Current Issues

Studi: Pengiriman Barang Walmart, Ikea dan Amazon Sumbang Emisi Gas Berbahaya

Jingga Irawan

Posted on July 21st 2021

Kapal kontainer memasuki Pelabuhan Los Angeles pada 1 Februari 2021 di San Pedro, California. Credit: Mario Tamma/Getty Images via The Verge

Janji perusahaan raksasa, seperti Amazon dan Ikea, untuk melakukan bisnis ramah lingkungan sering kali kita dengar. Namun, beberapa kegiatan bisnis mereka rupanya masih menghasilkan banyak polusi yang berbahaya bagi lingkungan.

Dilansir The Verge pada Rabu (21/7), sebuah laporan baru menunjukkan bahwa beberapa perusahaan ritel terbesar di AS menghasilkan polusi dan emisi saat melakukan pengiriman barang. Pada  2019 saja, 15 perusahaan dalam laporan tersebut menghasilkan polusi iklim yang hampir sama dengan 1,5 juta rumah di AS dalam setahun.

Laporan tersebut menyoroti emisi gas rumah kaca dan polusi udara yang disebabkan oleh pengiriman tumpukan kargo di seluruh dunia dari 15 perusahaan pencemar terbesar.

Source: Pacific Environment and Stand.earth

Walmart berada di daftar teratas, menghasilkan lebih banyak emisi gas rumah kaca daripada pembangkit listrik tenaga batu bara dalam setahun. Ashley Furniture, Target, Dole, dan Home Depot melengkapi lima besar rank teratas. Sedangkan Ikea dan Amazon masing-masing berada di peringkat 7 dan 8. Sementara Samsung berada di peringkat ke-9, dan LG di peringkat ke-11.

Menurut para ahli, untuk sementara, pengiriman jalur laut adalah penyebab di balik tiga persen emisi gas rumah kaca dunia. Sedangkan pelaku bisnis individu yang bertanggung jawab atas polusi itu sebagian besar masih dapat menghindari pengawasan sampai sekarang. Namun, konsumen sebenarnya juga memiliki andil dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.

“Benar-benar belum ada penyelidikan terhadap pilar portofolio emisi perusahaan ini,” kata Madeline Rose, penulis utama laporan yang diterbitkan oleh kelompok lingkungan Pacific Environment and Stand.earth tersebut.

“Terus terang, dengan kondisi darurat lingkungan di depan kami, kami merasa ada gangguan besar pada sistem data dan perlu ada transparansi yang lebih besar.”

Untuk melacak emisi perusahaan, peneliti pertama-tama melihat database publik yang disebut Journal of Commerce, fungsinya mengidentifikasi importir terbesar AS berdasarkan volume.

Mereka kemudian bekerja sama dengan University Maritime Advisory Services (UMAS), yang memiliki akses ke database impor maritim lainnya, untuk melakukan referensi silang data publik dengan informasi kepemilikan mereka sendiri.

Mereka kemudian mencocokkan pengiriman retailer individu dengan kapal tertentu. Berdasarkan pelayaran kapal, mereka dapat memperkirakan konsumsi bahan bakar dan emisi yang dihasilkan. Tapi kemungkinan perkiraannya rendah, karena para peneliti tidak dapat memverifikasi keseluruhan pelayaran kargo yang dilakukan oleh anak perusahaan dengan nama yang berbeda dari perusahaan induknya.

“Karena datanya sangat buram (sedikit), mereka hanya menguasai sekitar 20 persen pasar dan kemudian mereka mengekstrapolasi dari sana,” kata Dan Rutherford, yang mengarahkan program penerbangan dan kelautan untuk International Council on Clean Transportation. Dan Rutherford tidak terlibat dalam penelitian.

“Saya kira itu wajar, karena datanya sendiri tidak tersedia. Tapi dengan begini, kita bisa menyadari bahwa kita membutuhkan aturan (mengenai emisi dan polusi yang dihasilkan perusahaan) dan transparansi (data) yang lebih baik.”

Penelitian ini juga masih belum memperhitungkan emisi dari perjalanan pulang kapal setelah menurunkan muatannya. Padahal, keterlibatan informasi lebih dalam bisa menjadi penting bagi masyarakat pesisir yang terkena dampak langsung polusi.

Menurut yang dirangkum The Verge, diperkirakan 60.000 orang meninggal sebelum waktunya setiap tahun setelah terkena polusi udara dari pengiriman barang. 15 perusahaan yang disebutkan dalam laporan baru tersebut misalnya, menghasilkan polusi udara yang sama banyaknya pada 2019, termasuk jelaga, sulfur oksida, dan nitro oksida, setara dengan puluhan juta mobil dan truk.

Karena pengiriman barang dapat melibatkan banyak perusahaan yang menjangkau beberapa negara, sulit untuk menetapkan emisi pengiriman negara mana pun. Sehingga membuat aturan terkait polusi industri sukar diatasi karena tidak jelas siapa yang harus dimintai pertanggungjawaban.

Pertanggungjawaban Perusahaan Terhadap Emisi

Menurut The Verge, terlepas dari janji iklim mereka, perusahaan seperti Ikea dan Amazon masih melakukan kerusakan signifikan pada Bumi, seperti yang ditunjukkan oleh laporan ini.

Kedua perusahaan kemudian menanggapi penelitian tersebut dengan pernyataan yang menyoroti komitmen ramah lingkungan mereka. Sementara Walmart, LG, dan Samsung belum menanggapi apa pun.

Ikea mengatakan ingin mengurangi dampak emisi gas rumah kaca daripada yang dijanjikannya pada 2030. Amazon sedang mencoba melakukan hal serupa pada 2040, dan bekerja untuk mendapatkan lebih banyak kendaraan listrik di jalan untuk memangkas emisi dari pengirimannya.

Menurut Madeline Rose, pemikiran untuk mengurangi emisi gas rumah kaca harus juga diterapkan pada proses pengiriman barang melalui laut. Sebab, sumber polusi yang ditimbulkan tak hanya dari proses produksi dan pengiriman darat.

“Salah satu masalah besar dengan pengiriman adalah sumber polusi yang sangat tidak terlihat. Jika kita tidak mengendalikan emisi kapal laut, kita tidak akan menyelesaikan darurat iklim,” tutup Rose.(*)

Related Articles
Current Issues
Polusi Udara di Eropa Menurun, tapi Penggunaan Plastik Melonjak Selama Lockdown

Current Issues
Covid-19 Ditemukan Menular di Beberapa Hewan, Apa Artinya Bagi Kita?

Current Issues
Ada Pandemi Covid-19, Tahun 2020 Tetap Catatkan Rekor Pemanasan Global