Current Issues

Ahli: Suntikan Booster untuk Negara Kaya Tidak Akan Mengakhiri Pandemi

Dwiwa

Posted on August 9th 2021

Peperangan melawan Covid-19 memasuki era baru. Jika dulu awalnya semua negara menghadapi pandemi dengan tangan kosong, seiring berjalannya waktu peperangan mulai berubah. Dunia terbagi menjadi dua, negara yang memiliki senjata untuk melawan virus dan yang tidak.

Varian Delta yang lebih mudah menular menimbulkan kekhawatiran baru dalam perang melawan Covid-19. Negara-negara kaya mulai mempertimbangkan dosis ketiga vaksin Covid-19 guna memberikan perlindungan lebih ampuh bagi warganya. Sementara di bagian dunia lain, masih banyak orang yang sekarat karena kurangnya vaksin dosis pertama dan kedua.

Dilansir dari CNN, vaksinasi telah terbukti menghentikan kematian pada gelombang ketiga di Inggris. Pada pertengahan Juni, saat kasus Covid-19 melonjak lagi, 45 persen warga Inggris telah mendapat vaksinasi penuh dan 62 persen setidaknya mendapat satu dosis. Kematiannya pun cenderung rendah.

Namun di bagian lain dunia, ratusan juta orang masih menunggu mendapat dosis pertama dan mendapatkan kekebalan kawanan yang tampaknya seperti mimpi.

Afrika dan Asia Tenggara, di mana tingkat vaksinasi rendah, mengalami lonjakan kasus terburuk selama pandemi. Pihak berwenang dihadapkan pada masalah mendesak dan tampaknya tidak dapat diatasi: Bagaimana cara mengurangi kematian tanpa vaksin dan pada populasi yang tidak lagi mampu tinggal di rumah.

Hal itu membuat badan internasional, organisasi bantuan kemanusiaan, spesialis penyakit menular, dan para pengamat etik telah memperingatkan negara untuk tidak memberikan suntikan booster sampai lebih banyak data menunjukkan apakah ini memang diperlukan atau tidak.

Sebaliknya, mereka meminta kepada pemerintah untuk mendonasikan dosis vaksin kepada negara miskin yang tengah kesulitan dengan pasokan dan juga mengalami peningkatan kasus. Tetapi menyebarnya varian Delta telah membuat perhitungan berubah bagi pejabat AS dan Eropa yang khawatir dengan kemungkinan gelombang musim dingin dan penerapan lockdown kembali.

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus, pada Rabu juga menyerukan moratorium pada booster vaksin setidaknya hingga akhir September. Tujuannya adalah mendapatkan 10 persen dari populasi setiap negara yang divaksinasi.

WHO menjelaskan jika negara kaya telah memberikan hampir 100 dosis untuk setiap 100 orang. Sedangkan negara berpenghasilan rendah hanya dapat mengelola 1,5 suntikan untuk setiap 100 orang karena kurangnya persediaan.

Badan kesehatan tersebut juga meminta vaksin di negara-negara berpenghasilan tinggi untuk diberikan kepada negara berpenghasilan rendah. Tedros pun menyerukan kepada pemimpin di G20, yang termasuk AS dan Uni Eropa, untuk melakukan lebih banyak hal guna meningkatkan akses global.

Andrea Taylor, asisten direktur di Duke University Global Health Innovation Center mengatakan kepada CNN jika memprioritaskan suntikan booster dibanding mengakhiri penularan global akan membuat semua orang, termasuk yang ada di negara kaya, dalam posisi yang lebih berbahaya. Taylor menganalogikannya seperti memberi plester di lubang menganga.

“Seperti yang kita lihat di Asia Selatan, ketika transmisi yang tidak terkendali dan varian Delta mengambil alih, dan kini tidak ada yang mencegah hal itu terjadi di benua Afrika. Jadi, sangat mungkin kita akan berakhir pada situasi di mana kia akan menghadapi varian yang lebih berbahaya, lebih menular, lebih infeksius muncul dari penyebaran yang saat ini kita lihat di Afrika,” ujarnya.

Dari empat daerah utama yang memproduksi vaksin pada skala besar - AS, Uni Eropa, India, dan Tiongkok - Uni Eropa telah mengekspor paling sedikit. Itu bahkan setelah India menghentikan ekspor setelah gelombang Delta yang mematikan.

WHO dan agen kesehatan masyarakat lain juga mengatakan jika tidak ada seorangpun yang aman sampai semuanya aman. Karena semakin lama virus corona ini beredar, semakin besar kemungkinan munculnya varian baru – berpotensi resisten terhadap vaksin – dan memperpanjang ancaman pada dunia.

Tetapi negar Barat tampaknya terus fokus pada “perlombaan vaksin” dan membuat framing jika garis akhir pandemi adalah masalah domestik bukan internasional.

Para ahli mengatakan, bukan hal mengejutkan jika “perang berubah” saat menghadapi varian Delta yang lebih mudah menular. Negara kaya akan beralih melindungi populasi mereka sendiri. Para ilmuwan juga mengingatkan jika dengan berfokus untuk membuat semakin banyak orang divaksin dengan metode hadiah dan hukuman, AS dan Uni Eropa tidak akan menghentikan virus menyebar di tempat lain.

Maureen Kelley, anggota Komite Etik WHO untuk penelitian Covid-19 mengatakan jika negara-negara kaya dengan cakupan vaksinasi memadai tidak bergeming untuk membagi dosis berdasar argumen etik tentang keadilan dan ekuitas, semoga mereka bisa dibujuk oleh ancaman varian masa depan yang berada di luar bayangan mereka. (*)

Related Articles
Current Issues
5 Hal yang Membuatmu Bisa Terpapar Covid-19 Varian Delta

Current Issues
Sempat Disebut Kesalahan Lab, Ini Fakta Varian Deltacron yang Kini Diakui WHO

Current Issues
Bukan Hanya Delta, Para Ilmuwan Juga Waspada Varian Gamma