Current Issues

CDC: Vaksin Terbukti Melindungi dari Tingkat Keparahan Varian Delta

Mainmain.id

Posted on August 2nd 2021

Varian Delta yang dikenal sangat menular kini sedang menjadi pembahasan serius di Amerika Serikat. Sebab, di sana kasus Covid-19 sedang melonjak lagi. Kasus-kasus itu terjadi pada daerah dengan tingkat vaksinasi rendah.

Pekan lalu, sebuah studi baru yang dirilis oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS. Mereka mengatakan, infeksi varian delta memiliki viral load yang sama tinggi, baik pada orang yang divaksinasi maupun tidak divaksinasi. Tapi, CDC menekankan bahwa tingkat keparahan yang disebabkan varian delta ini lebih rendah pada orang yang telah divaksin penuh. Dibandingkan dengan mereka yang belum divaksin.

Sekedar diketahui, saat ini di AS sebanyak 164 orang telah divaksin lengkap. Angka itu hampir setengah dari total populasi AS. Nah, dari data itu, penelitian CDC menunjukkan bahwa orang yang divaksinasi ketika terinfeksi varian delta juga dapat dengan mudah menularkan virus. Hal inilah yang kemudian mendorong CDC mengeluarkan pedoman baru yang meminta setiap individu -termasuk yang divaksinasi penuh- agar terus memakai masker di dalam ruangan.

Pada saat yang sama, laporan CDC juga menggarisbawahi bahwa jumlah kasus dan kematian pada orang yang divaksinasi lengkap sangat kecil, dibandingkan mereka yang tidak vaksin.

Data CDC menunjukkan, orang yang sudah vaksin lengkap ketika terinfeksi virus corona cenderung tidak sakit atau tanpa gejala. Prof Dr Clare Roc dari Johns Hopkins University juga membenarkan hal itu. Pada CNET, Dr Clare Roc mengatakan, seseorang yang telah divaksinasi penuh ketika mendapati tes Covid-19 positif, kebanyakan hanya memiliki gejala ringan. "Bahkan tidak menunjukkan gejala," kata Dr. Clare Rock.

Lantaran orang yang divaksin ketika terpapar Covid-19 masih bisa menularkan virus, maka CDC meminta seseorang jika merasakan gejala langsung mengisolasi diri. Terutama menghindar dari orang-orang yang memiliki kerentanan medis.

Dalam beberapa kasus di AS, beberapa orang yang baru saja divaksin masih bisa terpapar virus. Hal itu disebabkan karena vaksin memang efektifnya dua pekan untuk membentuk kekebalan pada tubuh.

Dr Rock mengatakan, memang ada kasus orang yang divaksin ketika terpapar Covid-19 mengalami gejala serius. Bahkan sampai meninggal dunia. Namun hal itu mayoritas terjadi pada orang-orang dengan kondisi medis yang membuat mereka immunocompromised. Biasanya terjadi pada orang yang punya kanker atau mereka yang pernah menjalani transplantasi organ.

Perlukah suntikan vaksin lagi untuk booster? Sejauh ini CDC belum menganggap hal itu diperlkukan. Saat ini para ilmuwan masih terus mempelajari kekebalan orang yang divaksinasi lengkap untuk mendapatkan gambaran lebih baik tentang seberapa efektif vaksin melindungi mereka.

Namun, kata Dr Rock, perusahaan vaksin Moderna saat ini sedang meneliti soal booster. Moderna ingin mendapatkan data apakah dan kapan suntikan booster mungkin diperlukan. Misalnya, orang yang rentan dan tidak memiliki sistem kekebalan kuat -seperti mereka yang memiliki kondisi medis serius- mungkin memerlukan suntikan tambahan.

Hal yang sama juga dilakukan Pfizer. Mereka sedang mengerjakan suntikan booster vaksin COVID-19 (PDF) untuk meningkatkan kekebalan bagi mereka yang telah menerima kedua dosis. Inggris juga sedang mempersiapkan suntikan booster. Para ahli vaksin di Inggris mengatakan suntikan booster mungkin diperlukan sebelum musim dingin.

CDC menyebut varian yang paling memprihatinkan saat ini adalah varian delta. Varian ini kini menjadi strain dominan di AS dan negara lain. Dibandingkan dengan varian alpha, para peneliti telah menemukan delta menjadi 60 persen lebih menular. Varian ini meningkatkan risiko rawat inap jauh lebih tinggi pada orang yang tidak divaksinasi. Di AS sendiri peningkatan kasus terjadi di daerah tingkat vaksinasinya masih yang rendah. Misalnya, negara bagian Louisiana dan Florida.

"Efektivitas vaksin melawan penyakit parah masih substansial. Jadi tetap dapatkan vaksin untuk perlindungan terhadap penyakit," kata Dr. Anthony Fauci dalam konferensi pers Gedung Putih 22 Juli.(*)

Related Articles
Current Issues
Data AS Tunjukkan Peningkatan Infeksi di Antara Orang yang Divaksinasi Penuh

Current Issues
Warga AS yang Sudah Divaksin Kembali Disarankan Pakai Masker di Area Tertentu

Current Issues
Apakah Vaksin Covid-19 Menghentikan Penularan Varian Delta?