Current Issues

Kurangi Pemanasan, UEA Ciptakan Hujan Buatan dengan Drone Penembak Listrik

Jingga Irawan

Posted on July 24th 2021


Credit: Instagram officialuaeweather.

Karena kenaikan suhu ekstrem dan penurunan permukaan air, Timur Tengah diperkirakan tak layak huni di masa depan. Dilansir dari Gizmodo, Sabtu (24/7), untuk melindungi wilayahnya dari kondisi yang semakin memburuk, Uni Emirat Arab (UEA) punya solusi unik. Mereka menggunakan drone penembak muatan listrik yang dapat membantu hujan turun.

Manusia telah mencoba berbagai strategi selama puluhan tahun agar dapat menurunkan hujan dari langit. Selama ini, manusia melakukan penyemaian menggunakan dinamit, perak iodida, dan partikel kecil yang disuntikkan ke awan melalui pesawat atau bahkan senjata anti-pesawat. Namun, teknologi yang dilakukan UEA sedikit berbeda.

Rekaman yang baru-baru ini dirilis oleh badan cuaca UEA menunjukkan hujan lebat turun di padang pasir. Tetesan air yang jatuh dilaporkan merupakan hasil uji coba drone. Uji coba ini menggunakan drone tak berawak yang bisa mengeluarkan muatan listrik. Menurut Gizmodo, listrik tersebut menjadi bahan utama untuk membuat hujan turun.

Muatan listrik pada dasarnya menarik tetesan untuk menyatu sama lain. Sehingga setiap tetesan menjadi lebih besar dan cukup berat untuk jatuh sebagai hujan. Karena di negara seperti UEA, tetesan hujan yang jatuh sering kali menguap sebelum mencapai tanah karena kelembapan yang sangat rendah.

Dengan teknik pengaliran listrik yang dilakukan UEA, setiap tetesan bisa menjadi lebih besar dari biasanya dan mampu jatuh mencapai gurun, mengisi kembali permukaan air yang telah kering.

Para peneliti di University of Reading, yang memimpin pengujian ini, telah beberapa kali memodelkannya serta melakukan tes berbasis balon selama setahun terakhir untuk mengukur kemanjuran yang diciptakan. Awal tahun ini, tes drone tersebut dimulai.

UEA bukanlah satu-satunya negara yang melakukan penyemaian awan dalam beberapa tahun terakhir. Tiongkok juga memiliki rencana besar untuk menyemai awan dari ketinggian Himalaya, sementara Korea Selatan dan Thailand telah menggunakan penyemaian awan untuk membuat hujan dan memerangi polusi.

Total curah hujan rata-rata tahunan tertinggi di UEA kurang dari 4 inci (10,2 sentimeter). Menurut Administrasi Perdagangan Internasional AS, di saat yang bersamaan, UEA adalah salah satu negara dengan tingkat konsumsi air per orang tertinggi di dunia.

Gizmodo menyebut bahwa UEA diperkirakan akan semakin mengering, sehingga pencarian sumber air dari mana saja, termasuk teknik mengubah awan bermuatan listrik, menjadi prioritas. Selain mengering, UEA diperkirakan akan terus memanas. Menurut data dari World Bank, jika emisi karbon berlanjut meningkat tanpa batas, suhu di negara tersebut bisa meningkat sekitar 4,3 derajat Fahrenheit (2,4 derajat Celcius) pada pertengahan abad.(*)

Related Articles
Tech
Tak Butuh Kasir, Minimarket Canggih Pertama Dibuka di Timur Tengah

Interest
Mau Lihat Air Mancur Terbesar yang Pecahkan Rekor Guinness World? Yuk ke Dubai

Current Issues
Terkena Covid-19 saat Naik Emirates? Jangan Sedih, Semua Biaya Bakal Dibayari