Sport

Sinyal Menakutkan dari Timnas Jerman, si Raja Turnamen

Mainmain.id

Posted on June 9th 2021

Ingat ya, Jerman masih ada. Jerman belum habis. L'Equipe menuliskan pernyataan itu usai Jerman menaklukan Latvia 7-1 dalam partai gladi bersih jelang Euro 2020 di Allianz Stadium, Munich.

Dibandingkan kejuaraan antarnegara Eropa sebelumnya, Jerman kali ini praktis sepi dari publikasi. Berita seputar tim nasional Jerman hanya bisa dimonitor dari media negeri itu sendiri. Media massa Inggris, Italia, Prancis, dan Spanyol praktis tidak memberikan porsi berita sama sekali kepada negara yang di masa jayanya disebut-sebut sebagai king of tournament atau si raja turnamen.

Jerman sepertinya hanya dianggap sebelah mata. Entah disengaja atau kebetulan, Jerman akhirnya ''memaksa'' media massa di lima negara utama sepak bola di atas untuk menulis soal partai uji coba melawan negeri pecahan Uni Soviet, Latvia.

Skor mencolok menjadi alasan utamanya. Pembantaian atas Latvia dianggap sebagai early warning, baik kepada juara bertahan Portugal dan juara dunia Prancis.

Joachim Loew seperti bekerja dalam senyap. Kali ini Jerman praktis tanpa gembar-gembor. Tak ada yang heboh. Kemenangan besar atas Latvia itu hanya berarti khusus untuk Manuel Neuer. Kiper asal klub Bayern Munich itu mencapai 100 caps untuk negaranya.

''Danke. Danke,'' sebut Neuer ketika diberi selamat rekan-rekannya karena sudah 100 kali bermain di bawah balutan seragam dan bendera negaranya. Setelah berterima kasih, Neuer meminta maaf karena gagal menahan tendangan pemain Latvia yang berujung satu gol balasan. Ia kiper pertama Jerman yang bisa bermain dalam 100 caps lho.

Pelatih Joachim Loew yang menyerahkan estafet kepelatihan kepada Hans Dieter Flick atau Hansi Flick pasca-Eruro 2020 enggan berkomentar. Ia malahan lebih suka tenggelam dalam hobi lamanya yang doyan memasukkan jari telunjuk ke lubang hidung atau ngupil.

Lawan sekelas Latvia memang tak sebanding dengan superioritas Jerman. Negeri di tepian Laut Baltik itu bukanlawan lawan sepadan Jerman. Namun, kekalahan mencolok hingga tujuh gol itu menunjukkan superioritas Jerman. Jerman seperti mengirim sinyal khusus terutama kepada Portugal dan Prancis agar tidak meremehkan mereka.

Sinyal khusus itu bahkan sudah dikirimkan lewat aksi-aksi kaki jenjang Thomas Muller, Kai Havertz, dan Ilkay Gundogan di 90 detik pertama.

Havertz bahkan dengan sempurna memainkan perannya sebagai playmaker Der Panzer, julukan tim nasional Jerman. Ia memainkan kombinasi satu-dua yang sempurna dengan Robin Gosens yang mencetak gol dalam pertandingan internasional pertamanya pada menit ke-19. Muller seperti menunjukkan ke siapa pun bahwa ia sudah kembali ke timnas Jerman setelah absen lebih dari dua tahun.

Muller dkk menjadikan gawang Latvia yang dijaga Roberts Osols seperti mainan. Kerja sama yang bagus praktis selalu berujung dengan gol dan membuat para pemain Latvia putus asa.

Serge Gnabry, gelandang serang asal klub Bayern Munich juga ikut andil. Ia ikut mencetak gol jelang turun minum setelah memanfaatkan umpan silang Mats Hummels yang luar biasa sebelum striker   Timo Werner ikut-ikutan menyumbangkan gol.

Latvia mencetak gol hiburan melalui tendangan kaki kiri sengit Aleksejs Saveljevs sebelum Leroy Sane mengembalikan keunggulan enam gol tuan rumah dengan sentuhan sederhana.

Jerman memulai pertandingan grup Euro 2020 melawan juara dunia Prancis di Munich pada 15 Juni. Mereka juga akan menghadapi juara Eropa Portugal dan Hongaria di Grup F. Grup ini disebut-sebut sebagai grup maut. (Max Wangge/Harian Disway)

Tulisan ini sebelumnya telah tayang di Harian Disway (partner Mainmain.id)

Tulisan ini sebelumnya telah tayang di Harian Disway (partner Mainmain.id)

Related Articles
Sport
EURO 2020: Flatshare, Kiat Jerman setelah Dipandang Sebelah Mata

Sport
EURO: Ayam Jantan Prancis Ngebet Juara

Sport
EURO 2020: Juara 1992, Timnas Denmark Kini Mati Gaya