Current Issues

Varian Delta Jadi Ganjalan untuk Hentikan Covid-19 dengan Cepat

Dwiwa

Posted on June 18th 2021

 

Virus Corona tampaknya memang memiliki kebiasaan menjegal rencana baik. Terbaru, varian Delta, versi virus yang menyebar lebih cepat yang pertama kali diidentifikasi di India tahun lalu, mengubah aturan main ketika dunia sedang mencoba keluar dari pandemi.

Dilansir The Washington Post, Maria Van Kerkhove, pemimpin teknis Covid-19 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengatakan bahwa varian Delta telah terdeteksi di lebih dari 80 negara di seluruh dunia. Para pakar kesehatan masyarakat juga terus mengawasi jika ada potensi mutasi tambahan.

Di Amerika Serikat, varian delta menyumbang sekitar 6 persen dari kasus baru. Karena itu Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) telah menambahkan Delta ke daftar varian yang menjadi perhatian.

Varian ini belum membatalkan rencana pembukaan kembali Amerika Serikat, tetapi dikombinasikan dengan proses vaksinasi yang melambat dari yang diharapkan dalam beberapa pekan terakhir, beberapa ahli mendesak agar semua pihak berhati-hati.

“Jika kamu tinggal di wilayah yang memiliki tingkat vaksinasi reendah atau kalian tidak divaksinasi, kalian jelas rentan karena ini pada dasarnya adalah Covid-19 pada steroid,” jelas Andy Slavitt, mantan penasihat senior di respon virus corona untuk pemerintahan Biden.

Masalah besarnya adalah virus corona telah menyebar begitu jauh dan luas sehingga memiliki banyak peluang untuk bermutasi. WHO telah melacak lebih dari 50 jenis yang berbeda. Meskipun sebagian besar tidak dianggap sebagai perhatian ekstra, empat telah diberi label sebagai perhatian khusus, salah satunya adalah B.1.617.2, nama ilmiah untuk varian Delta.

Sejak pertama terdeteksi di India Oktober lalu, para peneliti telah mempelajari Delta dengan cermat. Mereka segera menemukan bahwa varian ini memiliki dua mutasi pada protein lonjakan yang membantu virus corona menempel pada sel-sel sehat. Mutasi ini telah membantu membuat varian lebih menular.

Delta 60 persen lebih menular dari alfa, varian yang pertama dideteksi di Inggris, menurut pejabat Inggris. Ada juga beberapa penelitian yang menunjukkan hal ini menyebabkan tingkat rawat inap lebih tinggi, meski bukti masih terbatas.

Kabar baiknya, vaksinasi masih bekerja dengan baik dalam melindungi orang yang telah divaksinasi penuh terhadap varian delta.

Studi di Inggris menunjukkan bahwa vaksin Pfizer-BioNTech dan Oxford-AstraZeneca sangat efektif dalam melindungi terhadap penyakit bergejala ketika dua dosis penuh diberikan (dengan tingkat kemanjuran masing-masing 88 persen dan 60 persen). Namun, kemanjuran vaksin turun menjadi 33 persen jika hanya diberikan satu dosis.

Meskipun varian Delta muncul melalui proses alami, tetapi faktor manusia telah membantu penyebarannya. Di Inggris, fokus pada memprioritaskan dosis pertama mungkin telah berbalik menyerang negara. Banyak kritikus pemerintah juga mengatakan bahwa pembatasan perjalanan dari India dilakukan terlambat karena masalah politik.

Di India sendiri, penyebaran yang luas pada musim semi ini mungkin dipermudah dengan pelonggaran pembatasan dan peluncuran vaksin yang lambat. Bahkan sekarang India baru memvaksinasi penuh 3,5 persen dari populasi, sebagian karena masalah pasokan global .

Varian Delta telah menjegal jalan dunia keluar dari pandemi. Dan Inggris mungkin bukan negara pertama yang menghentikan rencana pembukaan kembali wilayahnya. Mereka mempercepat vaksinasi dengan harapan dapat mengatasi varian delta. 

Di sisi lain, perdebatan masih terjadi tentang bagaimana  mengurangi penyebaran jangka pendek varian delta di dalam batas-batas nasional, tetapi juga menekan penyebaran global virus dan menghentikan varian yang lebih buruk berkembang biak. (*)

 

Related Articles
Current Issues
Bukan Hanya Delta, Para Ilmuwan Juga Waspada Varian Gamma

Current Issues
Apakah Vaksin Asal Tiongkok Efektif Lawan Varian Delta?

Current Issues
Mengenal Varian Lambda, Mutasi Virus Corona yang Disorot WHO