Current Issues

Tips Menjaga Kondisi Tubuh Saat Jalani Isolasi Mandiri

Dwiwa

Posted on August 8th 2021

Masih tingginya tingkat penularan Covid-19 di Indonesia membuat jumlah kasus aktif masih cukup banyak. Rumah sakit pun diprioritaskan bagi pasien Covid-19 yang mengalami gejala berat. Sementara yang bergejala ringan atau tidak bergejala, diminta untuk melakukan isolasi mandiri di rumah.

Saat sedang menjalani isolasi mandiri, kalian pun perlu memperhatikan sejumlah hal agar tidak mengalami perburukan gejala yang mungkin dapat mengencam jiwa. Tidak hanya bagi pasien yang sedang isoman, tetapi juga untuk keluarga yang tinggal di rumah yang sama.

Hal pertama yang harus dilakukan adalah memisahkan diri dari keluarga yang lain. Tinggalah di kamar yang memiliki ventilasi yang baik dan batasi pergerakan selama menjalani isoman.

“Kalau tidak punya ruang sendiri, pembatas, maka lebih baik isolasi terpusat yakni di fasilitas pelayanan kesehatan (misalnya Wisma Atlet),” ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi. Hal itu ia sampaikan dalam webinar tentang fakta dan hoaks Covid-19 seputar pejuang isolasi mandiri.

Selain kamar tinggal, usahakan juga toilet dan kamar mandi dipisahkan dari anggota keluarga yang lain. Jika toilet tidak bisa dipisah, segera bersihkan dengan disinfektan setelah toilet digunakan. Pastikan juga anggota keluarga lain rutin mencuci tangan setiap selesai melakukan kegiatan.

Peralatan makan juga harus dicuci dan disimpan secara terpisah. Gunakan air bersuhu 60-90 derajat Celcius dan gunakan sarung tangan bila yang mencuci bukan pasien Covid-19.

Jangan lupa juga untuk diam di rumah selama 14 hari meskipun tidak bergejala, berjemur antara pukul 10.00-13.00, menerapkan etika batuk, memakai masker 24 jam begitu juga dengan anggota keluarga yang lain.

Selain itu, buat juga catatan harian terkait gejala, suhu dan saturasi oksigen, laju napas, dan keluhan lain secara rutin. Saturasi oksigen bisa diketahui dengan menggunakan oximeter.  Saturasi oksigen disebut normal jika berada di angka 95-100 persen.

Selain itu, pantau juga ada tidaknya sesak napas dengan cara menghitung napas. Normalnya, orang bernapas 16-20 kali permenit. Jika napas terhitung lebih dari 24 kali permenit, itu sudah bisa dikategorikan sesak napas.

Selain itu, asupan makanan bergizi serta obat-obatan sesuai gejala juga perlu dikonsumsi agar pemulihan bisa berlangsung lebih cepat. Biasanya, jika melapor ke Puskesmas akan diresepkan sejumlah obat sesuai dengan gejala yang dikeluhkan. Bila demam, parasetamol bisa digunakan untuk menurunkan demam.

“Prinsipnya isolasi mandiri itu kita memberi kesempatan pada tubuh untuk membangun sistem kekebalan optimal demi melawan virus. Selain fokus melawan virus, ditambah booster dengan berbagai macam obat-obatan,” ujar Nadia.

Cara minum dan dosis yang diberikan juga harus sesuai. Tujuannya adalah agar obat bisa membantu penyembuhan dan tidak menyebabkan penyakit lain, misalnya sakit lambung.

Tidak hanya obat, vitamin juga menjadi asupan yang dapat mempercepat kesembuhan. Misalnya vitamin C yang bisa dikonsumsi tiga kali sehari sau tablet (500 mg) selama dua pekan untuk yang bersifat non-acidic.

Bisa juga vitamin C tablet isap dua kali sehari satu tablet (500 mg) selama sebulan atau multivitamin mengandung vitamin B, C, E, dan zink dua tablet sehari (satu bulan). Vitamin D bisa dikonsumsi sehari satu tablet 400-1000 IU. Obat-obatan herbal yang terdaftaar di BPOM juga boleh dikonsumsi. Jangan lupakan obat rutin penyakit yang similiki seperti hipertensi, diabetes, atau asma (bila ada).

“Kalau bergejala ringan tanpa sesak, biasanya diberikan Oseltamivir, atau Favipiravir, juga Azithromycin. Tetapi jangan men-stok karena obat-obatan ini harus diberikan di bawah pengawasan dokter,” tambah Nadia. Dia merekomendasikan untuk mengakses laman farmaplus.kemkes.go.id untuk mengetahui ketersediaan obat.

Jika diperlukan, pasien isoman juga bisa menggunakan fasilitas telemedisin dari pemerintah lewat isoman.kemkes.go.id/periksa. Satu hal lain yang tidak kalah penting adalah menjaga kesehatan mental selama menjalani isoman.

Kalian bisa melakukannya lewat berkomunikasi dengan teman atau saudara, membaca buku, dan menghindari kabar yang tidak benar alias hoaks. Terakhir, jika memang gejala mengalami perburukan, segera hubungi atau datangi fasilitas kesehatan terdekat.

"Isolasi mandiri selesai setelah 10 hari apabila tanpa gejala dan ditambah 3 hari bebas gejala untuk mereka yang bergejala. Setelahnya, Anda tak perlu melakukan pemeriksaan rapid atau PCR ulang,” ujar Nadia.(*) 

Artikel Terkait
Current Issues
Manfaat Vitamin D untuk Mengatasi Gejala Covid-19 Akibat Omicron

Current Issues
Biar Nggak Panik, Ikuti Tips Aman Covid-19 dari Dokter Faheem Younus Berikut

Current Issues
Harus Isolasi Mandiri karena Positif Covid-19? Lakukan 13 Hal Wajib Ini...