Sport

EURO 2020: Eriksen, Hidup Lebih Penting daripada Bola

Mainmain.id

Posted on June 14th 2021

PLAYMAKER Christian Eriksen tiba-tiba jatuh tersungkur dan tak sadarkan diri saat tuan rumah Denmark menyerah 0-1 dari Finlandia Sabtu malam (12/6) dalam partai perdana grup B Euro 2020 di Stadion Parken, Kopenhagen.

Media massa Denmark dan Italia melaporkan, napas Eriksen sempat berhenti sekitar lima menit. Namun, Eriksen ternyata tak mengalami heart attack atau serangan jantung, melainkan cardiac attack atau henti jantung.

Henti jantung terjadi bukan karena sumbatan di saluran pembuluh darah di sekitar jantung, melainkan kelainan irama denyut jantung yang mungkin disebabkan alasan-alasan tertentu. Misalnya, ketidakseimbangan kimiawi.

Atas dasar itu, ahli jantung NHS terkemuka Scott Murray menyampaikan pernyataan mengejutkan. Apa boleh buat, untuk menyelamatkan hidupnya, suka atau tidak, mantan pemain Tottenham Hotspur itu harus berhenti main bola.

Boleh jadi larangan itu menjadi dasar rekomendasi bagi petinggi Serie A untuk melarang Eriksen bermain karena berpeluang mengalami hal serupa di masa depan.

Playmaker Denmark perlu diresusitasi dan distabilkan pada saat ia dipindahkan ke rumah sakit, meskipun masih ada kekhawatiran atas kesehatan jangka panjang dan karier bermainnya.

Menurut Scott Murray, Italia bangga dengan catatan mereka dalam mencegah serangan jantung di sepak bola. Dengan demikian, Eriksen mungkin mengakhiri waktunya di Serie A.

''Ini mungkin (akhir karier) untuknya. Orang Italia menghentikan orang yang berpartisipasi dalam olahraga jika mereka ditemukan memiliki kelainan jantung yang signifikan. Larangan itu termaktub dalam undang-undang. Italia sudah melakukan itu lebih dari 20 tahun lalu,'' ucap Murray seperti dikutip Tuttosport kemarin (13/6).

Tindakan itu bisa menekan tingkat kematian akibat serangan jantung dalam olahraga dari semula 3 persen menjadi di bawah 1 persen.

Bintang Inter sempat menerima perawatan CPR dari staf medis yang sudah hadir di stadion. CPR (cardiopulmonary resuscitation) adalah upaya pertolongan medis untuk mengembalikan kemampuan bernapas dan sirkulasi darah dalam tubuh manusia.

Seusai CPR, Eriksen terlihat duduk tegak sambil ditandu keluar lapangan dengan masker oksigen menutupi mulut. Michael Schoots, agen Eriksen, mengatakan bahwa Eriksen sudah bisa bicara dengan dokter dan tim medis.

Murray mengeklaim, Italia sebagai tempat Eriksen bermain sepak bola bersama Inter memiliki salah satu sistem terbaik di dunia untuk memeriksa dan memprediksi potensi masalah jantung.

Eriksen berasal dari klub Italia. Jadi, ia harus menjalani semua tes sebelum mulai bermain lagi. Italia adalah tempat terbaik dalam skrining penyakit jantung pada atlet kompetitif. ''Ini akan sulit dihilangkan. Eriksen masih punya potensi untuk mengalami hal serupa di masa mendatang,'' kata Murray.

Menurutnya, Eriksen membutuhkan EKG atau elektrokardiogram 12-lead yang mengukur aktivitas listrik di jantung untuk melihat apa yang terjadi. ''Itu bisa memberikan berbagai indikator mengapa ini bisa terjadi,'' papar Murray.

Eriksen perlu eko-kardiogram jantung untuk melihat apa yang terjadi pada otot jantungnya. Ia juga membutuhkan pemindaian MRI jantung –pemindaian rinci otot jantungnya– untuk melihat apakah ada jaringan parut.

"Eriksen mungkin perlu alat pacu jantung khusus yang disebut defibrilator. Defibrilator memantau setiap detak jantung dan akan memberi tahu kita kapan jantung akan melakukan ini lagi. Jika ya, defibrilator dapat menyetrum jantung secara internal,'' katanya.

Jika Eriksen pensiun dari sepak bola,  kejadian itu bisa membawa dampak positif bagi masyarakat.

Murray menegaskan bahwa sifat menonjol dari kasus ini –di panggung Eropa di depan jutaan pemirsa televisi– dapat membantu anggota masyarakat menjadi lebih sadar akan masalah jantung dan bagaimana menanggapinya.

Di depan umum, setiap orang harus belajar bagaimana melakukan CPR. Karena itu, dokter itu memuji tindakan kapten Denmark Simon Kjaer. Sebelum tim medis datang, Kjaer yang memastikan lidah Erikson tidak tertelan.

Jurnalis Sky Sport Italia, Angelo Mangiante, bahkan mengatakan bahwa Kjaer melakukan tindakan medis CPR kepada Eriksen.

Kjaer juga memimpin rekan-rekannya membuat pagar hidup di sekeliling Eriksen. Tujuannya, kamera dan mata telanjang penonton tidak melihat langsung Eriksen yang tengah menghadapi momen kritis.

Setelah itu, Kjaer menemui istri Eriksen, Sabrina Kvist Jensen, yang sangat terguncang dan menangis sesenggukan. (Max Wangge/Harian Disway)

Tulisan ini sebelumnya telah tayang di Harian Disway (partner Mainmain.id)

 
Artikel Terkait
Sport
EURO 2020: Dinamit Keder Cameo Hazard

Sport
EURO 2020: Juara 1992, Timnas Denmark Kini Mati Gaya

Sport
EURO 2020: Pembuktian Lord Braithwaite di Timnas Denmark