Tech

Amazon Akan Bayar Pelanggan Rp 140 Ribu untuk Pindai Telapak Tangan, Buat Apa?

Jingga Irawan

Posted on August 3rd 2021

Credit: TechCrunch

Di dunia memang tak ada yang gratis, sampai cap telapak tangan pun ada harganya. Melansir TechCrunch, Selasa (3/8), raksasa ritel terbesar di dunia, Amazon, berani membayar USD 10 dalam bentuk kredit promosi jika ada yang bersedia mendaftarkan telapak tangan/sidik jari di toko bebas checkout otomatis. Data itu akan disambungkan ke akun Amazon.

Tahun lalu, Amazon memperkenalkan pemindai telapak tangan biometrik barunya, Amazon One. Teknologi itu membuat pelanggan dapat membayar barang di beberapa toko hanya dengan meletakan tangan di atas alat tersebut.

Pada Februari, perusahaan memperluas pemindai telapak tangannya ke toko kelontong, buku, dan toko yang berada di bawah Amazon lainnya di seluruh Seattle, Whasington.

Sejak saat itu teknologi pemindaian biometrik Amazon meluas ke toko-tokonya di seluruh AS, termasuk New York, New Jersey, Maryland, dan Texas.

Perusahaan yang dibesarkan oleh Jeff Bezos itu mengatakan bahwa perangkat keras pemindaian biometriknya dapat menangkap karakteristik kecil telapak tangan, baik area permukaan seperti garis, tonjolan, hingga pola vena, yang kemudian disimpan di cloud dan digunakan untuk mengonfirmasi identitas kalian saat kalian berada di salah satu tokonya dan melakukan pembayaran.

Namun para pengamat teknologi penasaran maksud di balik keinginan Amazon menggunakan data ini. Cetak sidik jari dan telapak tangan mungkin terlihat sepele bagi sebagian besar orang. Tetapi itu tak lagi sepele jika disambungkan ke akun Amazon. Dengan begini, Amazon dapat menggunakan data yang dikumpulkannya, seperti riwayat belanja untuk menargetkan iklan, penawaran, dan rekomendasi lainnya.

Amazon juga mengatakan berwenang menyimpan data telapak tangan tanpa batas waktu tertentu, kecuali jika kalian memilih untuk menghapus data setelah tak lagi membutuhkan transaksi di tokonya, atau jika kalian tak menggunakan fitur tersebut selama dua tahun.

Meskipun ide pemindaian sidik jari untuk membayar barang di toko selama Pandemi Covid-19 mungkin terdengar sangat futuristik dan canggih, pengguna tetap harus berhati-hati. Pasalnya, Amazon punya riwayat buruk di masa lalu dalam pengembangan teknologi biometrik.

Teknologi pengenalan wajah kontroversial Amazon, yang pernah dijual ke polisi dan penegak hukum, menjadi subjek tuntutan yang menuduh perusahaan tersebut melanggar undang-undang negara bagian yang melarang penggunaan data biometrik pribadi tanpa izin.

"Masa depan fiksi ilmiah dystopian memang sudah terjadi. Mengerikan bahwa Amazon meminta orang untuk menjual tubuh mereka, dan yang lebih buruk lagi bahwa orang melakukannya dengan harga yang begitu rendah," Albert Fox Cahn, direktur eksekutif Proyek Pengawasan Teknologi Pengawasan yang berbasis di New York.

"Data biometrik adalah satu-satunya cara agar perusahaan dan pemerintah dapat melacak kita secara permanen. Kalian dapat mengubah nama, kalian dapat mengubah nomor asuransi, tetapi kalian tak bisa mengubah sidik jari. Semakin kita menormalkan taktik ini, semakin sulit untuk melarikan diri. Jika kita tak memulai tindakan, saya sangat takut seperti apa masa depan kita semua," kata Albert.(*)

 
Related Articles
Tech
Catat Sejarah Baru, Jeff Bezos Sukses Tur Antariksa Bersama Blue Origin

Tech
Karena Pandemi, FedEx Kini Manfaatkan Robot untuk Sortir Paket Antaran

Tech
Amazon Kembangkan Kulkas Pintar, Bisa Mendeteksi Kapan Makanan Kedaluwarsa