Sport

Belgia, Jangan Macan Kertas Lagi di Euro 2020

Mainmain.id

Posted on June 8th 2021

KURANG apa sih komposisi tim nasional Belgia dalam satu dasawarsa terakhir? Jawabannya sederhana. Belgia kurang beruntung. Belgia yang juga karib dengan julukan Setan Merah memiliki semua persyaratan untuk menjadi juara. Namun, fakta di lapangan menunjukkan, Belgia hanyalah macan kertas.

Padahal, sepuluh tahun lalu, semua orang mengatakan, Belgia adalah tim nasional impian. Negeri tetangga Belanda itu punya segala-galanya. Tetapi, main di mana saja, Belgia tak kunjung juara.

Kini harapan itu sudah padam. Publik Belgia malah sebal sendiri dengan tim nasionalnya. The Red Devils tak lebih dari sekumpulan pemain bintang yang membawa ego sendiri-sendiri ke lapangan. Apa boleh buat. Predikat negatif seperti itu harus diterima karena Belgia tak mampu memberikan kebanggaan nasional untuk negaranya.

Belgia juga melangkah dengan gagah ke panggung Euro 2020. Namun, jangan tanyakan soal ekspektasi publik terhadap tim nasionalnya. Kapten tim Eden Hazard yang digadang-gadang bisa mengangkat pamor negerinya sudah tak bisa diharapkan. Hazard kini dianggap besar pasak daripada tiang.

Sejak meninggalkan Chelsea dan bergabung dengan Real Madrid, Hazard juga makin menjadi-jadi jebloknya. Cedera dan cedera terus. Akibatnya, Hazard jadi minim gol. Ia miskin sumbangsih.

Begitu ''miskinnya'' sumbangsih itu, sampai-sampai rekannya, Yannick Carrascao, tega melontarkan ejekan jenaka saat Hazard sibuk meladeni wawancara televisi lokal.

Yannick memang layak mengejek rekannya itu. Sebab, Hazard yang memiliki talenta istimewa memang miskin komitmen terhadap profesinya.

Setelah berulang-ulang cedera di Real Madrid, satu per satu misteri Hazard akhirnya ketahuan. Yang paling mencolok adalah etos kerjanya sebagai pemain profesional sangat buruk. Hazard sering kali ogah-ogahan berlatih.

Boleh jadi adegan mengganggu wawancara Hazard itu dilakukan dengan sengaja agar Hazard cepat-cepat mengakhiri sesi wawancara dan menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya menghadapi Euro 2020.

Mayoritas pemain Belgia memang peduli dengan Hazard. Sekalipun memperkuat klub yang berbeda, mereka tentu ingin mendengarkan kiprah kompatriotnya yang moncer di klub lain.

Mengapa? Sebab, Hazard adalah kebanggaan Belgia. Hazard adalah kapten tim. Hazard adalah pemimpin. Teman-temannya sengaja mendaulat Hazard sebagai kapten tim nasional agar winger kaca Real Madrid tersebut bisa membuang jauh-jauh kultur malas berlatih karena ia seorang pemimpin.

Bersama Yannick dan kiper Thibaut Courtois, Hazard merupakan bagian dari generasi emas bintang Belgia yang sudah menua. Membawa pulang trofi Euro ke Antwerpen sebagai ibu kota negeri itu tentu adalah tujuan utamanya. Malu rasanya pelatih Roberto Martinez yang punya skuad top tapi selalu ''ejakulasi dini'' saat menghadapi turnamen besar, baik Euro maupun Piala Dunia. Padahal, label mereka adalah tim unggulan. Peringkat mereka di FIFA juga tidak main-main, peringkat keempat.

Carrasco sengaja ''menggugat'' harmonisasi tim di kamp Belgia dengan membuat satu ejekan terakhir terhadap Hazard di depan kamera TV.

Hazard yang mantan jimat Chelsea itu melihat Carrasco datang sambil duduk di samping beberapa pohon untuk wawancara, tiba-tiba pemain berusia 27 tahun itu merebut mik dan  bernyanyi di depan Hazard, ''Campeones, campeones, ole, ole, ole Atletico campeon,'' kata Yannick Carrasco yang membuat rekan-rekannya yang lain tertawa.

Hazard akan menjadi kapten Belgia di turnamen musim panas ini. Tim itu berada di grup yang lumayan enteng di grup B. 

Setan Merah akan memulai pertandingan melawan Rusia pada 12 Juni, sebelum menghadapi Denmark dan Finlandia.

Saudara laki-laki Hazard, Thorgan, mencetak gol pada Kamis, ketika Belgia berjuang untuk bermain imbang 1-1 dengan Yunani di laga pertama dari dua pertandingan pemanasan. Hasil itu membuat Martinez menyalahkan musim ''korona'' yang membuat banyak pemainnya cedera di berbagai kompetisi liga Eropa.

Setan Merah menghadapi Kroasia pada Minggu malam atau Senin dini hari WIB dalam pertandingan persahabatan terakhir sebelum Euro. Striker Romelu Lukaku membawa negaranya unggul 1-0 atas Kroasia. Itulah gol ke-60 Romelu Lukaku hanya dalam 93 pertandingan timnas. Bandingkan dengan Lionel Messi yang butuh 121 pertandingan untuk mencetak 60 gol dan Cristiano Ronaldo yang membutuhkan 129 pertandingan sebelum mencetak 60 gol itu. Dan, ingat, Lukaku masih muda. Seharusnya ia bisa membawa negaranya juara Euro 2020. Bisakah? Entahlah. (Max Wangge/Harian Disway)

Tulisan ini sebelumnya telah tayang di Harian Disway (partner Mainmain.id)

Related Articles
Sport
EURO 2020: Dries Mertens Dipuji Raja Filip karena Melampaui Maradona

Sport
EURO 2020: Ketemu Rusia, Belgia Kejar Peringkat Pertama

Sport
Euro 2020, Siapa Tak Keder Berhadapan dengan Prancis