Current Issues

Masih Tak Terima Diblokir, Donald Trump Tuntut Facebook, Twitter, dan Google

Jingga Irawan

Posted on July 8th 2021

 
James Devaney/GC Images

Masih tak terima dengan pemblokiran akunnya, Mantan Presiden AS Donald Trump mengajukan gugatan terhadap Facebook, Twitter, dan anak perusahaan Google, YouTube. Dilansir The New York Times, Kamis (8/7), Trump juga menuntut para CEO perusahaan tersebut. Yakni Mark Zuckerberg, Jack Dorsey, dan Sundar Pichai.

Tuntutan hukum itu datang enam bulan setelah Trump secara permanen atau sementara ditangguhkan dari tiga platform tersebut. Pria berusia 75 tahun itu mengumumkan tuntutannya dalam konferensi pers Rabu, 7 Juli 2021.

“Hari ini, bersama dengan America First Policy Institute, saya mengajukan, sebagai perwakilan kelas utama, gugatan class action terhadap raksasa teknologi, termasuk Facebook, Google dan Twitter. Serta CEO mereka Mark Zuckerberg, Sundar Pichai, dan Jack Dorsey. Tiga pria yang sangat baik!” kata Trump sebagaimana dikutip Reuters.

America First Policy Institute adalah sebuah kelompok advokasi yang didirikan oleh mantan pejabat Trump dan tim kampanyenya dulu, termasuk Linda McMahon dan Brooke Rollins. Trump mengajukan gugatannya di Pengadilan Distrik Florida Selatan.

Trump menuduh bahwa perusahaan media sosial melanggar Amandemen Pertama karena menangguhkan akunnya dan pengguna lain dari jaringan mereka, sebuah alasan dasar yang biasanya ditolak oleh pengadilan. Karena, dalam Amandemen Pertama konstitusi AS dimaksudkan bagi pembatasan dan penyensoran oleh pemerintah, bukan perusahaan swasta.

“Kongres tidak akan membuat undang-undang mengenai pembentukan agama, atau yang melarang dijalankannya agama secara bebas; atau menghambat kebebasan berbicara, atau kebebasan pers; atau hak rakyat untuk berkumpul secara damai, dan untuk menyampaikan petisi kepada Pemerintah untuk ganti rugi atas keluhan-keluhan mereka,” begtu bunyi Amandemen Pertama Konstitusi Amerika Serikat, 1791.

Berdasarkan undang-undang AS, perusahaan media sosial memang diizinkan untuk memoderasi platform mereka. Mereka dilindungi oleh ketentuan yang dikenal sebagai “Section 230.” Ketentuan tersebut membebaskan perusahaan internet dari tanggung jawab atas apa yang diunggah penggunanya. Dan, memungkinkan perusahaan untuk menghapus unggahan yang melanggar standar perusahaan.

Selain tuduhan pelanggaran Amandemen Pertama, gugatan yang diajukan Trump meminta pengadilan untuk menyatakan “Section 230” sebagai hal “tidak konstitusional”, memulihkan akses mantan presiden ke media sosial tersebut, serta anggota lain dari gugatan yang telah diblokir. Gugatan itu juga meminta untuk mencegah perusahaan teknologi menyensor Trump di masa depan.

“Kasus kami akan membuktikan penyensoran ini melanggar hukum, tidak konstitusional, dan sama sekali tidak Amerika. Jika mereka bisa melakukannya untuk saya, mereka bisa melakukannya untuk siapa saja,” kata Trump.

Sebelumnya, akun Donald Trump memang ditangguhkan awal tahun ini oleh ketiga raksasa media sosial, setelah ia memprovokasi bahwa pemilu AS dicurangi dan menyatakan klaim kemenangannya atas Joe Biden. Klaim tersebut memicu para pendukung Trump menyerang gedung Capitol AS pada 6 Januari awal tahun ini. (*)

Related Articles
Current Issues
Gara-Gara Trump Diblokir Twitter, PBB Minta Regulasi untuk Perusahaan Medsos

Current Issues
Facebook, Twitter, Snapchat dan YouTube Kompak Batasi Aktvitas Medsos Trump

Current Issues
Belum Satu Bulan Diluncurkan, Blog Donald Trump Ditutup