Tech

Ilmuwan AS Ciptakan Masker untuk Diagnosis Covid-19, Hasilnya Diklaim Setara PCR

Dwiwa

Posted on June 30th 2021

(Wyss Institute Universitas Harvard)

Sebuah kolaborasi antara Wyss Institute for Biologically Inspired Engineering di Universitas Harvard dan Massachusetts Institute of Technology (MIT) baru-baru ini menghasilkan teknologi yang sangat bermanfaat membantu mengatasi pandemi Covid-19. Mereka punya temuan teknologi yang bisa dimasukkan ke masker wajah untuk mendeteksi keberadaan virus SARS-Cov-2.

Teknologi itu memanfaatkanwearable freeze-dried cell-free (wFDCF). Lewat teknologi itu, para peneliti mencoba membuat sebuah masker yang dapat mendeteksi virus SARS-Cov-2 dari napas pasien.

Dilansir News Medical, teknologi yang dibuat oleh peneliti MIT ini menggunakan sensor yang dikodekan secara genetik untuk mendeteksi metabolit tubuh, biomarker patogen, racun kimia, dan substrat lingkungan lainnya.

Teknologi di bidang biologi sintetis ini lebih aman karena menghilangkan banyak potensi masalah keamanan yang sering muncul saat menggunakan platform biosensing yang didasarkan pada sel hidup. Teknologi wFDCF ini pertama kali digunakan sebagai sistem asam nukleat berbasis kertas untuk membantu diagnosis virus Zika selama terjadi wabah 2015.

Selain kertas, teknologi platforms wFDCF juga dapat langsung dimasukkan ke dalam substrat sintetis dan alami. Seperti matriks polimer dan tekstil tertentu seperti benang, tenun, serat, serta kain kompleks.

Hal ini membuat para peneliti tertarik untuk mengintegrasikan teknologi baru tersebut ke dalam masker wajah. Teknologi di balik masker wajah pendeteksi penyakit coronavirus 2019 (Covid-19) ini tampaknya mencapai tingkat akurasi yang sebanding dengan tes reverse transcriptase-polymerase chain reaction (RT-PCR), yang sering digunakan untuk mendiagnosis Covid-19.  

Masker wajah pendeteksi Covid-19 ini terdiri dari tiga reaksi biologis liofilisasi (pengeringan beku) berbeda, yang diaktifkan oleh pelepasan air dari reservoir yang menekan sebuah tombol kecil.

Reaksi pertama akan membuka virus SARS-CoV-2 untuk mengekspos materi RNA genetiknya. Gen yang mengkode spike protein SARS-CoV-2, yang merupakan protein permukaan yang memungkinkan virus menembus sel manusia, kemudian diisolasi dan disalin ke banyak versi untai ganda.

Reaksi terakhir menggunakan teknologi SHERLOCK berbasis clustered regular interspaced short palindromic repeats (CRISPR). Ini fungsinya untuk mendeteksi setiap fragmen gen protein lonjakan dalam napas.

Setelah mendeteksi setiap fragmen gen, molekul probe dipotong menjadi dua bagian yang lebih kecil dan kemudian dilaporkan melalui strip uji aliran lateral yang tertanam di dalam masker.

Jika fragmen spike protein ditemukan dan dipotong, diagnosis SARS-CoV-2 akan menunjukkan hasil positif. Mirip dengan hasil positif yang muncul di alat tes kehamilan instant. Terjadinya perubahan pola garis pada masker akan mengkonfirmasi keberadaan SARS-CoV-2.

Sejauh ini masker pendeteksi Covid-19 tersebut masih bebas dari komponen elektronik. Namun para peneliti telah menemukan bahwa mereka dapat mengintegrasikan elemen permanen ke dalam sistem ini untuk aplikasi diagnostik lebih luas.

Oleh karena itu, jaringan kabel serat optik nantinya dapat diintegrasikan ke dalam teknologi wFCDF ini. Tujuannya untuk mendeteksi cahaya fluoresen yang dihasilkan berbagai reaksi biologis. Hasil reaksi ini kemudian dapat ditransmisikan ke aplikasi smartphone sehingga pemakainya bisa memantau paparan mereka terhadap berbagai zat dalam waktu lama.

Para peneliti menyarankan penggunaan teknologi ini bisa diaplikasikan pada pakaian laboratorium untuk ilmuwan yang bekerja dengan bahan berbahaya atau patogen. Demikian pula dokter dan perawat juga dapat mengenakan tekstil yang mengandung sensor wFCDF untuk memantau paparan terhadap patogen atau racun berbahaya.(*)

Related Articles
Current Issues
Hindari Masker Ini Karena Perlindungannya Tak Cukup Baik

Current Issues
Kenapa Sih Masker Scuba atau Buff Dilarang Digunakan Untuk Cegah Covid-19?

Current Issues
Cek Yuk Seberapa Besar Risiko Aktivitas Kalian dalam Penularan Covid-19