Hobi

A Perfect Fit, "FTV" Karya Garin Nugroho dengan Balutan Tradisi Bali

Gunawan Sutanto

Posted on July 23rd 2021

Ingat film televisi (FTV) era awal 2010an? Yang tayang di TV swasta tiap pagi menjelang siang. Yang judul-judulnya catchy. Biasanya ber-setting di Jogja atau Bali. Plotnya supersimpel. Dan agak-agak ajaib. Nah, A Perfect Fit mirip seperti itu. Hanya saja digarap dengan lebih serius.

A Perfect Fit punya daya pikat yang berbeda-beda buat setiap kelompok penonton. Ada yang tertarik pada film ini karena aktornya. Nadya Arina dan Refal Hady adalah pasangan aktor muda yang lumayan disukai.

Ada juga yang kepingin menonton karena setting Bali yang aduhai. Di sini, bukan hanya Kuta dan Ubud yang diekspos. Tapi juga bukit-bukit kapurnya yang indah, pantai terpencil, serta desa-desa pedalaman yang masih kuat memegang adat istiadat.

Lalu ada satu kelompok penonton lagi yang tertarik oleh hal lain. Yakni penulisnya. Skenario A Perfect Fit digarap oleh the one and only Garin Nugroho. Sutradara top Indonesia itu. Yang karya-karyanya—seperti Daun di Atas Bantal, Soegija, dan Aku Ingin Menciummu Sekali Saja—jadi langganan festival film internasional.

Jarang-jarang kan film baru Garin tersedia di layanan streaming? Seringnya sih, karya sineas 60 tahun itu bahkan sulit dinikmati di bioskop. Seperti itu tuh, yang terakhir, Kucumbu Tubuh Indahku. Yang batal tayang gara-gara diprotes kelompok intoleran… Dengan rekam jejak Garin, tentu fans punya harapan tinggi terhadap film bergenre komedi romatis ini.

Entah karena Garin kurang familiar dengan genrenya, atau karena ia tidak menulis sendirian, A Perfect Fit jauh di bawah ekspektasi. Setidaknya ekspektasi fans Garin. Ia menulis skenario film ini bareng sang sutradara, Hadrah Daeng Ratu. Sineas muda yang portofolionya didominasi film horor. Seperti Jaga Pocong, Malam Jumat, dan Makmum: The Movie.

Plot Sederhana

A Perfect Fit mengisahkan Saski (Nadya Arina), seorang fashion blogger asli Bali. Dia sudah bertunangan dengan Deni (Giorgino Abraham). Anak pengusaha properti kaya raya. Namun, takdir mempertemukan Saski dengan Rio (Refal Hady), si desainer sepatu yang ganteng dan keren. Setelah serangkaian kejadian memalukan, mereka saling jatuh cinta. Yeah

Namun, mereka tidak bisa bersatu. Karena Saski punya utang budi kepada keluarga Deni. Karena itu, Rio memilih menerima perjodohan dengan Tiara (Anggika Bolstelri). Teman masa kecilnya, yang juga anak keluarga kaya dari Makassar. Namun, sepanjang perjalanan, mata dan hati mereka perlahan terbuka.

Saski menemukan sifat-sifat Deni yang sangat buruk. Sementara Rio mendapati fakta, bahwa bagi Tiara, pernikahan itu hanya untuk menunjang bisnis dia. Saski dan Rio menyadari. Bahwa, ’’Memilih jodoh itu seperti memilih sepatu. Harus pas banget. Supaya enak dipakai berjalan,’’ begitu wejangan Pak Ketut, perajin sepatu di Desa Jatiluwih. Sudah. Gitu aja.

Detail Mengganggu

Mari kesampingkan plotnya yang FTV banget. The devil is in the detail. Yang lebih mengganggu daripada plot klisenya, adalah detail-detail yang ada dalam film ini. Banyak kejadian yang enggak realistis. Sejak paro pertama film, misalnya, kita sudah disuguhi interaksi Saski dan Rio yang ajaib.

Ceritanya, sepatu yang dibeli Saski di butik Rio tertukar. Hal itu menyebabkan kesalahpahaman yang dahsyat antara Saski dan Deni. Saski kembali ke gerai Rio di Jalan Gootama, Ubud, untuk marah-marah. Dia melempar sepatu ke Rio. Mengenai kepalanya. Dan… gubrak. Cowok gagah dengan otot perut kotak-kotak dan biceps bertonjolan itu pingsan seketika.

Alih-alih mencoba pertolongan pertama di dalam butik, Saski membawanya ke UGD. Naik taksi. Rio berbaring di pangkuan Saksi. Dan ketika diberi ’’napas buatan’’—tanpa resusitasi jantung paru-paru—tiba-tiba saja… jreeeeng! Mata Rio langsung terbuka. Mungkin adegan ini dimaksudkan untuk memberi sentuhan komedi. Sayang, enggak lucu.

Detail lain yang tak kalah cringe adalah aksen palsu para bintangnya. Nadya pasti bekerja keras belajar aksen Bali. Dan di beberapa bagian, cara berbicara dia terdengar otentik. Namun, terlalu sering dia keceplosan berbicara tanpa logat Bali. Jadinya tidak konsisten. Faktanya, warga Bali yang sering berinteraksi dengan orang luar juga enggak begitu-begitu amat cara bicaranya.

Artinya, kalau medok, ya harus medok sekali. Kalau tidak, ya biasa saja. Dan ingat, aksen Bali terdengar khas tidak hanya dari nada berbicaranya. Tapi juga dari pelafalan huruf-huruf tertentu. Nadya harus belajar banyak pada Ayu Laksmi—seniman senior Bali yang memerankan ibu dia—untuk berbicara dengan aksen Bali tanpa terdengar dipaksakan.   

Oh, ya, satu lagi yang bikin penonton ragu apakah skenarionya benar-benar ditulis Garin. Bli itu panggilan buat kakak laki-laki. Seperti ’’mas’’ dalam bahasa Jawa. Masak supir taksi sudah setengah baya dipanggil bli?

Budaya Bali

So, apakah A Perfect Fit tidak layak ditonton? Enggak juga. Masih banyak yang bikin film ini pantas masuk watch list. Salah satunya adalah unsur tradisi Bali yang sangat kuat. Film ini tidak hanya memanfaatkan keindahan Bali sebagai setting semata. Garin memasukkan beragam tata cara adat, budaya, hingga filosofi sebagai penggerak cerita.

Di sini, misalnya, kita bisa melihat teknik pembacaan lontar. Skill yang sudah jarang sekali dikuasai generasi muda. Ada juga scene melukat, alias ruwatan, yang dipercaya menolak bala. Menentukan hari pernikahan pun harus berdasarkan weton. Plus upacara-upacara. Bonusnya, terselip seremoni mappacing, yang merupakan adat Makassar. 

Oh ya, kita bisa menyaksikan Giorgino dan Refal adu kekuatan otot di film ini. Tepatnya lewat adegan mepantigan. Alias gulat lumpur. Tradisi yang masih lestari di kawasan Ubud dan Batubulan. Tapi kurang populer di kalangan wisatawan. Percayalah. Scene itu mengingatkan kita pada duel T’Challa versus Erik Killmonger di Black Panther. Hehehe

Yang harus diacungi jempol lagi dari A Perfect Fit adalah penanggung jawab kostumnya. Top notch! Melihat baju-baju Saski, Andra (diperankan Laura Theux), dan Tiara, rasanya seperti window shopping di butik-butik cantik Ubud. Belum lagi deretan sepatu Niluh Djelantik yang cakepnya enggak ketulungan. Benar-benar bikin kepingin liburan! (Retna Christa)

Tulisan ini sebelumnya tayang di rubrik film Harian Disway, partner mainmain.id. Informasi berlangganan klik di sini.    

Related Articles
Entertainment
Jalan Terjal Kucumbu Tubuh Indahku di Ajang Oscar 2020

Entertainment
Belajar Makna Kehidupan dari Film 'Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini' (NKCTHI)

Entertainment
Rilis Oktober, 3 Film Indonesia ini Wajib Kalian Tonton