Sport

Setelah 100 Tahun, Strategi Catenaccio Italia Sudah Tak Laku

Mainmain.id

Posted on June 9th 2021

Italia tidak muluk-muluk hadir di Euro 2020. Tim asuhan Roberto Mancini ini ingin bertahan sampai partai semifinal. Kalau sudah di empat besar itu terserah. Menang atau kalah bisa saja dianggap bonus.

Kenapa tidak menargetkan juara. Negeri Spaghetti ini rupanya tidak pede. Setelah Francesco Totti pensiun, Italia belum lagi melahirkan pemain berkelas megabintang.

Tetapi, Italia tidak minder. Di bawah arahan Mancini, Italia kini menemukan kembali kebanggaan negaranya sebagai salah satu negara yang pantas diperhitungkan.

Ingat, Azzurri tidak terkalahkan sejak September 2018. Italia masuk ke Euro 2020 dengan delapan kemenangan berturut-turut, setelah lolos dengan 10 kemenangan.

“Para pemain dengan cepat menyadari jika serius, mereka juga akan diperhitungkan lawan-lawannya. Saya tidak peduli. Tugas saya adalah mengantarkan tim ini melaju sejauh mungkin,” kata sang pelatih kepada serial dokumenter RAI Sport Sogno Azzurro, Selasa (8/6).

Mancini juga mengatakan, ia membangun timnya sekarang dari serpihan hinaan sosial setelah Italia tidak mendapatkan tiket untuk tampil di Piala Dunia 2018 di Rusia. ''Saya hanya ingin membawa orang-orang kembali ke Nazionale --sebutan lain untuk tim nasional Italia. Saya mencoba memberikan perubahan mental kepada pemain saya untuk melupakan cercaan sosial pada 2018. Toh itu bukan tanggung jawabnya. Sebab, sebagian besar mereka tidak terlibat di situ,'' papar Mancini, eks striker Sampdoria.

Mancini kini sudah bisa tersenyum lega. Ia senang karena banyak pemainnya yang memiliki karakter yang kuat. Karakter yang kuat itu tidak hanya jadi milik Leonardo Bonucci dan Giorgio Chiellini, tetapi juga ada dalam diri Jorginho dan Nicolò Barella, misalnya. Jika mereka tahu apa yang harus dilakukan, lebih mudah untuk tetap berhubungan dengan mereka,'' sebut bekas pelatih klub Inggris Manchester City ini.

Mancini mengambil alih setelah Giampiero Ventura gagal lolos ke Piala Dunia 2018. "Saya menerima pekerjaan itu karena hidup saya selalu menjadi tantangan. Saya juga merasakan dorongan untuk menebus fakta bahwa, terlepas dari kualitas yang saya miliki sebagai pemain, saya tidak pernah memenangkan apa pun bersama Azzurri. Saya bermain 20 tahun di level atas, sehingga memungkinkan saya untuk menyampaikan pengalaman saya kepada para pemain," katanya.

Aturan pertama, kata Mancini, adalah mencetak gol dan tidak kebobolan, tetapi elemen fundamentalnya adalah menciptakan semangat tim. Itulah mengapa semuanya berjalan dengan baik sejauh ini,'' bebernya.

Mancini meminta kepada para pemainnya agar bertarung habis-habisan di kejuaraan antarnegara Eropa dengan siklus empat tahunan ini.

Mancini juga memperkenalkan gaya sepak bola yang lebih menyerang, yang langsung membekas di laga persahabatan melawan Belanda.

"Saya pikir itu memuaskan bagi semua orang untuk mendengar diri kami dipuji oleh Belanda untuk gaya sepak bola kami. Kami mendominasi Belanda di kandang mereka sendiri, terutama setelah 100 tahun Italia disebut-sebut sebagai tim super-defensif (pertahanan grendel) atau catenaccio. Kami harus memberikan segalanya untuk membawa Italia kembali ke puncak dunia,'' ujar Mancini.(Max Wangge/Harian Disway)

Tulisan ini sebelumnya telah tayang di Harian Disway (partner Mainmain.id)

Tulisan ini sebelumnya telah tayang di Harian Disway (partner Mainmain.id)

Related Articles
Sport
Alessandro Florenzi Kembali ke Timnas Italia karena Roberto Mancini

Sport
Marco Verratti Masih Andalan Roberto Mancini di Skuad Italia

Sport
EURO 2020: Dibuka Atraksi Teatrikal Mancini dan Gunes