Lifestyle

Kenapa Silent Treatment Lebih Menyakitkan dari Bertengkar Hebat sama Pasangan?

Silent treatment termasuk kekerasan emosional lho.

Kezia Kevina Harmoko

Posted on July 6th 2021

(Foto: rawpixel.com/Freepik)

Pernah nggak sih pas lagi berantem sama pacar atau sahabat atau siapa pun itu, tiba-tiba si lawan bicara diam dan menghilang? Masalahnya belum terselesaikan, tapi salah satu pihak memilih untuk diam.

Mungkin pilihan diam ini terlihat lebih baik daripada saling melontarkan argumen, tapi dampaknya bisa lebih berbahaya lho. Rasanya didiemin itu bisa jadi lebih menyakitkan, seperti yang diungkapkan oleh psikolog Deming (Adam) Wang dilansir dari Psychology Today. Ada beberapa alasan kenapa silent treatment atau ostracism ini bikin perasaan lebih terluka.

Jadi insecure

Ketika kita didiamkan oleh lawan bicara, kita nggak punya informasi apa pun mengenai akar masalah. Akhirnya kita jadi berpikir, salah kita apa ya? Kurang begini? Kurang begitu? Tadi salah bicara? Kenapa sih kita di­cuekin?

Walaupun nggak mengenakan, setidaknya ketika argumen dilontarkan masing-masing pihak, masih ada kemungkinan kita bisa menemukan akar permasalahannya—yang mungkin bukan sepenuhnya salah kita.

Ketika seseorang dipenuhi dugaan-dugaan negatif, kepercayaan dirinya akan menurun. Kalau terus-menerus terjadi, masalah kepercayaan diri yang menurun ini bisa merembet ke masalah emosional yang lebih serius.

Dilansir dari Good Therapy, silent treatment merupakan salah satu kekerasan emosional dan seseorang yang merasakannya dapat merasakan trauma. Pelaku silent treatment adalah seorang abuser dan hubungan yang melibatkan orang tersebut bisa jadi toxic relationship.

Kehilangan kontrol terhadap masalah

Pengabaian sulit dikontrol daripada argumen. Kalau dua pihak terus berargumen, setidaknya ada kemungkinan percakapan tersebut terarah ke solusi. Kalau diem-dieman, kita jadi merasa gak bisa menyelesaikan masalah. Diam ini nggak ada tujuannya, jadi membingungkan.

Silent treatment beda dengan minta waktu buat sendirian atau menenangkan diri ya! Kalau memang perlu waktu buat menenangkan diri, seseorang harus mengomunikasikannya dengan pasangan. Ada kejelasan kapan akan mendiskusikan kembali masalah yang dibicarakan, nggak langsung ngacir.

Merasa nggak pantas diperhatikan

Ada perumpamaan yang pas banget buat situasi silent treatment. Misal ada YouTuber yang kena hujat warganet. Kalau dia merasa si hater itu gak penting, dia nggak akan memedulikan hujatan yang ia terima.

Berbeda kalau si YouTuber mau mengklarifikasi fitnah yang dituduhkan si hater, kemungkinan besar pasti ada argumen balik untuk mengoreksi.

Seseorang yang pengin menemukan solusi atau menyelamatkan hubungan pasti memilih langkah kedua. Memberikan pembenaran. Mencari solusi biar segalanya tetap berjalan baik. Nah, kalau seseorang didiamkan, bisa jadi mereka merasa seperti hater di kasus pertama—nggak dipedulikan soalnya gak cukup penting. Intinya kalau mau cari solusi pasti ada pembicaraan, kalau ingin ”menghukum“ biasanya diam.

Nah, itu dia sederet alasan kenapa silent treatment bisa lebih menyakitkan daripada berargumen. Kalau kamu lagi berantem dengan seseorang, lebih baik jangan mendiamkan dan bicarakan agar masalahnya cepat selesai ya. (*)

 

Related Articles
Lifestyle
Kasus Toxic Relationship Viral di Twitter, Kenapa sih Susah buat Langsung Putus?

Lifestyle
17 Kalimat Andalan Pasangan Toxic Ini Bisa Menghancurkan Hubungan

Entertainment
Hubungan Pacaran Kalian Sehat atau Nggak? Cek dengan 5 Kebiasaan Ini!