Current Issues

Studi: Varian Delta Meningkatkan Risiko Rawat Inap Akibat Covid-19

Dwiwa

Posted on June 15th 2021

Varian coronavirus Delta menjadi perhatian banyak negara dalam beberapa waktu terakhir. Varian ini menjadi salah satu jenis yang lebih menular dibanding virus aslinya. Bahkan penelitian terbaru menyebut jika varian ini menggandakan risiko seseorang dirawat inap.

Dilansir Reuters, sebuah penelitian di Skotlandia menemukan jika varian Delta yang pertama kali diidentifikasi di India ini menggandakan risiko rawat inap dibandingkan dengan varian Alpha yang pertama kali diidentifikasi di Inggris.

Studi itu menunjukkan perlindungan vaksin terhadap varian Delta mungkin lebih rendah daripada varian Alpha. Studi yang diterbitkan di Lancet ini mengamati 19.543 kasus komunitas dan 377 rawat inap di antara 5,4 juta orang di Skotlandia. Sebanyak 7.723 kasus dan 134 rawat inap ditemukan memiliki varian Delta.

Chris Robertson, Profesor Epidemiologi Kesehatan Masyarakat, Universitas Strathclyde, mengatakan bahwa setelah menyesuaikan umur dan komorbiditas, varian Delta diketahui dapat menggandakan risiko rawat inap, meskipun vaksin masih mengurangi risiko itu.

“Jika kalian dites positif, maka dua dosis vaksin atau satu dosis selama 28 hari dapat mengurangi risiko dirawat di rumah sakit hingga 70 persen,” ujarnya.

Dua minggu setelah dosis kedua, vaksin Pfizer-BioNTech ditemukan memiliki perlindungan 79 persen terhadap varian Delta, dibandingkan dengan 92 persen terhadap varian Alpha. Sementara vaksin Oxford-AstraZeneca menunjukkan 60 persen perlindungan terhadap Delta dibandingkan dengan 73 persen untuk Alpha.

Para peneliti memperingatkan agar tidak menggunakan data tersebut untuk membandingkan vaksin satu dengan yang lainnya. Pasalnya, ada perbedaan dalam kelompok yang menerima setiap jenis suntikan dan perbedaan dalam seberapa cepat kekebalan dikembangkan dalam setiap suntikan. Mereka juga mengatakan jika dua dosis vaksin memberikan perlindungan lebih baik terhadap varian Delta dibanding satu dosis.

Sementara itu, The New York Times melaporkan jika dokter di Tiongkok mengatakan bahwa mereka menemukan gejala varian Delta berbeda dan lebih berbahaya dibanding dengan varian aslinya.

Pasien yang terinfeksi varian ini disebut menjadi lebih parah dan kondisinya memburuk dengan cepat. Sebanyak 12 persen pasien mengalami sakit parah atau kritis dalam waktu tiga sampai empat hari setelah mengalami gejala pertama.

Direktur perawatan kritis Universitas Sun Yat-sen Guangzhou, Guan Xiangdong, juga mengatakan jika sebelumnya hanya sekitar 2-3 persen atau maksimal naik sampai 10 persen pasien menjadi sakit parah atau kritis dalam periode waktu tersebut. (*)

 

Related Articles
Current Issues
WHO: Varian Delta Covid-19 Bakal Mendominasi Dunia

Current Issues
Tingkat Keparahan Varian Bisa Delta Lebih Tinggi, Kecuali yang Sudah Vaksin

Current Issues
Apakah Vaksin Asal Tiongkok Efektif Lawan Varian Delta?