Current Issues

Vaksin Johnson & Johnson Diklaim Bisa Lindungi dari Varian Baru Covid-19

Dwiwa

Posted on June 10th 2021

Ada kabar baik lagi dari vaksin Covid-19. Kali ini giliran vaksin satu dosis Covid-19 buatan Johnson & Johnson. Pasalnya, sebuah studi baru menunjukkan jika vaksin ini memicu beberapa respon kekebalan yang memungkinkannya menjadi sangat protektif di Amerika Serikat, Afrika Selatan, dan Brasil, di mana beberapa varian virus berbeda menyebar luas.

Dilansir dari USA Today, peneliti di Universitas Harvard yang mengembangkan vaksin satu dosis menemukan orang-orang dari berbagai negara yang menerima suntikan tersebut, terlindungi dari keparahan saat terkena Covid-19 apapun jenis virusnya. 

Dr Ban Barouch, direktur Pusat Penelitian Virologi dan Vaksin di Beth Israel Deaconess Medical Center di Boston mengatakan dia puas melihat vaksin itu efektif di dunia nyata seperti pada penelitian yang dilakukan pada hewan uji.

“Ini meningkatkan optimisme bahwa vaksin, khususnya yang ini, memiliki cakupan yang baik terhadap varian yang ada saat ini. Ini menambah alasan mengapa semua orang di negara ini dan dunia harus mendapat vaksin sesegera mungkin,” ujar Barouch yang memimpin penelitian. 

Dari 20 pasien yang diteliti, semuanya menghasilkan antibodi penetralisir, yang diyakini penting untuk respon imun yang efektif terhadap virus. Selain itu, mereka juga menghasilkan jenis antibodi lain serta sel T, yang sering disebut tentara dalam sistem kekebalan.

Barouch mengatakan orang-orang di Brasil dan Afrika Selatan, di mana varian berbahaya telah beredar, menghasilkan antibodi penawar lima kali lebih sedikit daripada mereka yang menghadapi virus SARS-Cov-2 asli.

Meski begitu, mereka membuat antibodi jenis lain yang hampir sama banyaknya serta sel T yang juga banyak. Itulah sebabnya mereka hampir sama terlindunginya dari penyakit seperti yang terpapar virus aslinya.

Sebelumnya, pada uji coba fase 3, vaksin J&J melindungi dari Covid-19 yang parah/kritis pada 86 persen penerima di Amerika Serikat, 88 persen di Brasil, dan 82 persen di Afrika Selatan. Barouch menyebut jika hasil studi baru menjelaskan mengapa vaksin satu dosis ini bekerja baik terhadap varian yang ada. Mereka berpikir ini dikarenakan vaksin menghasilkan banyak respon imun berbeda.

Beberapa vaksin lain yang sudah mendapatkan izin penggunaan darurat telah terbukti kurang efektif di Afrika Selatan. Vaksin Pfizer-BioNTech dan Moderna telah terbukti menghasilkan lebih sedikit antibodi penetralisir di dalam laboratorium.

Di antara 800 orang yang diteliti oleh Pfizer-BioNTech di Afrika Selatan, hanya sembilan kasus Covid-19 yang diidentifikasi. Menurut perusahaan tersebut, semua kasus positif merupakan orang yang menerima plasebo bukan vaksin aktif.

Sebuah penelitian baru-baru ini di Qatar, di mana varian yang awalnya terlihat di Inggris dan Afrika Selatan hadir, vaksin Pfizer-BioNTech terlihat hampir 90 persen efektif melawan varian yang pertama terlihat di Inggris yang kini disebut dengan varian Alpha. Sementara untuk varian yang pertama kali dilihat di Afrika Selatan atau varian Beta, menunjukkan keefektifan 75 persen. (*)

 

Related Articles
Current Issues
Apakah Vaksin Asal Tiongkok Efektif Lawan Varian Delta?

Current Issues
Varian Delta Jadi Ganjalan untuk Hentikan Covid-19 dengan Cepat

Current Issues
WHO Setujui Vaksin Sinovac Biotech untuk Penggunaan Darurat Lawan Covid-19