Interest

Hewan Pendukung Emosional Bisa Beri Dukungan Positif Bagi Emosi Manusia

Dwiwa

Posted on June 7th 2021

 

Persahabatan antara manusia dan hewan telah lama diketahui memiliki manfaat positif, namun sampai saat ini masih belum banyak penelitian yang dilakukan. Namun soal manfaat hewan pendukung emosional, banyak penelitian yang menunjukkan hasil positif. 

Dilansir dari Popular Science, sebuah studi ilmiah peer-review pertama yang diterbitkan, menunjukkan jika hewan pendukung emosional benar-bernar bermanfaat bagi mereka yang memiliki penyakit mental serius seperti kecemasan kronis atau depresi.

Studi yang dilakukan oleh peneliti di Universitas Toledo menemukan bahwa satu tahun setelah mengadopsi, para peserta yang terlibat dalam uji coba mengalami penurunan signifikan dalam depresi, kecemasan, dan kesepian.

Tidak seperti hewan penolong, hewan pendukung emosional tidak memerlukan pelatihan atau seritikasi formal. Tetapi mereka diakui oleh profesional kesehatan sebagai terapi yang diperlukan untuk orang dengan kondisi tertentu seperti kecemasan, depresi, kecanduan, yang termasuk cacat menurut standar Fair Housing Act.

“Studi ini menunjukkan ada tempat bagi hewan pendukung emosional sebagai mitra bagi kesehatan dan kesejahteraan kita,” ujar Janet Hoy-Gerlach, PhD, LISW-S, seorang profesor pekerjaan sosial di Universitas Toledo dan peneliti utama studi tersebut.

Studi ini merekrut peserta melalui Program  Hope and Recovery Pet (HARP), sebuah inisiatif yang menempatkan hewan liar di rumah sebagai hewan pendukung emosional. Program ini dikembangkan pada 2010 oleh Hoy-Gerlach yang bekerja sama dengan Humane Society dan ProMedica, sebuah sistem perawatan kesehatan besar.

“Bagian terbaik dari program ini ada dua sekaligus. Program ini bermanfaat bagi kesehatan masyarakat dan memberikan perlindungan bagi hewan melalui rumah yang penuh kasih dan baik,” ujar Hoy-Gerlach.

Semua peserta dalam studi ini dianggap berpenghasilan rendah, memiliki penyakit mental kronis dan hidup sendiri. Humane Society memeriksa kandidat dan melakukan kunjungan rumah sebelum mencocokkan mereka dengan hewan untuk memastikan keamanan hewan peliharaan.

Sebelum peserta mengadopsi kucing atau anjing pendukung emosional, mereka melakukan tes untuk menilai kecemasan, depresi, dan kesepian mereka. Para peneliti juga mengumpulkan sampel air liur untuk mengukur tiga biomarker stres dan ikatan, oksitosin, kortisol, dan alpha-amilase.

Pada bulan pertama, ketiga, keenam, kesembilan, dan kedua belas, peserta selalu dilakukan pengujian. Pada bulan kedua belas, semua peserta menjalani tes psikologi yang sama lagi untuk menilai kesejahteraan mental mereka.

Studi ini tidak hanya menemukan bahwa peserta memiliki tingkat kecemasan dan depresi yang jauh lebih rendah satu tahun setelah adopsi, tetapi mereka juga tidak terlalu kesepian. Tetapi untuk indikator air liur, tidak ada perubahan signifikan secara statistik.

Meski studi ini menunjukkan hasil yang baik, tetapi tidak ada kelompok kontrol dan hanya dilakukan pada sekelompok kecil orang. Karena itu, peneliti tidak dapat menggeneralisasi hasil studi ini pada kelompok masyarakat yang lebih luas.

Bagi yang di rumah memiliki hewan peliharaan, kalian juga merasa jadi lebih rileks dan tidak kesepian juga nggak sih? (*)

 

Related Articles
Current Issues
Peneliti: Tingkat Kecemasan dan Depresi di Kalangan Mahasiswa Terus Melonjak

Current Issues
CDC: Warga AS di Bawah 30 Tahun Paling Banyak Cemas dan Depresi Selama Pandemi

Interest
Solastalgia, Gangguan Mental Karena Perubahan Iklim. Yuk Kenali Cirinya!