Current Issues

Jangan Terjebak dengan CT Value! Ini Fakta yang Wajib Diketahui...

Dwiwa

Posted on July 10th 2021

Dalam beberapa hari terakhir, CT Value alias cycle threshold menjadi salah satu topik yang hangat diperbincangkan. Apalagi, sejumlah postingan yang beredar di media sosial menyebutkan jika CT Value yang tertera di hasil tes RT-PCR disebut bisa menjadi acuan seseorang sembuh dari Covid-19. Tetapi benarkah demikian?

Dalam acara Live Instagram Jangan Sampai...Tertipu CT Value di akun dokter spesialis paru Diana Septiyanti @diana.septiyanti, dr. Raden Ludhang Pradipta Rizki, M. Biotech., Sp.MK, dokter spesialis mikrobiologi klinik, CT Value ini tidak bisa serta merta dijadikan acuan untuk menentukan apakah seseorang sudah sembuh dari Covid-19 atau belum.

“Bukan hal yang sederhana untuk mengartikan CT Value. Sehingga perhimpunan kami tegas mengatakan hati-hati menginterpretasikan CT Value. Harus konsultasi dengan yang mengeluarkan hasil itu,” ujar dokter lulusan Universitas Gadjah Mada tersebut.

CT Value sendiri merupakan jumlah siklus (putaran) yang dilalui dalam PCR untuk menemukan materi genetik virus dari sampel lendir yang diambil. Semakin besar nilai CT Value, maka jumlah materi genetik virus yang ada pada pasien akan semakin sedikit.

Meski begitu, Ludhang menekankan jika pengujian dengan RT-PCR ini hanya berfungsi untuk mengetahui ada tidaknya materi genetik virus dalam sampel. Tetapi metode ini tidak bisa membedakan mana virus yang viable (aktif) dan mana yang non-viable (tidak aktif/bangkai).

Itu artinya, seandainya nilai CT Value-nya rendah bukan serta merta berarti ganas. Begitu juga jika nilainya tinggi tidak berarti pasien sudah bebas dari virus. Untuk bisa menentukan apakah yang terdeteksi merupakan virus aktif atau non-aktif ini harus dilakukan dengan teknik kultur.

“Tolong masyarakat jangan samakan dengan pemeriksaan-pemeriksaan laboratorium yang lain,” lanjutnya. “Idealnya CT Value itu konsumsi laboratorium. Karena itu sejumlah laboratorium tidak mau mengeluarkan CT Value. Takutnya disalahpersepsikan.”

Ludhang membandingkan dengan sejumlah pemeriksaan laboratorium lain seperti gula darah, kolesterol, atau asam urat. Dalam pemeriksaan laboratorium tersebut, kita memang bisa menjadikan angka yang muncul sebagai acuan pengobatan. Tetapi dalam hal tes PCR Covid-19, bukan angka yang diobati.

Lalu kapan CT Value ini bisa menjadi acuan untuk menentukan kondisi seorang pasien yang positif Covid-19?

Menurut Ludhang, CT Value ini bisa digunakan dalam kepentingan klinis untuk memonitor pasien secara kontinyu. Misalnya saja pasien yang dirawat di rumah sakit, dilakukan pengujian sampel secara berkala dan didapati hasil PCR masih selalu positif. Jadi memang konsumsinya hanya untuk kondisi tertentu saja.

Lagi pula, ada sejumlah faktor yang memengaruhi angka CT Value ini. Mulai dari pengambilan sampel hingga saat sudah berada di laboratorium. Misalnya saja teknik dan waktu pengambilan, metode ekstraksi hingga reagen yang digunakan dalam tes RT-PCR.

Dokter yang berpraktek di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta ini pun menyarankan agar tidak terlalu memikirkan hasil dari CT Value. Hal yang terpenting adalah, jika hasilnya positif segera ambil tindakan yang diperlukan seperti melakukan isolasi mandiri.

Jadi jangan terjebak dengan angka CT Value. Kalau hasilnya positif ya berarti memang masih ada virus yang menginap di dalam tubuh. Jangan justru angka tersebut membuat kita cemas sehingga menurunkan imun yang sangat penting untuk melawan infeksi virus.

CT Value itu merupakan ranahnya laboratorium dan jadi parameter laboratorium. Ini bukan menjadi satu-satunya parameter menentukan apakah pasien masih bisa menularkan penyakit atau tidak. Selalu berkonsultasilah dengan dokter terkait apa langkah selanjutnya yang perlu dilakukan.(*)

Related Articles
Current Issues
Indonesia Hingga Jepang Kembangkan Sistem Pengujian Covid-19 Lewat Napas

Current Issues
Pemerintah Tetapkan Harga Tes Swab Covid-19 Hanya Rp 900.000

Current Issues
Begini Efeknya Kalau Kalian Pakai Maskernya Gak Bener...