Interest

4 Langkah Sederhana untuk Kembali Bangkit dari Penolakan

Kezia Kevina Harmoko

Posted on June 26th 2021


(Ilustrasi: marylong/Freepik)

Penolakan, besar atau kecil, tetap terasa menyakitkan. Entah penolakan dalam hubungan, penolakan dari universitas impian, penolakan halus seperti dikucilkan dari pertamanan—pasti pernah ada penolakan yang terjadi dalam hidup kita.

Dilansir dari Psychology Today, kita akan merasa ditolak ketika tidak dianggap tergabung oleh seseorang, tidak diterima, atau tidak disetujui akan suatu hal. Penolakan melibatkan kehilangan sesuatu yang kita miliki atau harapkan.

Semakin meningkatnya tingkat penolakan yang diraskan dan semakin muda usia seseorang merasakannya, penolakan bisa berdampak kuat. Penolakan bisa membuat kita merasa tidak cukup baik dan melakukan cara-cara kurang pas untuk tidak tertolak lagi. Menolak sesuatu duluan, misalnya.

Kalau kamu baru saja merasakan penolakan, bukan berarti kamu nggak berguna. Coba lakukan empat langkah ini untuk mengolah perasaan akibat penolakan dengan baik.

1. Akui perasaan yang kamu rasakan

Kalau kamu sakit hati atau sedih setelah mengalami penolakan, that’s okay. Penolakan bukan suatu hal yang kita harapkan terjadi. Kadang penolakan membuat kita malu dan ingin menyembunyikan perasaan kita, tapi itu kurang baik.

Biarkan diri kita berduka. Jangan tahan atau berusaha menyangkalnya. Berikan diri kita waktu buat memproses emosi. Lakukan hal-hal yang mendorong proses tersebut, bisa dengan menangis, menulis jurnal, berolahraga, melakukan hobi, atau melakukan sesuatu sebagai simbolis melepaskan hal yang diharapkan.

Akui kalau duka itu ada dan seiring diri kita sudah menerima dan memahaminya, perasaan sedih bakal pergi. Durasinya bisa berbeda-beda tergantung penyebabnya, bisa hanya beberapa jam hingga beberapa bulan.

2. Jangan salahkan diri sendiri

Saat kita ditolak, memang wajar untuk ingin menemukan alasan di baliknya. Kadang kita gak menemukannya dan justru menjadikan diri sendiri sebagai ”samsak tinju“. Yang perlu diingat, penolakan tidak selalu terjadi karena diri kita sendiri. Ada banyak banget kemungkinan yang melatarbelakanginya.

Pas kamu ditolak di pekerjaan tertentu, belum tentu itu karena kamu kurang kemampuan—bisa jadi si bos terpaksa menerima si keponakan demi balas budi ke keluarga. Pas ditolak sama crush, belum tentu karena kamu kurang baik—bisa jadi si doi yang insecure sama dirinya sendiri lalu nge-ghosting.

3. Be elastic!

Bukan secara fisik, tapi secara mental. Kemampuan untuk “melompat” kembali dari titik terbawah atau resiliency perlu banget dipelajari. Caranya adalah selalu berpikiran terbuka, minta bantuan kalau perlu, mengingat kelebihan diri, memandang kesalahan itu perlu biar bisa sukses, dan rutin melakukan self-care.

Mulai dari hal-hal simpel aja dulu. Jangan lupa makan dan minum yang cukup. Setelah punya tenaga, beranikan diri buat bicara ke orang yang suportif. Dari sana siapkan rencana untuk kembali bangkit.

4. Tetap kerahkan seluruh kemampuan

Terkadang penolakan itu perlu sebagai jalan menuju kesuksesan dan memang lumrah terjadi. Pikiran ini nih yang perlu terus diingat. Ketika ditolak, ini artinya kita merasakan salah satu hal yang umum terjadi di dunia. Bukan berarti karena hal umum terus gak boleh sedih karena itu, tapi karena ini hal lumrah, rasa sakit yang kita rasakan bisa lebih kecil.

Setelah memproses perasaan habis ditolak, kerahkan seluruh kemampuan lagi deh buat berusaha. Siapa tahu kesempatan berikutnya jadi momenmu. Semangat! (*)

 
Related Articles
Lifestyle
Sulit Banget Menyelesaikan Tugas, Sebenarnya Depresi atau Malas? Nih Bedanya

Lifestyle
Stres dan Gangguan Kecemasan Itu Mirip Tapi Beda, Cek Nih Penjelasannya!

Interest
Gagal SNMPTN? Nggak Usah Khawatir, Masih Ada 3 Cara Lanjut Kuliah di PTN!