Current Issues

Misteri Asal Usul Covid-19 Belum Terpecahkan, Ilmuwan Minta Investigasi Mendalam

Dwiwa

Posted on June 18th 2021

 

Asal usul virus SARS-Cov-2 yang menyebabkan Covid-19 masih menjadi misteri hingga saat ini. Teori-teori yang beredar baik itu kebocoran virus dari laboratorium di Wuhan, Tiongkok maupun muncul secara alami juga belum terbukti.

Teori kebocoran laboratorium yang sempat disebut "hampir tidak mungkin" dalam investigasi yang dipimpin Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kembali menjadi perbincangan hangat beberapa waktu terakhir.

Presiden Amerika Serikat Joe Biden juga bahkan memerintahkan para intelijen untuk menyelidiki asal-usul dari virus yang sudah menginfeksi lebih dari 178 juta orang di dunia ini. Begitu juga beberapa ilmuwan terkemuka yang meminta penyelidikan lebih mendalam untuk membongkar dari mana asal virus ini.

Dilansir dari NBC News, dari wawancara dengan lima ahli virologi yang memiliki pengalaman dalam mikrobiologi, ekologi penyakit menular dan evolusi virus, sejauh ini bukti ilmiah tetap tidak berubah.

Nah ternyata mencuatnya kembali teori kebocoran laboratorium ada kaitannya dengan lengsernya Donald Trump sebagai orang nomor satu di Amerika Serikat. Par ailmuwan ternyata khawatir kemunculan hipotesa terkait kebocoran laboratorium itu bisa dimanfaatkan Trump yang saat itu masih berkuasa.

Ketika Trump masih berkuasa, para ilmuwan khawatir berbicara soal hipotesis kebocoran laboratorium. Mereka takut kata-katanya disalahartikan. Atau digunakan untuk mendukung retorika rasis tentang bagaimana virus corona muncul. Apalagi di zaman Trump, aktivitas yang mengarah pada rasisme cenderung dibangkitkan. Trump berupaya menggunakan pandemi Covid-19 untuk menyerang Tiongkok lantaran virus ini pertama kali ditemukan di Wuhan.

"Saat itu menakutkan karena Trump bisa mengaitkan hipotesa itu menjadi alat untuk rasis. Sehingga orang tidak ingin secara terbuka menyerukan penyelidikan tentang asal-usul kebocoran laboratorium,” ujar Alina Chan, salah satu dari 18 ilmuwan yang bulan lalu mempublikasikan surat di jurnal Science untuk meminta investigasi mendalam tentang asal-usul virus corona.

Nah sekarang, ketika rezim telah berganti ke Joe Biden, banyak ilmuwan merasa nyaman membicarakan semua teori yang masuk akal. Termasuk soal kebocoran laboratorium. Meskipun masih banyak juga ilmuwan yang berhati-hati soal gagasan kebocoran laboratorium karena memang membutuhkan bukti ilmiah yang jelas.

"Apalagi tidak ada bukti baru sepanjang 16 bulan terakhir ini yang menguatkan bahwa virus itu berasal dari laboratorium,” kata Maciej Boni, profesor biologi dari Penn State University. Boni merupakan profesor yang punya spesialisasi di bidang epidemiologi penyakit tropis dan evolusi virus.

Hingga saat ini, setidaknya ada tiga skenario besar tentang dari mana virus berasal. Skenario pertama adalah virus berevolusi secara alami. Dari hewan yang terinfeksi, kemudian menyebar ke manusia.

Skenario kedua adalah virus berevolusi secara alami, tetapi pegawai di laboratorium terinfeksi dari sampel dan secara tidak sengaja “menularkannya” ke masyarakat.

Sedangkan teori ketiga adalah virus sengaja dimanipulasi oleh para ilmuwan di laboratorium, dan secara tidak sengaja atau sengaja melepaskan patogen.

Kecurigaan asal-usul virus dari kebocoran laboratorium karena Institut Virologi Wuhan merupakan sebuah fasilitas penelitian pertama di Tiongkok menerima tingkat biosekuriti tertinggi. Laboratorium di institut yang berdiri pada 1950 itu memiliki tingkat biosekuriti level 4. Selama ini dikenal sebagai BSL-4 yang berarti punya tingkat tertinggi.

Laboratorium itu disiapkan untuk mempelajari agen infeksi dan racun dengan risiko tertinggi di dunia, yang memerlukan pengaturan bio-kontainmen paling ketat. Alasan itu cocok jika digabungkan dengan adanya kasus infeksi corona virus pertama kali, yakni di Kota Wuhan.

 

Saat ini, berbagai pihak menyerukan agar penyelidikan lebih mendalam dilakukan terhadap teori kebocoran laboratorium.

Apalagi sebelumnya juga terungkap informasi yang berasal dari sekelompok "detektif internet" anonim. Informasi itu berasal dari tim investigasi amatir yang menyebut dirinya DRASTIC (Decentralized Radical Autonomous Search Team Investigating Covid-19). Mereka menyisir catatan online dan menemukan tesis seorang mahasiswa pascasarjana di Kunming Medical University di Tiongkok. Tesis itu menjelaskan enam pekerja di sebuah tambang di provinsi Yunnan jatuh sakit dengan pneumonia parah, disebabkan oleh virus mirip “SARS”.

Tiga pekerja tambang akhirnya meninggal tetapi tidak banyak diketahui bagaimana situasinya. Dalam penelitian yang dipublikasikan pada November oleh ilmuwan di Institut Wuhan, sampel serum dari empat pekerja diuji dan menunjukkan tidak ada jejak SARS-Cov-2, penyebab Covid-19.

Secara terpisah, sebuah laporan intelijen AS mengungkapkan bahwa tiga peneliti di Institut Wuhan mencari perawatan di rumah sakit setelah mereka jatuh sakit pada November 2019. Laporan ini pertama kali diturunkan oleh The Wall Street Journal pada Mei 2021 lalu.

Sebenarnya WHO telah turun tangan. Tahun lalu, mereka memimpin penelitian terkait asal-usul Covid-19 di Tiongkok. Pihak Institut Wuhan saat itu mengatakan semua anggota staf telah dites antibodi dan hasilnya negatif. Sejumlah pimpinan di proyek penelitian itu bersikeras bahwa virus itu tidak lolos dari fasilitas laboratorium. Sayangnya keengganan pemerintah Tiongkok untuk berbagi catatan dan hasil tes telah menimbulkan kecurigaan.(*)

 

 
Related Articles
Current Issues
Tiap Tahun, Ratusan Ribu Orang Mungkin Telah Terinfeksi Virus Corona Kelelawar

Current Issues
Tim WHO Memastikan Covid-19 Tak Berasal dari Kebocoran Laboratorium Tiongkok

Current Issues
Kasus Covid-19 Pertama Kemungkinan Muncul di Tiongkok Sejak Oktober 2019