Current Issues

Ahli Penyakit Menular: Orang Tidak Divaksin Berpotensi Jadi “Pabrik Varian”

Dwiwa

Posted on July 9th 2021

Ada peringatan penting nih buat kalian yang masih tidak mau divaksin. Menurut ahli penyakit menular, orang-orang yang tidak divaksin rupanya bisa berpotensi menjadi pabrik varian virus. 

“Semakin banyak orang tidak divaksinasi, semakin banyak peluang virus berkembang biak. Ketika itu terjadi, ini bermutasi dan bisa menimbulkan mutasi varian yang bahkan lebih serius di masa depan,” ujar William Schaffner, profesor di Divisi Penyakit Menular di Vanderbilt University Medical Center kepada CNN.

Semua virus bermutasi, dan meskipun virus corona tidak terlalu rentan terhadap mutasi, virus ini berubah dan berevolusi. Sebagian besar perubahan tidak berarti apa-apa untuk virus, dan beberapa lainnya melemahkan.

Tetapi terkadang, virus mengembangkan mutasi acak yang memberikan transmisibilitas yang lebih baik. Atau replikasi yang lebih efisien. Bisa juga itu membuat kemampuannya bisa menginfeksi berbagai macam inang.

Virus yang sudah berubah akan mengungguli virus lain dan pada akhirnya akan mendominasi partikel virus yang menginfeksi seseorang. Jika orang yang terinfeksi itu menularkan virus ke orang lain, mereka akan menularkan versi mutannya. Jika versi mutan banyak beredar, maka dia menjadi varian baru. 

Tetapi untuk bisa mencapai hal itu, perlu terjadi replikasi. Orang yang tidak divaksin membuat kemungkinan terjadinya replikasi sangat besar.

“Ketika mutasi muncul pada virus, yang bertahan adalah yang membuat virus lebih mudah menyebar di populasi. Setiap kali virus berubah, itu memberi virus platform yang berbeda untuk menambahkan lebih banyak mutasi. Sekarang kita memiliki virus yang menyebar lebih efisien,” jelas Andrew Pekosz, ahli mikrobiologi dan imunologi di Sekolah Kesehatan Masyarakat Johns Hopkins Bloomberg.

Sedangkan virus yang tidak menyebar tidak bisa bermutasi.

Ada begitu banyak varian yang muncul semenjak pandemi Covid-19 dimulai akhir tahun 2019 lalu. Ada varian Alpha yang pertama diidentifikasi di Inggris. Lalu Varian Beta yang diidentifikasi pertama di Afrika Selatan. Kemudian varian Delta yang pertama ditemukan di India.

Di Indonesia, Varian Alpa, Beta, dan Delta sudah masuk dan menyebar di beberapa wilayah Indonesia. Meski belum ada data yang menunjukkan jika varian baru mendominasi di Indonesia, tetapi sejumlah negara di dunia kini mengalami lonjakan kasus baru akibat varian Delta.

Varian Delta ini menjadi dominan di sejumlah negara, termasuk Inggris dan AS. Pakar menyebut jika varian ini lebih menular dibanding varian lain. Tetapi sejauh ini, vaksin Covid-19 yang tersedia masih bisa memberikan perlindungan.

Namun itu bisa berubah setiap saat. Karena itu, dokter dan pejabat kesehatan masyarakat ingin agar lebih banyak orang divaksinasi. “Semakin kita membiarkan virus menyebar, semakin besar kesempatan virus untuk berubah,” jelas Organisasi Kesehatan Dunia bulan lalu.

Jika virus mencoba menginfeksi orang yang sudah memiliki imun, virus tersebut mungkin gagal. Jika susksespun, virus hanya akan menyebabkan infeksi ringan atau sama sekali tidak bergejala. Dalam hal ini, ia akan bereplikasi sebagai respons terhadap tekanan dari sistem kekebalan yang prima.

Virus yang berhasil adalah virus yang membuat perubahan acak yang membuatnya tampak kurang terlihat oleh sistem kekebalan tubuh. Populasi orang yang tidak divaksinasi itu memberi virus kesempatan tidak hanya untuk menyebar, tetapi juga untuk berubah. (*)

Related Articles
Current Issues
WHO: Tingkat Vaksinasi Tinggi Bantu Kurangi Risiko Munculnya Berbagai Varian

Current Issues
5 Alasan Mengapa Remaja yang Sehat Wajib Vaksin Covid-19

Current Issues
Mengenal Varian Lambda, Mutasi Virus Corona yang Disorot WHO