Tech

Peneliti Korea Ciptakan Teknologi Cek Suhu Tubuh Lewat Kamera Ponsel

Mainmain.id

Posted on July 28th 2021

Ketika Covid-19 melanda dunia dan aktivitas sudah mulai kembali normal, ada normal baru yang seringkali harus kita lalui. Salah satunya cek suhu tubuh. Pengecekan ini kerap kita lalui ketika hendak masuk ke tempat-tempat private maupun publik.

Pemeriksaan suhu dilakukan karena peningkatan suhu tubuh dianggap sebagai salah satu gejala Covid-19. Terjadinya infeksi di dalam tubuh kita seringkali ditandai dengan peningkatan suhu tubuh. Nah, para peneliti di Korea Institute of Science and Technology (KIST) kini sedang mengembangkan teknologi baru yang memungkinkan pemeriksaan suhu tubuh dilakukan lewat kamera smartphone.

Penelitian itu dipimpin oleh Dr. Won Jun Choi di Pusat Bahan dan Perangkat Opto-Elektronik KIST. Penelitian itu telah mengembangkan sensor pencitraan termal yang bisa mengatasi masalah harga mahal serta batasan suhu pengoperasian. Sensor yang dikembangkan oleh tim itu dapat beroperasi pada suhu hingga 100 derajat Celcius, tanpa perangkat pendingin.

Para peneliti percaya terobosan itu akan lebih terjangkau daripada sensor standar yang ada di pasaran saat ini. Teknologi yang diteliti ini juga diharapkan bisa membuka jalan diterapkan di smartphone. Serta kendaraan otonom.

Untuk bisa diintegrasikan dengan perangkat keras di dalam smartphone dan kendaraan otonom, sensor harus beroperasi secara stabil pada suhu tinggi masing-masing 85 derajat Celcius dan 125 derajat Celcius. Selama ini, sensor pencitraan termal konvensional memerlukan perangkat pendingin untuk beroperasi dalam kondisi suhu tinggi seperti itu. Namun teknologi yang dibuat KIST ini tak perlu perangkat pendingin.

Perangkat pendingin itulah yang selama ini harganya mahal. Sehingga sensor termal pun harganya ikut mahal. Terlepas dari soal biaya, perangkat pendingin tidak membuat sensor cocok untuk diopersikan pada suhu di atas 85 derajat Celcius. Dengan keterbatasan seperti itu berarti sensor pencitraan termal belum cocok untuk aplikasi di smartphone atau kendaraan otonom.

Nah, para peneliti KIST mengembangkan sensor baru yang dikembangkan menggunakan film vanadium dioksida. Sensor itu stabil pada suhu 100 derajat Celcius. Perangkat dapat mendeteksi dan mengubah cahaya inframerah yang dihasilkan oleh panas menjadi sinyal listrik. Dengan begitu, kebutuhan perangkat pendingin bisa dikesampingkan.

Selama ini perangkat pendingin menyumbang lebih dari 10 persen dari biaya sensor pencitraan termal. Selain itu perangkat pendingin juga butuh konsumsi listrik dalam jumlah yang signifikan. Artinya boros di daya.

Para peneliti mengatakan, sensor baru mereka dapat memperoleh tingkat sinyal inframerah yang sama pada 100 derajat Celcius. Tanda tangan panas juga bisa dideteksi dengan sensitivitas tiga kali lebih banyak dan diubah menjadi sinyal listrik.

Sensor baru ini juga bisa menunjukkan kemampuan menangkap gambar termal pada 100 frame per detik dengan waktu respons sekitar tiga milidetik pada 100 derajat Celcius. Kemampuan itu 3-4 kali lebih cepat daripada sensor konvensional.(*) 

Related Articles
Tech
LG Akan Rilis Masker Berteknologi Air Purifier, Ada Teknologi Disinfeksinya

Tech
Perusahaan Pengenalan Wajah Cari Cara Agar Bisa Identifikasi Orang Pakai Masker

Tech
Gelar Wisuda di Tengah Pandemi, Kampus ini Ganti Wisudawan dengan Robot