Hobi

Abraham Zulkarnein, Kolektor Adidas Campus dan Superstar seri Lawas

Mainmain.id

Posted on July 23rd 2021

Adidas bisa dibilang sebagai merek apparel ternama. Satu yang bikin mereka dikenal sampai sekarang rutinnya rilisan ulang edisi-edisi lawasnya. Atau edisi pengembangannya dalam bentuk yang lebih baru. 

Abraham Zulkarnein termasuk yang setia mengoleksi sepatu Adidas edisi lawas. Pria yang akrab disapa Bram itu disebut sebagai salah satu yang kolektor terbesar di dunia. Saat ini, total koleksinya mencapai 300-an pasang. Hampir 90 persen adalah Adidas seri Campus dan Superstar. Semua lawas. 

Campus adalah jenis sepatu yang dirilis pertama kali pada 1983. Sedangkan Superstar lebih tua lagi. Adidas memperkenalkannya pada 1970. Dua model tersebut sering dirilis ulang. Berbentuk sama persis dengan aslinya dan hasli modifikasi untuk menyematkan pembaharuan.

”Saya lebih suka seri klasik. Tidak tertarik dengan model dan varian terbaru meski berkolaborasi dengan nama-nama tenar seperti musisi, seniman, dan lain sebagainya. Saya beli yang saya butuh, bukan yang saya inginkan,” kata Bram.

Perkenalannya dengan Campus diawali dengan sosok tenar, Chino Moreno. Vokalis band Deftones. Semasa SMA, ia sempat melihat Moreno manggung dengan memakai sepatu dengan tiga garis di sampingnya tanpa ia tahu sepatu apa itu. Keterbatasan informasi membuatnya sulit menemukan nama benda yang berhasil menarik perhatiannya. Bram hanya mengingat bentuknya.

Lalu, Campus diproduksi ulang pertama kali pada 2007. Barulah ia menemukan kecocokan dengan sepatu yang dipakai vokalis Deftones itu. Sejak itu ia menggali informasi yang terkait dengannya. Lantas mengoleksinya hampir setiap edisi.

Demi berburu, Bram harus berjuang mendapatkan barang incarannya dari dalam negeri. Hampir semuanya ia beli dari situs jual-beli di seluruh penjuru dunia. Mulai dari eBay, situs resmi, atau bertransaksi dengan sesama kolektor melalui forum diskusi. 

”Sebab memang sulit sekali menemukan model dan edisi yang diinginkan. Mungkin hanya sepuluh dari ratusan koleksi saya yang dibeli di sini (Indonesia, Red). Selebihnya dari luar negeri,” papar pria 38 tahun itu.

Dari sekian koleksi, edisi yang paling ia favoritkan adalah Adidas Campus 80’s Japan Pack Vintage. Dirilis pada 2015. Sebab ia paling nyaman. Konstruksinya pun kuat. Sehingga ia bisa memakainya selama bertahun-tahun.

”Superstar dan Campus 80’s ini memang awet karena menggunakan bahan karet pada solnya. Berbeda dengan kebanyakan sepatu lari yang menggunakan bahan plastik EVA demi mengejar rasa empuk. Biasanya akan hancur dengan sendirinya dalam beberapa tahun,” imbuh Bram.

Istimewanya, Bram menyimpan seluruh koleksinya itu di dalam ruangan khusus, Superior Father Care. Nama ruangan itu muncul sejak ada dua buah hatinya, Egen Zulkarnein dan Elio Zulkarnein. Semua koleksi ditempatkan di tembok. Sedangkan edisi-edisi tertentu ia letakkan di dalam lemari. Demi menjaga keawetan, ruangan tersebut dilengkapi dengan pengatur udara.

Selain dipajang di rumah, pria asli Surabaya itu sering memamerkan koleksi-koleksinya di beberapa event gaya hidup. Ia bisa membawa 150-an pasang sepatu untuk dipamerkan. Bukan bentuk presentasi atau pamer koleksi namun bentuk edukasi kepada masyarakat. ”Bahwa sneaker atau sepatu bersol karet bukan sekadar alas kaki. Tapi bisa diapresiasi dengan layak seperti karya seni,” terangnya. 

Baginya, cara mencintai sneaker adalah menjadi setia. Memilih satu model dalam satu merek lalu konsisten mendalaminya. ”Bukan lantas serong kanan serong kiri. Kebiasaan itu sah-sah saja dilakukan. Tapi jadi tidak menumbuhkan kebanggaan dalam diri,” tegasnya.

Ia pun tak segam menurunkan kecintaannya pada Adidas kepada dua buah hatinya. Bahkan tak masalah kalau mereka mau memakai koleksi ayahnya sendiri. Sebab sepatu hakikatnya ya dipakai. Bram sangat menyadari hal itu. Termasuk beberapa koleksinya yang bernilai cukup tinggi pun tidak menjadi masalah.

Namun kegemarannya dalam berburu sneaker sudah tidak segencar dulu. Ia hanya membeli kalau ada uang lebih. Keluarga baginya sudah menjadi prioritas utama. Meskipun sneaker menjadi benda nomor satu dalam hidupnya.

Sampai-sampai pernah menghemat jajan makanan demi beli produk yang diinginkan. ”Pikir saya duit mending dipakai buat beli sepatu daripada dipakai untuk hal yang tidak-tidak. Bisa dipakai sewaktu-waktu pula,” sebut pria yang akan berulang tahun pada 25 Juli itu.

Atas nama kesetiaan, Bram berjanji tidak akan berhenti mengoleksi. Ia sudah membayangkan kelak menjadi kakek dengan tetap memakai Adidas Campus 80’s. ”Ada rencana untuk mengganti nama ruangan penyimpanan koleksi saya menjadi Superior Grandfather Care saat saya sudah punya cucu nanti,” tandasnya. (Heti Palestina-Ajib Syahrian)

Tulisan ini sebelumnya tayang di rubrik hobi Harian Disway, partner mainmain.id. Informasi berlangganan klik di sini.

Related Articles
Lifestyle
Sejarah New Balance 574 dan Rilisan Terbarunya Tahun Ini

Lifestyle
adidas Lanjutkan Edisi 'Star Wars', Kali Ini Luke Skywalker Muncul di Stan Smith

Lifestyle
Siap-siap! Nike Air Max 2090 x Neymar Jr. Dirilis 2 Juni 2020