sudah memengaruhi seluruh dunia

Dampak perubahan iklim telah memengaruhi wilayah di seluruh dunia. Perubahan iklim ini berpengaruh pada banyak cuaca dan iklim ekstrem seperti panas, hujan lebat, dan kekeringan. Sejak penelitian terakhir IPCC, bukti pengaruh manusia terhadap peristiwa cuaca tertentu telah menguat.

Laporan tersebut menyebut jika panas yang ekstrim lebih sering terjadi dan intens di sebagian besar dunia sejak 1950. IPCC dengan keyakinan tinggi menegaskan bahwa perubahan iklim yang disebabkan manusia adalah pendorong utama. Tanpa pengaruh manusia, beberapa dari yang sangat ekstrim menjadi tidak mungkin.

Laporan tersebut menemukan jika badai menghancurkan yang masuk kategori 3 sampai 5 mungkin telah meningkat selama 40 tahun terakhir. Manusia telah meningkatkan kemungkinan kejadian cuaca majemuk yang ekstrim, seperti frekuensi kekeringan, kebakaran akibat cuaca, dan banjir

 

3. Suhu global meningkat, cuaca ekstrim akan memburuk

Laporan tersebut juga menemukan hubungan langsung antara kenaikan suhu dan cuaca ekstrem. Untuk setiap setengah derajat Celcius peningkatan suhu rata-rata global, diperkirakan memberikan peningkatan yang jelas dalam gelombang panas yang ekstrem, curah hujan tinggi, dan kekeringan.

Misalnya, suhu panas ekstrim yang biasanya terjadi hanya sekali setiap 10 tahun tanpa perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia, kemungkinan akan terjadi 4,1 kali jika suhu meningkat 1,5 derajat Celcius. Jika suhu meningkat 2 derajat suhu ekstrem yang biasanya sekali dalam 10 tahun kemungkinan akan terjadi 5,6 kali. Skenario terburuk, pemanasan 4 derajat akan membuatnya terjadi 9,4 kali.

Dan setiap peningkatan suhu global akan menyebabkan penurunan es laut Arktik, lapisan salju, dan lapisan es.

 

Banyak perubahan di bumi irreversible selama ratusan dan ribuan tahun

Di sejumlah daerah, emisi gas rumah kaca telah menyebabkan kerusakan permanen. Menurut laporan tersebut, efeknya akan terasa dalam skala waktu beradab abad hingga ribuan tahun.

Laporan itu mengatakan perubahan suhu laut dan pengasaman laut, pencairan gletser gunung dan kutub, serta kenaikan permukaan laut diperkirakan akan terus berlanjut selama ratusan tahun terlepas dari campur tangan manusia.

Selama 2 ribu tahun ke depan, bahkan jika suhu global hanya meningkat 1,5 derajat, rata-rata permukaan laut global diperkirakan naik 2 sampai 3 meter. Hilangnya es di Greenland selama abad ke 21 hampir pasti dan ada keyakinian tinggi bahwa hilangnya es akan meningkatkan emisi kumulatif.

 

Saat emisi dan suhu meningkat, siklus air bumi jadi lebih intens

Siklus air hangat diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh kenaikan suhu global dan emisi gas rumah kaca. Saat iklim menghangat, siklus air bumi akan semakin cenderung lebih ekstrem. Di beberapa daerah, ini berarti musim hujan yang lebih basah dan di tenpat lain musim kemarau yang lebih kering.

Peningkatan variabilitas curah hujan yang terkait dengan El Nino sangat mungkin terjadi dalam tiga skenario emisi global.  Cara bumi secara alami memerangi peningkatan emisi karbon kemungkinan akan terpengaruh dalam beberapa dekade mendatang.

Penyerap karbon bumi – umumnya hutan dan lautan – akan menyimpan peningkatan jumlah karbon di bawah skenario dengan emisi lebih tinggi. Tetapi mereka akan kurang efektif dalam skenario tersebut. Hasilnya, tingkat emisi yang lebih tinggi tetap akan ada di atmosfer. (*)

Artikel Terkait
Interest
Sempat Turun Awal Pandemi, Emisi Karbon Diperkirakan Naik Lagi di 2021

Interest
Pemanasan Global 1,5 Derajat Celcius Bisa Jadi “Bencana" Bagi Kesehatan

Current Issues
Studi Kaitkan Bahaya Iklim dengan 58 Persen Penyakit Menular Pada Manusia