Current Issues

Peneliti: Tingkat Kecemasan dan Depresi di Kalangan Mahasiswa Terus Melonjak

Dwiwa

Posted on June 12th 2021

Dear Gen Z, apakah dalam beberapa tahun ini kalain merasakan lebih cemas dan depresi? Kalian tidak sendiri. Sebuah penelitian terbaru mengungkap jika kelompok usia mahasiswa merasa lebih cemas dan depresi terutama ketika pandemi menyerang setahun terakhir.

Dilansir dari The Washington Post ada sebuah penelitian yang dilakukan Dartmouth College mengulas hal ini. Penelitian itu mengikuti 217 remaja ketika mereka memasuki kampus sebagai mahasiswa baru pada 2017. Dalam pengawasan selama empat tahun, mereka telah melihat tingkat stres para mahasiswa itu naik dan turun. biasanya bersamaan dengan ujian tengah semester dan ujian akhir.

Namun Andrew Campbell, seorang peneliti dan profesor ilmu komputer, mengatakan jika sejak awal pandemi, tingkat depresi dan kecemasan telah melonjak. Ngerinya, itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan turun.

Temun ini tentu menambah daftar panjang banyak penelitian yang menunjukkan efek virus corona tidak hanya menyerang kesehatan dan keselamatan fisik. Tapi juga kesehatan mental, terutama pada mereka yang menghadapi isolasi sosial, kesedihan, pengangguran, serta ketidakpastian tentang masa depan.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) telah mencatat peningkatan jumlah orang dewasa yang mencari perawatan kesehatan mental, karena berurusan dengan kecemasan dan mengalami gejala episode depresi.

Data dalam penelitian Dartmouth College tersebut, peneliti mungumpulkan data melalui aplikasi seluler -yang dikembangkan Campbell- dengan nama StudentLife. Program ini juga memberikan penilaian mingguan pada para mahasiswa. Mereka dapat memberikan informasi terbaru tentang suasana hati dan tingkat stres.

Data kemudian dibandingkan dengan kebiasaan pencarian online masyarakat umum. dan menemukan bahwa siswa melaporkan tingkat stres lebih tinggi ketika orang mencari tentang “kelelahan covid”.

Para peneliti mengatakan, korelasi kuat antara istilah pencarian dan perilaku tertentu -seperti peningkatan penggunaan telepon- membantu mendefinisikan fenomena tersebut. Serta dapat menjelaskan bagaimana kelelahan akibat Covid-19 memengaruhi kesehatan mental.

“Ketertarikan pada kelelahan covid adalah alat yang unik untuk memahami bagaimana 'normal baru' dapat dikaitkan dengan hasil kesehatan mental yang buruk,” ujar Dante Mack, penulis utama penelitian itu.

Campbell dan Jeremy Huckins, seorang dosen ilmu psikologi dan otak, mengatakan mereka melihat awal dari perubahan perilaku pada musim semi lalu. Mereka mendapatkan temuan awal -kemudian diterbitkan pada Juni 2020- yang menunjukkan bahwa siswa lebih banyak duduk dan mengunjungi lebih sedikit tempat ketika pandemi terjadi. Ini tentu karena mereka harus mengikuti anjuran di "rumah saja" yang diterapkan pemerintah. Nah sejak saat itu, tingkat kecemasan dan depresi melonjak.

"Sebelum pandemi terjadi, beberapa mahasiswa pasti mengalami depresi atau cemas. Tapi rata-rata mahasiswa tidak mendapat nilai tinggi pada salah satu metrik ini," kata Huckins. Menurut Huckins, kondisi saat ini berbeda. Para peneliti melihat para mahasiswa mengalami perubahan besar dalam kesehatan mental dan perilaku dampak dari covid. "Kami tak pernah melihat perubahan yang seperti itu sebelumnya," imbuh Huckins.

Penelitian ini dilakukan setelah tahun yang sulit di kampus Dartmouth. Empat siswa Dartmouth meninggal selama tahun ajaran ini. Kasus itu mengganggu reputasi kampus yang memiliki lebih dari 4.400 mahasiswa tersebut. Apalagi di antara mahasiswa dan orang tua menuding kasus itu terjadi karena sumber daya kesehatan mental sekolah yang tidak memadai.(*)

Related Articles
Current Issues
CDC: Warga AS di Bawah 30 Tahun Paling Banyak Cemas dan Depresi Selama Pandemi

Current Issues
30 Persen Penyintas Covid Mungkin Mengalami PTSD

Current Issues
Penelitian: Sekolah Virtual Mungkin Bisa Merusak Kesehatan Mental Anak