Lifestyle

Mengenal Tonic Immobility, Kondisi yang Seringkali Dialami Korban Pelecehan

Salah satu alasan korban pelecehan tidak boleh dihakimi.

Kezia Kevina Harmoko

Posted on June 8th 2021

(Ilustrasi: Freepik)

Kalau kita mendengar cerita seseorang baru dilecehkan, gak jarang reaksi korban adalah membeku dan terdiam saat itu terjadi. Nggak bisa melakukan apa-apa, tiba-tiba kaku aja. Terus, kemungkinan respons yang didapat korban justru bernada menyalahkan.

Misalnya, “Kamu sih gak melawan,” atau bisa juga, “Ya, tinggal lari aja dong! Kok malah diam. Itu mah artinya mau!”

Sadar atau nggak, kalimat bernada victim blaming itu benar-benar menyakiti korban lho. Kalau mereka bisa, tentunya mereka bakal melawan atau lari. Sayangnya, terkadang respons tubuh kita sendiri yang tidak memungkinkan untuk bereaksi sebagaimana seharusnya.

Apa itu tonic immobility?

Abrams et. al. (2009) menyebut bahwa tonic immobility (TI) adalah ketidakmampuan bergerak sebagai respons terhadap situasi yang melibatkan ketakutan yang intens. Kondisi ini juga terjadi di hewan, misalnya tindakan pura-pura mati pas ada predator. Kalau buat manusia, TI umum dirasakan saat pelecehan seksual.

Dilansir dari Psychology Today, TI juga bisa berarti kondisi tertahannya keinginan untuk melakukan sesuatu. Entah itu berbicara, bergerak, kabur, pokoknya tiba-tiba membeku dan gak bisa melakukan sesuatu walaupun sudah mencoba.

Kenapa tonic immobility bisa terjadi?

Volchan, et al. (2011) menyatakan bahwa tonic immobility bisa terjadi ketika tubuh menganggap lari atau melawan justru meningkatkan risiko kita terluka. Seperti TI yang terjadi di hewan, berpura-pura mati alias diam lebih mungkin bikin selamat daripada lari dan dikejar. Nggak ada pilihan yang baik untuk dilakukan. Itu yang dipahami tubuh.

Namun, tidak semua korban pelecehan mengalami tonic immobility. Ada yang bisa bereaksi fight or flight alias melawan atau lari. Dilansir dari Psychology Today, korban pelecehan tentunya nggak siap dengan apa yang akan terjadi, berbeda dengan tentara yang kalau berhadapan dengan ancaman bisa bereaksi karena ditempa latihan.

Otak gak punya koleksi kebiasaan yang otomatis diperintahkan ketika mengalami pelecehan, mangkanya korban cenderung tidak bisa melakukan apa-apa. Korban tentunya tidak mengharapkan dan tidak menyangka apa yang terjadi.

Nah, itu dia sedikit tentang tonic immobility. Kalau kalian mendengar cerita pengalaman pelecehan, jangan pernah hakimi korban karena tidak mampu bereaksi karena itu memang reaksi normal. Dengarkan dan dukung ceritanya, arahkan untuk konsultasi ke tenaga medis kalau memang diperlukan.(*)

Related Articles
Lifestyle
3 Tips Membangun Rasa Percaya pada Orang Lain dan Mengikis Trust Issue

Lifestyle
5 Langkah Membebaskan Diri dari Kemarahan dan Dendam karena Ketidakadilan

Lifestyle
Sedih Karena Kepergian Idola? Wajar kok! Ini Alasan dan Tips Menghadapinya